KUCING

Di pintu ia mengerang. Kuping kirinya bersimbah luka. Ia datang meradang lapar. Tubuhnya basah. Ekornya bergetar.

Luka itu bukan karena ia memilih selera beda lalu kucing-kucing kota berpita menggigit kupingnya, menorehkan luka. Agar ia selalu mendengar ajaran yang benar, katanya. Tapi menurut kucing kampungku kebenaran adalah sepotong tulang & segelas susu. Dinikmati tanpa melukai. Disajikan tanpa teriakan.

Meski luka ia selalu menyusui ketiga anaknya atau sesekali mencicipi Sakasakii. “Susu di kantongku tak mencukupi,”katamu, padahal banyak pengacara kucing membela menggugatku. Mengapa kuman Jepang itu kau sajikan? Padahal kuman di segelas susu tampak, kucing di depan mata terluka.

Aku berharap kucing hitamku itu tak berubah jadi kambing. Agar ia tak diseret-seret lalu ditumpahi kesalahan. Ia sudah nestapa karena kupingnya disayat kucing kota. Dan dalangnya masih dibiarkan berlalu-lalang. Menggeram!

Wates, Feb 2011

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry