ALBUM TUA

Kenalkan, aku albummu. Lalu kujabat tangannya, kuguncang kuat, aku tak bermimpi kan? Tidak justru aku yang meracau kenapa kutemukan dirimu menjelang kacau.

Empatpuluh tahun bayangmu lewat. Bahkan sekujurmu samar. Antara tahu dan rindu bergelut di suara getar. “Adakah itu derai tawamu?” Lalu kususun mosaik wajahmu melengkapi kisah arkaikku.

Di halaman pertama hanya ada foto abu-abu berkutat debu. Urat mukamu merekat rambut kepangmu. Berurai bagai ekor kuda menjuntai. Rima langkahmu menyusuri halaman dua.

Aku tersedak pada bagian penuang kata bijak, kau kehilangan jejak. “Barangkali kota-kota yang kusinggah menyimpan gundah,” kata sesalmu melangkah waktu.

Menjelang halaman akhir kau mulai menyorongkan wajah getir. Ribuan kenangan berdiri di titik nadir. Di lembar ini kau lupa meletakkan angka. Atau kau enggan menjadi penutup halaman?

Juni 2011

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry