SEBUAH PERTAUTAN ULANG: REUNI

Pendaftaran ulang:Faisal, Mustaf, A.Hakam Naja, Taufik Ridwan

Menyimak album 2010 dari pinggir 2011, yang terasa sesak adalah pekerjaan mempertautkan antar masa silam. Reuni, kata orang, bisa menjadi kata yg tak disukai bagi mereka yg merasa belum jadi apa-apa. Merasa? Ukuran menjadi sesuatu kok hati.
Nah, awal tahun pekerjaan itu datang. Pekerjaan yg tak bertaut upah, tapi kerelawanan, namun bukan dalam tajuk kemanusian dengan M besar (membantu penyintas Merapi, misalnya). Ini sekedar mempertemukan “balung pisah” (kata orang Jawa), namun bukan dalam lingkaran keluarga bertautan darah. Hanya keluarga karena pernah hidup bersama dalam sebuah asrama, dalam masa 4-5 tahun. Interaksi kehidupan di dalamnya bisa memunculkan energi positif yg mengalir lama, atau energi negatif yg lantas memandekkan kenangan di suatu masa.
Asrama Batik
Di Yogyakarta, di sebuah asrama mahasiswa yg dihuni 70an orang, dibangun oleh sebuah koperasi batik yg berdenyut karena perjuangan anggotanya. Dibangun dan mulai dihuni pada 1964, kemudian dijual pada 2003 kepada seorang milyader. Oleh orang super kaya itu, bangunan asrama diluluh-lantakkan, lalu dibangun rumah megah dengan tembok tinggi. Sebuah bangunan yg angkuh.

Menikmati angkringan Yogya

Semenjak itu mantan penghuninya yg bertebaran di berbagai kota tak lagi pernah bertemu bersama dalam agenda besar yg melibatkan semua warga. Hanya pertemuan yg parsial (eh sektoral mungkin, karena hanya yg ada di sebuah kota saja: Jakarta atau Pekalongan). Tapi di awal 2011 “kecelakaan” pun terjadi. Mulanya sebuah niat untuk bersyukur dari mantan warga yg berhasil, atas kerja kerasnya, meraih kedudukan terhormat: pimpinan universitas negeri terkemuka di Yogya. Tetapi ketika gagasan reuni sudah beredar melalui undangan cetak, tiba2 ia membatalkannya melalui sms pada 20 hari sebelum H. Alasan baginya tak penting. Namun itu membuat genting bagi penerima undangan yg sudah merencanakan kedatangan ke Yogya. Apalagi hari H adalah hari pertama 2011, hari yg bakalan penuh hiruk pikuk pelancong menuju Yogya.

Batal?
Sesudah menerima tikaman kemarahan bertubi dari berbagai kota, juga dorongan positif untuk memperkuat jalinan silaturahmi (“Menyambung persaudaraan itu memperpanjang usia”, kata para sesepuh), akhirnya dicapai kesepakatan: reuni jalan terus, meski tanpa acara syukuran. Juga tanpa keterlibatan inisiator (alumnus yg berhasil itu) dan sudah menyatakannya dalam sms:”Silakan reuni jalan terus.Aku legowo”. Juga tanpa dananya. Juga, pada akhirnya, tanpa kehadirannya.

Harry Aman dan Addin Makmur (MC)

Meski acara dimulai Sabtu, 1 Jan 2011, dengan makan bareng, toh ada juga alumnus yg datang duluan (Hamid Balilah,65, angkatan 1968). Lulusan sastra Inggris UGM ini datang sendirian (29Des). Lalu awal 2011 pagi peserta mulai berdatangan. Mas Imron Firdaus/Angk 1965, asal Pekalongan (sekarang di Jkt) dan Dwijo Susono/Angk 1968, asal Pekalongan, tinggal di Jkt, mantan staf ahli Menkes (dulu) FS , masing2 bersama istri, datang dari Jakarta naik Argolawu (pkl 4.30 pagi sampai Stasiun Tugu). Bersamaan datang pula Mustafid Amna/Angk 1965 asal Setono-Batang, dosen Unisba. Ia bersama istri (dr Bandung dg travel, tapi terlambat masuk Yogya). Juga Abdul Syukur/Angk 1969, asal Pencongan Pkl yg datang sendirian dari Jakarta dg bis Rosalia Indah.
Hik atawa Kucing
Menu makan siang berbarengan itu angkringan (yg tempat berjualannya di depan asrama dulu, hingga kini meski asrama hilang ia tak ikut hengkang) dan soto ayam mobile (maksudnya gerobak dorong, bukan hp). “Ini to yg disebut nasi kucing?”ujar seorang alumnus sepuh. La kucingnya mana? Kedua makanan ini ludes pada sore hari.
Nah, acara sore sesudah makan siang yakni angjangsana ke tetangga asrama yg masih ada, batal. Karena belum ada konfirmasi dari yg akan dikunjungi. Maka diswitch menjadi perkenalan para sesepuh. “Apakah teman2 tahu bahwa ada alumnus kita yg pernah murtad?” tanya Addin Makmur/Angk 1974, sekarang penyiar TVRI Surabaya. Ternyata ada 2 alumnus: Taufik Ridwan/Angk 1965, lulusan ASRI Yogya, pencipta logo Wisma Sarjana. “Saya 5 tahun murtad,” kenang Taufik

Taufik Ridwan terbata-bata

sambil terisak. Mengapa ia balik lagi ke jalan asal? Jawabannya tak terekam dg jelas (akibat akustik gedung yg memantul). Satunya pemurtad itu Mustaf Sunardi, asal Brebes, gara2 diplonco Syu’bah Asa/Angk 1964 (pertama)(Sekarang beliau terkena stroke di Pekalongan).
Sore itu juga dilakukan saweran untuk menyumbang alumnus yg lagi sakit (Wawan Kursiwan/Angk 1965 tinggal di Ygy, Chojib Sahri/Angk 1968, asal Pencongan sekarang tinggal di Bandung sedang stroke). Terkumpul dana sekitar Rp 1,7 juta. Sore seusai acara mas Imron, Dwijo, Syukur dan mas Widodo/Angk 1965 asal Ponorogo, menyerahkan langsung dananya ke Wawan Kursiwan (Ygy).
Adante
Sabtu malam di tempat sama, Aula Bale Agung Residensi, Jl.Kalimantan, Kentungan, Ygy, sesudah makan malam hujan keburu datang. Namun, acara yg berlangsung dalam Aula tetap berjalan biasa. Menu malam minggu menggairahkan: Tengkleng, nasi liwet, mi oriental dan bakso. Tak lupa jajan pasar khas Yogya meramaikannya. “Lo minumnya koh the semua, gak ada kopi?” tanya beberapa alumnus.
Tapi yg lebih menggairahkan ketika pengaransemen mars Adante (lagu kebangsaan WS) Chotim/Angk 1976 diminta untuk bercerita riwayat Adante dan didaulat menyanyikannya. “Lagu ini mengarang liriknya alm Nasir (Angk 1971, asal Pekajangan Pkl),” tutur insinyur Geologi-UGM yg kini menjadi juragan batik di Pekalongan. “Saya mengaransemen musiknya. Jadi kalau ditanya apa artinya, ya embuh”. Lalu Sonhaji/Angk 1979 didaulat ke panggung, dan ia bercerita kalau mars Universitas Lampung (tempat ia jadi dosen) yg ia buat sepenuhnya terinspirasi oleh Adante, hanya liriknya yg beda.
Acara Sabtu malam ini memang dikemas agak formal. Ada pembukaan dg qiroah oleh KH Imron Asmuni/Angk 1978, kiai yg mulai kondang di Kota Batik dg suara yg khas, apalagi kalau nyanyi ndangdut. Dilanjutnya dengan peluncuran www.wismasarjana.com yg dibuka oleh Herry Aman/Angk 1964 asal Ponorogo (sekarang juga tinggal di sana), yg juga ketua asrama pertama kali, dipandu oleh pencipta situs WS, Dadang Nur Ikhwan/Angk 1998. “Situs ini diharapkan dapat menampung dan menyatukan gagasan2 para alumni WS yg berada dimana-mana,” kata penggagas situs, Slamet Riyadi. “Sekarang kita punya asrama maya,” lanjutnya.
Tak lupa sesudah menyantap kebutuhan jasmani (makan) giliran santapan rohani. Kali ini yg istimewa santapan ini disampaikan oleh A.Baragbah/Angk 1980, asal Pekalongan, yg kemudian memperoleh beasiswa melanjutkan studinya ke Iran. “Bagi siapa saja yg memperoleh rejekinya bukan dari Allah SWT, boleh berbuat maksiat,” demikian salah satu petuahnya. Baru kemudian Slamet Riyadi Sabrawi/Angk 1973, dokter hewan UGM asal Pekalongan, juga alumnus Persada Studi Klub (kelompok penyair muda Yogya tahun 1970an) dan sutradara teater WS 1974-1977, membacakan puisi “Tuhan Sembilan Senti” karya Taufik Ismail (dokter hewan asal Pekalongan). “Peringatan bagi para perokok,” kata Slamet mengapa ia memilih puisi itu. Dan begitu pukul 23 acara reuni malam disudahi. Addin Makmur sebagai MC berperan menghangatkan suasana yg diguyur hujan deras. Besok pagi, Minggu 2 Jan 2011 masih ada satu acara lagi: bereuni menyambangi Merapi.
Sayang di acara pagi itu saya tak bisa ikut. Tapi H.Chotim, menyampaikan kesan ketakjubannya seusai melihat dari dekat Merapi, dan mengirimkannya via sms ke saya. Saya kutipkan: “Ya Robbi, mengapa kau masih panasi batu ini meski sudah kau jauhkan ia dari api. Mengapa kau benamkan sungaiMu dengan butiran pasir hingga mengusir air. Ya Robbi, mengapa Kau tanam pohonmu tanpa daun di tanah ngungun. Adakah Kau ingin tunjukkan kepada kami itulah sebagian kecil kuasamu mengatur bumimu?

Yogyakarta, 2 Januari 2011

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry