BERHUTANG PADA TAMAN YG KERONTANG

Nyalimu beringsut melalui pintu menuju ruang buku. Di antara meja panjang kayu lusuh dan mesin ketik yg lesu. Pada bab yg bercerita tentangmu para kata saling mengadu. Taman hilang ruang digerus hutang.

Ilalang enggan berbilang pada musim belalang. Menyusuri gang lengang canda mengiang: satu-satu lenyap menatah senyap. Kau mengaku berhutang pada rumput yg memberimu rindu. Suatu siang saat orang-orang ingkar ruang.

Tamanmu berupaya menjadi bagian padang Kurusetra. Tapi bagaimana bisa tanpa Abiyasa. Ia telah menyuratkan takdirmu: menjadi Pandawa atawa Kurawa. Bukan sekedar siapa

Kalau rumput hilang bertaut pada petang, akan kemanakah engkau pulang?

Demangan Baru 15, Yogya 5es 2010.

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry