LEBARAN JADI DUA

Sebagai penganut Mudikisme, yakni aliran orang-orang yg suka meluap di jalan menjelang Lebaran, maka perjalananmengikuti aliran ini di sepanjang kali, eh, jalan mbah Daendels, pada 2011 perlu saya sebar luaskan. Seperti pepatah: menepuk pemudik terpecik ke udik sendiri. Maksud saya, meski saya punya udik di Pekalongan, tetapi sudah tiga tahun ini saya biarkan sendiri, tidak saya kunjungi. Halah!
Terus kemana saya mudik? Ini pertanyaan yg cerdas, setidaknya karena saya bingung untuk menjawabnya. Juga kawatir kalau jawaban saya keliru, lalu diusir ke Singaparna oleh para ketua atas kemauan dewan pembina aliran ini. Ke Salatiga. Aha, itu jelas udiknya istri dan anak saya (kalau udik itu berdasarkan tempat lahir). Tapi istri dan anak saya dilahirkan di kota, meski hanya punya 1 kecamatan dan 9 desa di tahun 1970an. Tempat lahirnya hanya berjarak beberapa langkah ke jalan (protokol?) yg kanan kirinya dipenuhi toko-toko seperti layaknya kota. La udiknya mana?
(Udik lagi sibuk disungkemi Uduk. Uduk sebenarnya masih saudara Udik, kala dulu tinggal di Udik namanya Liwet, hanya karena biar tampil beda di kota Metro ia berubah jadi Uduk. Kan di sana gak ada nasi udik, adanya nasi uduk.)
Nah, untuk menggenapkan simbol keudikan ini, sholat Ied pun dilakukan di emperan mal. Persis kayak pedagang kaki lima yg harus main petak umpet dg satpol. Sholatnya pun ngumpet di sela-sela mobil dan sepeda motor yg lagi parkir. Sholat di tempat parkir? Ya, karena emperan malnya tempatnya cekak maka mbludak ke tempat parkir, termasuk ruang parkir kantor bank di sebelahnya. Apakah semua lapangan di kota ini sudah digusur mal-mal seperti di kota Metro? Ternyata tidak. Lapangan Pancasila, kalau di kota lain disebut Alun-alun, masih sehat wal afiat. Saya sekeluarga yg pagi hari itu berangkat ke emperan mal tempat sholat melewati lapangan (yg biasanya digunakan sholat Iedul Fitri dan Iedul Adha) ternyata sudah dipersiapkan untuk sholat (ada tenda + mimbarnya juga). Cuma, hanya untuk sholat orang-orang yg pro keputusan pemerintah: 1 Syawal 1432H jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011. Bagi yg memilih 1 Syawal hari Selasa 30 Agustus ya silakan ke emperan mal.
Sebenarnya kejadian seperti ini bukan kali ini saja. Seingat saya beberapa tahun yg lalu juga pernah pemerintah berselisih dengan warga (khususon Muhammadiyah) dalam menentukan sholat Ied. Lantas Lapangan Pancasila pun tak boleh digunakan dan warga “mengungsi” sholat di stadion olah raga Kridanggo. Lo apakah lapangan olahraga ini juga sudah tumbuh jadi mal? Alhamdulillah, belum.
“Selaku Panitia Sholat Ied ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak manajemen mal dan bank yg sudah mengijinkan tempat ini untuk sholat,” kata sambutan panitia sebelum memulai sholat. “Mal ini dulu lapangan tenis dan taman, bahkan ada kebun binatangnya. Di taman itulah warga mulai merintis sholat Ied. Begitu tiap tahun jamaahnya semakin banyak kemudian pindah ke Lapangan Pansila,” tutur istri saya yg waktu kecil dulu sering bermain ke tempat ini. Lain kupu lain belalang, lain dulu lain sekarang. Apakah taman tempat anda bermain waktu kecil dulu juga sudah berubah jadi mal?
Dan kenapa tidak sholat Ied di lapangan Kridanggo? Maaf lahir batin, belum sempat nanya ke panitianya.

Salatiga 1 Syawal 1432H


About this entry