MIMBAR

Suatu pagi, hari belum keluar taji, kutemukan dirimu gemetar. Di sebuah ruang penuh memar. Penuh torehan para pakar. Atau sekedar menyebut nama pendekar yg tak berakar. Berakal, katamu.

Padahal uratmu dari kayu, Tektona grandis yang kau pasak dari kaki Muria. Warnamu gelap tapi berkilap. Kau bilang sudah berulang kau berperan menangkap keluhan dan kilahan. Tapi kau tak juga jemu ketemu orang-orang pintar saling menakar.

Setiap datang orang bergegas memoles wajahmu, tapi melupakan kaki sepuhmu, kau merasa waktunya tiba. Saat kau menahan berat dipundakmu dan menyaksikan detak jantung melompat-lompat di dadamu. Demam? Kau hanya menggeleng dan bergumam. “Aku cuma saksi bagi para peretas mimpi.”

Siapakah pagi ini yang menyatakan siap diuji? Orang-orang yang bahunya melengkung dan matanya cekung. Berat sama dijunjung, ringan sama disanjung. Matanya dipenuhi buku hingga menyesaki dinding kepala.

Sudahkan kau sarapan pagi ini? Sekuncup bunga yg ditaruh di bahumu, bercerita kau hanya sedikit memakan putiknya. “Agar baunya menjalar di kamar dan menyusup ke hidung pengunjung.”

Setiap orang yang berdiri di kakimu, getar kakinya menjalar mendengar para pakar berceloteh gencar. Siapa benar sambil kepalanya saling ditukar. Lalu diperdengarkan angka, statistik, tabel sampai gambar yang arkaik.

Bulaksumur, Januari 2011

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry