HARI-HARI MENCATAT MALAM MERINGKAS SIANG: DARI BUKU KE RINDU

Sesudah kau tancapkan tekad, suatu malam ketika istiharahmu menguatkan: kuraih peluang kunyatakan berulang, sekolah bukan tempat orang kalah.
Sesudah empat bulan anak perempuanmu semata-bilah menikah, engkau mulai melangkah rajut sejarah.

Berpeluh-peluh kau rengkuh hingga jam-jam subuh. Kelopak matamu merah, bukan pertanda menyerah. Kau susuri kata dari maya dunia, kau olah dlm kotak otakmu. Simpulanmu siap diurai oleh seregu penguratmu. Ah, laboratorium itu selalu memacu rindu.

Seribu malam yg kau susuri telah kau petakan dalam gambar dan kalimat kunci. Meski kadang pintu berkutat dengan karat di daun-daun memacetkan untuk dicatat. Setetes embun berulangkali membuat pagi tertegun. Apa yg terungkap di benak merayap turun.

Wabah flu burung seperti tak berujung. H5N1 mengukir kekesalanmu: Kemana virus ini tergerus? Ia hilang di jaringan atau sembunyi di balik kata kunci, di antara incaran mikroskop dan pengecatan.

Barangkali kelopak matamu menjadi saksi sudah sekian waktu enggan berpejam, meronta dari buku yg bersuara ketika dibaca atau yg diam merendam kata. Adakah kalimat yg bersaksi pada pagi menggeliat menandai simpul di ujung laboratoriummu? Hanya uji menandai hari, menyemai di tikungan teori yg rindu bukti

Suara-suara yg meruap dari papan ketik yg kau padukan dengan detik malam di ruang praktik. Di ruang maya yg kau jelajahi sampai ke ujungnya atau kadang hilang rimba tersesat di antara dua dunia.

Belum dua pekan Merapi curahkan piroklastik, orang-orang berlarian ketakutan, kau harus maju ujian. Jarak kau lipat, Skype kau angkat “Aku siap diuji meski penguji berada di Bali” katamu.”Baru pertama kali sekolah ini mengandalkan teknologi informasi untuk menguji,” ujar bli penguji.
Lalu
iPadmu kau rekat dengan kalimat-kalimat untuk menjawab segala taklimat.

Sesudah sekian juta kata kau jahit dengan benang kalimat lalu kau anyam dengan tanda baca, menyarikan berita: dunia ternyata hanya dibatasi titik koma. Lalu tempat berlaga itu hanyalah sekedar rangka ujicoba. Melangkah maju menyibak debu, menyingkirkan batu, dan menawarkan rindu pada ilmu yg beku.

Toga dan jubah hitammu menyulut seribu tanya kedua cucumu, “YangTi, ini apa? Kok ada kucirnya?” Semua nyengir.

Kampus FKH UGM, 27 Jan 2011.

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry