MEMBACA SYAIR MENANGKAL PETIR

Sesampai di Wirobrajan rintik hujan mulai turun. Padahal setengah jam sebelumnya dari Wates, tempat saya tinggal, langit masih terang. Begitu sesampai di depan kantor Suara Muhammadiyah menunggu Mustofa W Hasyim dan Hari Leo yang ngajak bareng ke BlackstoneCafe, hujan seperti runtuh dari langit. Saya merasa kecut, wah batal nih acara Mari Membaca Puisi Indonesia (Sabtu 19 Febuari 2011). Mengapa?

Kafe HajarAswad, eh Batu Hitam, meski terletak agak tersembunyi di Papringan, di dekat daerah elit (dulu) Demangan Baru, tapi tempat itu mengesankan saya. Penataan ruang di dalam kafe itu mengingatkan masa kecil saya di Pekalongan. Saya tak tahu apakah itu didesain khusus oleh mas Aly D. Musyrifa (dan istrinya, Labibah Zein) selaku bos kafe tsb, yg keduanya berasal dari Pekalongan, atau sudah begitu dari sononya (konon oleh pemilik sebelumnya tempat itu namanya Kafe Doyong). Mas Aly, selain punya “mainan” mengelola kafe, di Ngayojokarto ini ia juga berbisnis batik.

Hamdy Salad (host)

Nah, disain tempat itu mirip “pranggok” (ini bahasa Pekalongan untuk menyebut pabrik). Cuma ada beda nuansa, kalau “pranggok” diisi dengan ATBM (alat tenun bukan mesin) atau alat pembatik tradisionil tempat para mbak2 dan ibu2 menyelup canting ke dalam wajan yg dipenuhi malam (lilin coklat yg mendidih). Mereka saling duduk di seputar dinding sebelah dalam di bawah atap yang menjulur ke tengah. Di area tengah sengaja dibiarkan terbuka (langsung bersentuhan dengan matahari atau hujan) sebuah kolam segi-empat yang sisi2 tepinya bila hujan limpahan dari atap tempat pembatik bekerja akan mengenainya. Bangunan kayak kolam itu digunakan oleh bapak2 untuk memberi latar warna atau melarutkan lilin yg menempel pada kain yg barusaja dibatik mbak2 dan ibu2 tadi. Bila pekerjaan menyelup itu selesai dan hujan deras turun, jadilah tempat itu kolam yg saya mainkan bersama saudara2ku untuk berenang.

Tapi di BlackstoneCafe malam hujan itu bukanlah kolam di tengahnya, tapi panggung lengkap dengan mimbar, mikropon, dan perangkat penyalang (yg ditutup kanong plastik hitam agar tak bersentuhan langsung dg air yg deras mengucur dari langit). Ini kehadiran kedua saya di kafe ini. Bulan lalu cuaca terang. Jadi ketika hujan kian dera, apalagi disertai petir, mas Aly sempat berkata, “Kalau kayak gini terus kita tunda Maret saja.” Tapi tak lama kemudian hujan reda. Pukul 21 Hamdy Salad, penyair, yang bertindak sebagai host, langsung memulai acara MMPI dengan mengundang Asep Hilman Yahya, alumni pegiat seni UIN Kalijaga, Yogya, untuk eemenyanyikan puisi2nya. Disusul oleh Winda Larasati (@queenlarasati) membaca puisi yg pertama. Kebetulan Winda malam itu berulangtahun. Met ultah ya.

Kemudian tuan rumah yang juga penyair (Aly D.Musyifa) didaulat Hamdy untuk membaca puisi2nya (yg sebagian juga dinyanyikan bersama Abubakar, sang adik. Lalu hujan rintik mulai kembali turun tatkala penyair legenda Yogya, Iman Budi Santoso, 63 tahun, mulai membaca puisinya yg sarat renungan dengan mantab. Dan hujan mulai menderas, Iman menolak dipayungi. (“Lelaki yg lagi baca puisi pantang dipayungi,”gumannya ketika turun dari panggung basah kuyup).

Karena huan tak kenal kompromi sementara penyimak dan peminat di kafe itu bergeming untuk terus mendukung Mari Membaca Puisi Indonesia. Hebatnya, meski hujan penikmat syair terus memenuhi kafe. Bahkan Halim HD, networker kebudayaan, datang dari Solo. Juga orang Jakarta yg berumah di Yogya, Sitok Srengenge, penyair dan aktor (pemeran Sultan HB di film Sang Pencerah) hadir, bahkan menutup acara baca puisi malam itu dengan suara baritonnya yg muanntabb!

Saya memperoleh giliran membaca 4 puisi saya, 1 di antaranya saya tulis di kafe ketika acara belum dimulai karena hujan lebat dan petir terus menyambar. Itulah puisi berjudul TIKUS (yg sebelum saya baca saya posting ke catatan Facebook saya).

Pukul 23.15 acara berakhir. Nampaknya Yogya di masa datang akan dipenuhi acara sastra. Saban awal minggu 1 mas Sigit dkk menggelar acara Membaca Syair Yogya di depan Gedung Agung, Malioboro. Minggu kedua mas Bustan Maras dkk punya acara serupa di Suryowijayan. Minggu ketiga di BlackstoneCafe, Papringan. Dan minggu keempat mas Hari Leo dengan Pertunjukan Sastra di Taman Budaya Yogyakarta.

Posted by WordPress for iPad

Ki-ka: Halim HD, Bustan Maras, Iman Budi Santoso (paling ujung, duduk)


About this entry