SMS

Malam mulai menyusup di desa kami. Petir bersahutan barangkali hujan akan segera datang. Sekitar 30an anak muda (20 cowok, 10 cewek) duduk setengah melingkar di majlis MalamReboan. Majlis ini memang ditumbuhkan kembali untuk menghidupkan tradisi mengaji. Namun, mengaji dalam hal ini, tak hanya kitab agama (Qur’an, karena mayoritas Islam) yg dihadapi tetapi segala masalah kemasyarakatan. Segmentasi pesertanya juga beda: remaja, pemuda, orangtua, ibu2.

Meski kami berada di desa, namun kami beruntung. Desa kami masih dilewati sinyal telepon seluler. Terutama layanan provider yg besar tentu. Walau bila hujan deras listrik mati, tetapi sinyal telepon genggam masih bisa berlalu-lalang. Rata-rata anak mudanya punya hp. Tentu saja mahir bersms-ria. Lalu internet?

Mereka semua tahu internet (hasil assessment sebulan lalu) tapi belum ramah betul. Ada beberapa anak muda yg di sekolahnya diajari TI (Teknologi Informasi), terutama setingkat SMU/SMK. Karena ada juga beberapa peserta malam itu yg masih di SMP (belum diajari TI). Bahkan, mungkin sekitar 5 orang, punya blog. “Saya buat di sekolah sebagai tugas pelajaran TI, tapi saya lupa passwordnya,” tutur seorang peserta cewek. “Saya juga lupa judul blog saya apa?”timpal lain. “Tetapi namamu masing2 gak lupa to?”tanyaku. Semua pada tertawa.

“Ketika kamu buat blog kan pasti kamu menyertakan email atau namamu. Apalagi tugas sekolah, kan pasti dinilai gurumu,” saya menjelaskan. Jadi tak perlu kawatir selama ada mbah Google. “Ketik saja namamu, lalu Google akan menemukanmu.”

Blog? Ini memang bukan topik utama majlis tadi malam. Karena bagaimana mau mengisi blog bila kemauan kuat untuk menulis belum menggeliat. Jadi topik pertemuan itu: Ayo giat menulis!

Rata-rata mereka mengaku di sekolahnya masih ada pelajaran mengarang. Cuma saya mengajak mereka, bukan untuk mengajari, tapi untuk berbagi. Syukur kalau bisa merangsang mereka untuk giat menulis. Bukankah mereka rata-rata dalam sehari mengirim dan membaca sms?

Nah, dalam sesi pertama malam itu yg cuma 1,5 jam (pukul 20.00-21.30) saya mengajak mereka bersms-ria. “Tolong kirimi saya sms yg terdiri dari, minimal 5 kata, ke hp saya.” Lalu saya menuliskan nomor hp saya di papan tulis agar bisa dibaca oleh mereka semua. Saya mengingat agar mereka menulis bukan dengan menyingkat atau ala Alay. Bahasa yg sederhana dan mudah dimengerti. Lalu berondongan sms pun menyerbu sms saya. Ternyata, hasilnya mengejutkan saya. Sangat ekpresip. Misalnya, “Minta duitnya dong pak !”

Ide MalamRaboan (22 Feb 2011) itu muncul karena saya terinspirasi tulisan Peter Elbow (dalam bukunya “Writing Without Teacher” Oxford, 1998). Kala itu mungkin sms belum mewabah seperti sekarang. Jadi, Elbow memang tidak menyinggung sms sebagai media untuk pembelajaran menulis.

Eit, alert sms gemerincing di hp saya. Mereka, anak-anak muda itu, menyerbuku dengan sms lanjutan. Saya memang mengingatkan menulis adalah pekerjaan yang terus menerus. Jangan pernah bosan menulis. “Kalau malam ini cuma 1 kalimat, besok tolong saya kirimi 2-3 kalimat. Lebih juga boleh. Kalau takut kehabisan pulsa, jangan kawatir saya akan transfer pulsa,” ajak saya.

Sebentar ya, saya akan baca sms mereka dahulu, pasti penuh kejutan.

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry