MELEMPAR SETAN KOK KESETANAN

Istri usai melempar jumrah AqobahJum’at,21 Des 2008, Mina. Pada Jum’at, selama di Mina, menurut KBIH ‘Aisiyah, tak ada jum’atan. Shalat zuhur diqosor 2 rakaat. Begitu juga asyar dan isya. AlhamdulillAh sesudah 2 hari berturut (hari Tasrik) kami berhasil melempar jumrah (Ula/small, Wusto/middle dan Aqobah/Big –yang ditandai sorotan lampu hijau). Tata cara melempar jumrah sudah ada etikanya, seperti kata ustadz Fatur, lemparlah kerikil itu sambil berdzikir, jangan melempar sambil kesetanan. “Melempar setan kok malah kesetanan,” kata seorang teman.


Saya di depan jamarat AqobahPas hari tasrik kedua tatkala saya tengah melempar jumrah Ula, tiba-tiba merangsek di sebelah kiri saya seorang remaja (nampaknya dari negara lain) setiap melempar jumrah diakhiri teriakan Allahu Akbar sambil melompat (tinggi tubuhnya di bawah tinggi tembok pembatas). Setelah lemparan ketuju usai ia langsung teriak kesenangan: Berhasil! Terus ngeloyor keluar dari kerumunan para pelempar. Kok tidak berdoa? Aturannya kan setiap pelempar mendekat ke dinding pemisah tempelkan kedua tangan kita, konsentrasi, baru kemudian berdzikir sambil melempar kerikil 7 kali. Begitu usai pelan-pelan keluar dari kerumunan pelempar, cari tempat yang agak jauh dan berdoa menghadap Kiblat. (Kecuali sesudah melempar jumrah Aqobah tak ada doa. Itu tuntunan Nabi yang dipraktekan KBIH A’siyah).
Karena saya melihat ada juga rombongan dari Indonesia –berseragam hijau muda– yang berdoa setelah melempar di Aqobah). Ada juga sepasukan hijau muda yang lain bak mau menyerbu musuh, bergerak serentak merangsek ke dinding pembatas lantas melempar sesuai aba-aba komandannya, riuh (mungkin mendekati kesetanan). Usai melempar,berdoa sebentar, terus bergerak ke jumrah Wusto. Sebenarnya kita bisa dengan khikmad melempar kerikil di ketiga jumrah. Pak Sutarjo, ketua-rombongan 3, saya lihat khusuk berdzikir sambil melempar. Saat melempar jumrah yang dipilih KBIH ‘Aisyiyah tepat, bakda isya, karena peluang berkhidmat itu terbuka. Pada saat-saat itu di dinding pembatas paling hanya 2/3 penuh. Karena biasanya rombongan yang datang selalu mengambil posisi di 2/3 itu.

Pada Sabtu (hari tasrik 3) suasana Mina sdh mulai sepi, karena sebagian kloter (Jawa Tengah, misalnya) mengambil nafar awal (hanya melempar di hari tasrik 1 & 2). Nabi, menurut buku “Haji Umrah & Ziarah” yg diterbitkan Departemen Urusan Ke-Islaman Kerajaan Saudi Arabia, dlm hal ini memberi rukhshah (keringanan) kepada para sahabat untuk cepat berangkat meninggalkan Mina (setelah melempar jumrah di hari kedua) dengan syarat harus keluar dari batas Mina sebelum matahari terbenam. “Sedangkan beliau SAW. sendiri tidak memilih cepat berangkat. Tapi beliau menginap lagi di Mina hingga melempar jamrah pada 13 Dzulhijah, setelah tergelincirnya matahari. Setelah itu berangkat meninggalkan Mina sebelum shalat zuhur”. KBIH Aisiyah selalu merujuk pada apa yang dikerjakan Nabi SAW. Karena itu ketika ketua kloter 30 menyatakan bahwa pihak maktab menyediakan 3 mobil jemputan sesudah zuhur, dan karena melempar jamrah sesudah zuhur risikonya tinggi maka dianjurkan melempar jumrah sesudah subuh. Tapi ini ditentang oleh sebagian jamaaah, bahkan ada yang tetap bertekad untuk melempar sesudah zuhur denghan alasan lebih afdhal. Bahkan “Kalau panitia tidak menyediakan bis kami akan berjalan kaki ke maktab (Aziziyah),” kata mereka.

Akhirnya dicapai kata sepakat, para jamaah yang akan melempar jumrah harus membuat pernyataan bahwa kalau ada apa-apa risiko akan ditanggung sendiri. Inipun masih ada yang nggrundel, “Ini namanya tekanan,” kata seorang jamaah di luar dinding kemah. Pak Fatur kemudian menetralisir keadaan sembari menyatakan, ketika kita bertarwiyah sebenarnya kami juga bikin pernyataan, ya gak ada apa-apa. Jadi sekarang bikin pernyataan saja, tak apa-apa itu. (Jadi saya baru tahu ternyata dulu KBIH ‘Aisyiyah harus buat pernyataan karena acara tersebut di luar agenda Pemerintah RI, jadi bila ada risiko ya ditanggung ‘Aisyiyah. Syukur aman). Namun, untuk pelemparan jamarah terakhir ini istri saya demam dan frekuensi batuknya meningkat, saya juga mulai ngikil batuk, karena area tempat tidur paling pinggir sehingga angin dingin Mina mudah menerobos. Lalu saya & istri meminta tolong dan mewakilkan pelemparan ini kepada pak Sutarjo. Sementara ka-ru saya, pak Hoddin, sudah dititipi 4 ibu-ibu (termasuk istrinya).

Regu 4 di depan maktab AziziyahKarena saya & istri, juga pak Pujo tidak ikut melempar jumrah, kami punya kesempatan mengepak barang-barang lebih awal. Sehingga ketika bis jemputan datang saya langsung beroleh kesempatan pertama kembali ke maktab. Alhamdulillah, menjelang asyar kami sudah sampai maktab kami, no.714. Begitu kami masuk kamar ternyata apa yang dipesankan pak Najib, ka-kloter30, sebelum meninggalkan maktab Aziziyah untuk 5 hari, bahwa kamar akan dibersihkan, seprei diganti, karena itu jangan taruh barang-barang di atas kasur, ternyata tak terbukti. Kamar, apalagi kasur & seprei tak diganti atau dibersihkan. Bahkan disentuhpun tidak. Tak seperti pelayanan hotel (klas melati sekalipun) pada umumnya. Padahal sewanya 1700 real (Rp 4.250.000/org/30 hari). Kalau 1 kamar diisi 4 orang maka sewa per kamar selama 30 hari adalah Rp17.000.000 (per hari Rp 567.000). Kalau dibandingkan dengan hotel bintang 4 di Yogyakarta, seperti Santika atau JogjaPlaza Hotel misalnya, sudah memperoleh kamar di standar (sekitar Rp375rb/kamar/malam untuk 2 orang, bila nambah 2 extra bed @rp100.000), dapat makan pagi, seprei & handuk setiap hari diganti. Apalagi bila disewa bulanan pasti harga bisa dinego. “Tapi kita kesini itu ibadah, apapun harus ihlas dan pasrah,” seorang teman mengingatkan. Teman saya yang lain nyeletuk:”Benar kita ke sini beribadah, bahkan istimewa karena kita menjadi tamu Allah. Karena kita adalah tamu ya perlakukan kami sebagaimana layaknya tamu. Tamu Allah lagi”. Wallahu’alam bi sawab.


About this entry