AKOE

AkoeDulu, cita-citaku dua: jadi dokter hewan dan sastrawan. Semasa kecil saya pecinta binatang, juga punya perpustakaan kecil (koleksi bukuku didominasi komik wayang, dari yang tipis hingga tebal berjilid-jilid seperti Mahabharata). Dokter hewan kuraih pada 1981 dari Fak. Kedokteran Hewan UGM, tetapi harapanku sebagai sastrawan kandas. Meski sejak 1973 aku gabung dengan Persada Studi Klub, arena anak-anak muda yang menjajal menjadi penyair asuhan Umbu Landu Paranggi. Meski sempat mengelana membaca puisi, main teater (monolog) dari satu kota ke kota lain, bersama Emha Ainun Najib, almarhum Linus Suryadi, Halim HD, Korri Layun Rampan dan lain-lain, namun kumpulan puisi-puisiku sampai kini tetap tersimpan di laci lemari tuaku.

Semasa mahasiswa, selain menjajal jadi penyair (sempat jadi editor kumpulan puisi penyair muda Yogyakarta, “Bulaksumur-Malioboro”, 1975), juga jadi aktivis pers kampus. Kegiatan terakhir ini mengatarkanku jadi redaktur budaya, lalu redaktur pelaksana dan akhirnya Pemimpin Redaksi Koran Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, “Gelora Mahasiswa”. Ditangankulah (bersama Saur Hutabarat, Pemimpin Umumnya) koran ini dibredel oleh Rektor UGM sendiri (almarhum Prof.DR.Sukadji R), tentu karena tekanan penguasa Orde Baru saat itu, 1979).

Sempat tujuh tahun praktek sebagai dokter hewan, tetapi keinginan untuk menjadi wartawan malah tak terbendung. Pada 1988 pindah ke Jakarta jadi redaktur majalah mingguan “Warta Ekonomi”. Lalu ditugasi jadi redaktur pelaksana majalah “Mobil-Motor” sesudah pada 1989 majalah itu dibeli pemilik “Warta Ekonomi”. Di majalah otomotif itulah aku berkesempatan menjelajah Jerman dan Swiss. So, sesudah nyeniman, mengobati hewan, belajar ekonomi dan dunia permobilan melalui kewartawanan, kemudian balik ke Yogya, 1992.

Ada apa di Yogya? Ashadi Siregar, Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan danJadi Wong Jogja Penerbitan Yogya (LP3Y), mengajak saya gabung di Yogya. “Apa yang kamu cari di Jakarta, Met?” sindirnya. Aku, yang waktu itu lagi berada di Saskatchewan, Kanada, nemani istri ngambil S2 di sana, berembug dengan istri dan anakku. Mereka memang enggan hidup di Jakarta, dan lebih memilih Yogya. Ternyata sejak 1992 saya krasan di LP3Y, serta Yogya tentu saja. Meski saban hari nglaju Yogya-Wates, sekitar 45 km karena saya memilih tinggal di desa, alhamdulillah saya enjoy saja.

Page 1 of 4 | Next page