BATUK



“Sadumuk batuk, senyeri hati, ditoh-obati,” kata pepatah yang patah-patah melangkah. Padahal batuk bukan latah. Ia butuh jalan, keluarkan segala penghadang. Zarah atau rasa gelisah. Gatal yang mengganjal perjalanan terjal. Di antara lorong-lorong yang berkelok menuju muara. Di antara hidung lembab atau mulut menganga.

Lalu malam mengutuk batuk yang menyergap tanpa bentuk. Menggunjang dinding tempat jam bersanding. Mengajak detak meninggalkan detik. Denyut merunut pada kata yang terbaca. “Meredalah agar bisa kulipat kantuk,”katamu. Tak ada sejenak henyak hingga pagi terbelalak.

Apakah ia kuman yang mengkhianati teman? Ia bernama Partusis? Tapi pasti ia tak suka berdesis. Barangkali ia persis sebangsa partitur yang membelot dari not buku musikmu. Lantas ia menggelandang menemukan siang. Mengguncang bulu-bulu leher dan peparumu.

Sudah sekian malam kau belum tertundukkan. Dinding yang bersaksi kian muram. Kuman yang berunjuk-gatal kian semena. Lalu mengusai sistim pernapasan, melumpuhkan pertahanan, tapi membiarkan tentara meraja-lela. Atau kau ingin tumbang di hari keseratus, Botolinus?

Wates, Feb 2011


About this entry