DETIK MENUJU DETAK

Masih sekitar 400ribuan detik, kita sepakat memutar ulang derap jam. Jam yang takkan berulang sampai usia kita hilang. “Pertama dan Terakhir,” kau bilang. Muara kita memang bukan pantai utara tetapi delta di ujung hati kita.

Apakah sekarang kau jadi apa atau berubah jadi siapa, itu bukan menu utama. Yang tersaji nanti adalah guratan yg tersirat di wajah dan tubuh tua kita. Dan sesama bis tua dilarang saling mendahului, apalagi berlagak jawara.

Nah, kalau kau masih merasai hangat telapak kaki mudamu, yang bersijingkat bila matahari mulai menyengat, biarkan saja ia menemukan bayangmu. Meski tak ada lagi riang cemara. Rasanya kelemarin kita masih bicara, bercanda, bermain bola. Lalu masing2 pergi membawa mimpi dan kini kembali rindu menyemai.

Seperti menata ulang sebuah keluarga yg berpencar diurai masa, “Ngumpulke balung pisah,” kata orang Jawa, itulah makna kedatangan kita. Menjemput para guru sepuh atau bersimpuh doa agar beliau sembuh. Menyusuri lereng Merapi menautkan kembali lorong waktu masa lalu.

“Pak itu mengajariku apa, bu anu apa iya guruku?” tanya para memori yg mulai lisut. “Itu temanmu tapi bukan teman sekolah kita,” sergahmu. Lalu ada yg terus berseru, mengaduh ditubi sesalmu, lalu undur diri pergi. Ah, para penua penuai emosi juga.

Jam pun jadi menit. Menit pun melaju jadi detik. Detak pun kian berpacu menuju titik temu. Itukah terminal kita? Tapi Tuhan pasti tak mau didikte. Ia sudah punya rencana sendiri, dan kita saling berdebar, meraba apa jawabNya nanti.

Yogya, 20 Juli 2011 dinihari


About this entry