TERTINGGAL DI MEKAH

Menunggu jemputan bis di MuisdalifahSuasana Musdalifah yang sejak menjelang magrib didatangani ribuan jemaah (phase-in) hingga subuh, sedang yang kemudian harus menuju Mina (phase-out) tertahan karena nihilnya jemputan, membuat padang Mahsyar bagai lautan manusia. Namun, tak seperti ditulis Syari’ati, kini padang itu tak lagi gelap tetapi benderang karena disorot ribuan watt lampu. “Setiap orang di antara mereka giat mencari batu-batu kerikil (Jamarah) yang menjadi amunisi perang. Keesokan harinya peluru-peluru itu akan dilontarkan ke arah musuh mereka di medan pertempuran Mina (Rami). Jamarah adalah kerikil dari jenis tertentu, oleh karena itu, hendaklah engkau cermat memilihnya.


Posko Kandaker Mekah di MusdalifahWarnanya gelap dan sulit diketemukan. Pilihlah jamarat yang ukurannya tepat! Dalam usaha memilih jamarah ini engkau harus mengikuti saran-saran: disiplin, bersatu, kompak dan benar-benar bertanggungjawab. Ini semua memiliki arti penting. Sebab kerikil-kerikil ini akan engkau pakai untuk merobohkan musuhmu. Pilihlah batu-batu yang licin, mengkilap, bulat, lebih kecil dari biji kacang namun lebih besar dari pistachio (semacam buah kenari)! Simbol apakah yang terdapat dalam kerikil-kerikil ini? Peluru! Segala sesuatunya sudah siap dan telah diperhitungkan matang-matang. Di medan pertempuran Mina nanti setiap anggota balatentara Ibrahim ini harus menembakkan tujuh peluru kepada musuh. Peluru-peluru ini harus ditembakkan tepat ke arah kepala, dada, dan jantung musuh. Hanya peluru-peluru yang mengenai sasaran sajalah yang diperhitungkan. Jika engkau tidak profesional, maka sebagai kompensasinya ambillah peluru dalam jumlah jauh lebih banyak. Jika jumlah peluru yang mengenai musuh kurang satu seperti yang dianjurkan atau ditargetkan kepadamu, maka engkau dianggap bukan merupakan salah satu anggota pasukan ini dan ritual hajimu tidak sah.”

Kalimat-kalimat Syariati yang meluncur deras di kepalaku membuat saya harus memilih dan menyeleksi lagi kerikil-kerikil yang sudah terkumpul di tangan. Saya juga sudah menyampaikan soal kerikil ini kepada teman-teman, tetapi adapula yang pokoknya asal kerikil, tak apa besar ukurannya.

Tambal ban di MekahSeusai menyeleksi kerikil ini, seorang teman jamaah dari rombongan 9 menuturkan bahwa ia termasuk dalam anggota regu yang ditinggal di maktab tak diikutkan tarwiyah. Berita ini pernah sayup-sayup saya dengar bahwa ada satu regu (12 orang) di maktab seberang tempat penginapan saya, tertinggal karena ketika diumumkan siap berangkat tarwiyah ke Mina tertidur di kamar. Teman ini berusaha melakukan konfirmasi bahwa berita tentang mereka yang tertidur tidak benar. Tetapi yang jelas tak seorang pun, baik panitia ‘Aisyiyah maupun yang lain, memberi tahu bahwa bis sudah siap dan silakan turun dari penginapan. “Wong ibu-ibu malah tidak tidur kok, mereka di kamar menunggu informasi kedatangan bis. Kamar pun tak dikunci,” jelasnya. Jadi mereka seregu terpaksa ikut pasukan kami yang dipimpin ketua kloter 30 langsung ke Arafah. “Sebenarnya, begitu rombongan ‘Aisyiyah sampai di Mina, saya sudah mengingatkan pak Kamiran bahwa ada 1 regu dari anggota rombongannya yang tertinggal di maktab,”lanjut teman tersebut. Tetapi pak Kamiran cuma menjawab: “Wah berat karena perjalanan ke maktab tidak memungkinkan kendaraan bisa keluar masuk Mina.” Bahkan ada pula teman lain yang mendengar pak Kamiran berkomentar: “Itu sudah takdir mereka tak ikut tarwiyah.” Tanggapan semacam itulah yang membuat regu yang tertinggal itu mengurut dada.

Padahal, mereka bahkan setiap jamaah KBIH ‘Aisyiyah tahu kalau selalu dikumandangkan dalam setiap manasik bahwa bis yang mengangkut jamaah takkan berangkat bila jamaah kurang 1 sekalipun. La, ini malah kurang seregu. Inilah yang membuat mereka sedikit terusik, kenapa tak ada pernyataan dan permintaan maaf resmi dari pimpinan KBIH ini, setidaknya dari pak Kamiran yang juga bagian dari pimpinan KBIH ini sekaligus ketua rombongan 9. Memang, akhirnya pernyataan maaf itu dikeluarkan Jum’at malam dalam forum pengajian sesudah salat Isya berjamaah, menjelang kedatangan Abdul Rosyad Saleh, wakil ketua Amirul Haj
1428 H. Beliau akan menjelaskan masalah katering prasmanan dan keterlantaran penjemputan jemaah dari Musdalifah ke Mina. Kamiran menyatakan permintaan maafnya secara terbuka. Namun, sesudah pak Rosyad meninggalkan forum, pak Fatur tampil dan menyentil pak Kamiran agar tak perlu banyak berapologi.

Juraga Unta asal IndonesiaRabu (20/12): KBIH ‘Aisyiyah kali ini menyembelih 71 ekor unta (termasuk 9 ekor darirombongan ‘Aisyiyah, Banyuwangi, Jatim). Penyembelihan dilakukan di luar kota Mekah, di sebuah lapangan terbuka, “Karena kalau di di dalam gedung pemotongan hewan harus bayar 599rial,” jelas pak Kamiran yang mengajak 70 orang sbg saksi saat penyembelihan. Setiap regu minimal diwakili 1 orang. Saya mewakili regu saya karena pak Hoddin, ketua kami, tak bersedia ikut. Tetapi karena situasi memang sudah hiruk orang berdatangan ke Mina maka dari tenda kami di Mina menuju tempat parkir bis yang bakal mengangkut kami tempat penyembelihan unta ini sangat jauh, sekitar 7 km. Masyaallah. Akibat jalanan sangat padat bis-bis tidak boleh sembarang parkir.

Pokoknya sambil berzikir kami terus cari bis penjemput yang tempat parkirnya selalu berubah karuna harus kucing-kucingan dengan askar pengatur lalu-lintas. Begitu bis ditemukan, kami pun harus segera naik, karena tak boleh parkir berlama-lama. Eh, baru beberapa menit berjalan bis pun harus berhenti di toko tambal ban. Ban bis kempes akibat dipasangi paku para askar itu. Kata sang supir, “Karena bis terlalu lama parkir di tempat itu yang sebenarnya dilarang.” Alamak! Yang menarik meski berada di negara modern Arab saudi tetapi kenyataan yang kami temui di tempat tambal ban ini cara mencobot karet bannya masih manual alias pakai linggis yang dipukulkan ke pinggir ban baru kemudian diungkit. Padahal di Wates yang ndeso pun buka ban kayak itu sudah menggunakan alat meski sederhana tapi dalam hitungan detik ban pun copot. Jadi, akibat pemakaian linggis ini kami kehilangan waktu cukup lama, setengah jam.

Berapa sih biaya ongkos tambal ban tersebut? Keinginan tahu saya muncul, tetapi bahkan pak Kamiran pun, yang memimpin rombongan ke tempat penyembelihan unta, menjawab, “Wah, kami tak tahu.” Saya pun sampai saya tulis cerita ini tak tahu berapa ongkosnya. Sesudah usai ban ditambal, bis pun masih harus menjembut bu Atun(ketua KBIH ‘Aisyiyah) bersama 8 orang anggota rombongannya. Baru kemudian bis langsung menuju ke tempatUnta ‘Aisyiyah di sembelih pemotongan hewan (jaraknya sekitar 4 km dari Mekah,tetapi karena harus bolak-balik diperkirakan menempuh perjalanan 30 km). Sedang perjalankakian kami menempuh jarak sekitar 10 km (dari Mina ke tempat parkir 7 km dan dari jalan tempat kami diturunkan ke Mina 3 km). Sedang malam harinya, sehabis Isya, saya memulai prosesi melempar jumrah Ula, Wusto & Aqobah yang dari tenda Mina, penginapan kami, berjarak tempuh sekitar 7 km ulang-alik. Jadi, dalam sehari saya berjalan kaki sejauh 17 km. Masyaallah. Seumur-umur berjalan kaki sejauh itu belum pernah saya lakoni.


About this entry