CEMARA GUNDAH DI HALAMAN SEKOLAH

Masih kuingat bayang-bayang cemara di halaman sekolah. Seakan bergerak pelan. Seperti harapan tumbuh ketika jam pelajaran melangkahi siang. Kau dengar bel riang ditabuh guru tua penanda kehidupan?

Bila boleh memilih, aku lebih suka lari pagi mengitari alun-alun tiga kali. Kenapa mesti mengukur lapangan basket berkeringat? Atau nonton kau beraksi melempar bola dengan satu kaki.

Tapi aku, terpaku di tepi. Jam merangkak menepi. Aku cuma saksi.

Kuakui kusuka kongkow di warung belakang. Apalagi bila pintu halaman telah dikekang. Aku punya alasan tak ikut pelajaran. Apalagi bila aljabar digelar alasanku semakin melebar.

Di selasar aku berdebar. Menunggu teguran para penyabar.

Tiba-tiba rinduku pada patahan ranting kian gencar. Puluhan tahun tak kukenali wajahmu. “Apakah benar kau duduk di bangku belakangku?” Aku ragu menatapmu. Wajah-wajah yang bergurat lelah. Dan cemara telah moksa jadi beton perkasa.

Adakah lapanganmu yang dulu kau kenali masih tak beringsut? Padahal usia tambah susut.

Tapi kini, aku dan kau menyatu di tepi siang. Jam merangkak bimbang. Aku kian terangsang.

Juni 2011

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry