SEPEDA PANCAL

Ruang membangunkan pengap saban pagi. Garasi remang menenggelamkan sepeda-sepeda pancal yg bengal. Atau gudang bertepi lusuh itu beralas debu menyenggol peparu. Sepeda pancalku selalu tersengal mengajak kaki-kakiku menemui aspal.

Lalu datang sepeda kumbang yg menderu mendesak sepeda pancalku. Di pojok sepedaku bersembunyi kehilangan kaki. Kumbang nyalang melewati bayang melepas rantai meronta roda bergegas.

Ia mungkin bisa cerita tentang sandal yg terpental di aspal dan wesel yg kucel, tapi tak bakal menjelaskan sambal tempe pedas yg bergegas menyantap pedal. Peluhpun berkarung runtuh, buku di kantung mengeluh.

Kemarin sesudah melampui jam bertahun kutemukan dirimu berbaring tegak di kampung loak. Kukenali guratan matamu yg dulu kulukisi dengan paku. Kau enggan menatapku. Orang-orang mengerubutimu, mencubitimu, karena kau dianggap lucu.

Dulu kau terlalu perkasa menemaniku bersuka.

Demangan Baru 15, Des 2010


About this entry