TRAH

Yangti, generasi 1 kumpul dg cucu2, generasi 3

Yangti, generasi 1 kumpul dg cucu2, generasi 3

Selain kata maaf, kata lain yg ramai disebut di masa Lebaran adalah trah. Di sekitar Yogya dan Solo, sejak Lebaran hari kedua, pertemuan halal bihalal terus bergulir. Mereka menyebutnya pertemuan trah anu. Anu di sini biasanya diambil dari nama kepala keluarga generasi pertama. Dan laki-laki. Bias gender? Barangkali.
Saya juga ikut dalam pusaran trah ini. Karena istri saya berasal dari keluarga besar. Ia bersepuluh saudara, sedang saya sorangan-wae. Ayah mertua saya (almarhum) bernama Soleh Soedimin Sastrohandoyo. Maka diambillah Sastrohandoyo sebagai nama trah. Nama ini disepakati oleh almarhum ayah mertua, sebelum beliau wafat. Artinya sebelum meninggal anak-anaknya (generasi pertama) dikumpulkan lalu bersepakat membentuk trah di Salatiga: Sastrohandayan.
Apakah trah ini berbau feodalisme? Kalau merujuk kepada beberapa catatan: “Feodalisme adalah struktur pendelegasian kekuasaan sosiopolitik yang dijalankan kalangan bangsawan/monarki untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaimnya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra. Dalam pengertian yang asli, struktur ini disematkan oleh sejarawan pada sistem politik di Eropa pada Abad Pertengahan, yang menempatkan kalangan kesatria dan kelas bangsawan lainnya (vassal) sebagai penguasa kawasan atau hak tertentu (disebut fief atau, dalam bahasa Latin, feodum) yang ditunjuk oleh monarki (biasanya raja atau lord).”(Wikipedia) Maka trah di sini tak berkaitan dengan kekuasaan. Apalagi tak terbersit niatan berpolitik.
Apa itu trah? Trah berasal dari bahasa Jawa modern yang berarti garis silsilah / keturunan (di kamus bhs Jawa kuna tidak ada entry “trah”). Dalam arti luas, trah adalah organisasi sosial Jawa berdasarkan hubungan genealogi, dan berorientasi pada moyang tertentu. Misalnya, trah Sastrohandayan, adalah keturunan Sastrohandoyo.
Tujuan trah secara umum adalah memelihara semangat paseduluran / persaudaraan berdasarkan hubungan famili.  Hal seperti ini masih dianggap penting bagi orang Jawa, sebagaimana unen-unen dalam bahasa Jawa: ben ora kepaten obor (obor tidak padam, artinya masih bisa merunut famili-familinya), tuna satak bathi sanak (rugi uang tapi dapat untung sanak / famili), ngumpulake balung pisah (mengumpulkan tulang-tulang yang berserakan, artinya mengumpulkan sanak famili yang tersebar ke mana-mana). Adimust
Memang istilah trah ini digulirkan mula-mula ada pada awal abad-20, didirikan oleh keturunan seorang bangsawan dari Kraton Yogyakarta. Jadi trah terasa bau priyayi. “Kelompok priyayi merupakan suatu elit kelompok budaya, yang basis kekuasaan terakhir terletak pada pengawasan mereka atas pusat sumber-sumber simbolis masyarakat yakni agama, filsafat, seni, dan penulisan. Kelompok ini masih dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu  priyayi berdasarkan darah atau keturunan (raja serta para bendara) dan priyayi berdasarkan pada pekerjaan atau pendidikannya yang sesungguhnya tetap saja dianggap sebagai kawula atau rakyat. Kelompok pertama juga sering disebut sebagai priyayi tradisional, sedangkan yang kedua disebut priyayi modern.” Di Pekajangan, desa tempat saya menikmati masa kecil di Pekalongan, desa pertama di Indonesia yg lurahnya bertitel Drs (lulusan sosiatri, Fak.Sospol UGM), sekitar 1970an, sudah ada trah. Tapi namanya Bani (bahasa Arab, maknanya kekerabatan). Upaya menjaga. Keutuhan kekerabatan priyayi modern yg berbasis Islam? Desa ini memang basis Muhammadiyah di Pekalongan.
Apakah kami juga ingin disebut priyayi modern? Barangkali. Tetapi yg jelas kami, generasi pertama keluarga Sastrohandoyo, ingin selalu bisa berkumpul meski cuma, minimal, setahun sekali. Minimal? Ya, karena 1 kakak kami berada di Lampung dan 2 adik di Jakarta super sibuk, apalagi setelah ayah dan ibu mertua meninggal. Orangtua adalah cantolan kuat untuk bersilaturahmi. Karena itulah agar tetap punya alasan untuk saling bertemu, tatap muka di darat (kopi darat), trah disodorkan sebagai solusi. Memang di dunia virtual, baik melalui internet (sosial media seperti Facebook atau Twitter) setiap saat kami bertemu. “Ah, kayak di dunianya jin saja, virtual,” kata seorang teman.
Jadi, trah kami yg sudah berbiak mendekati angka 50 jiwa ini, yg sdh beberapa tahun ini tak bisa kumpul bersama di Salatiga, di rumah pusaka (rumah peninggalan orangtua yg ditinggali seorang kakak), memutuskan untuk bertemu (2011) di Yogya. Saya sekeluarga dan adik bungsu kami sekeluarga dan seorang keponakan yg tinggal di Yogya kali ini menjadi tuan rumah trah. Begitulah.


About this entry