MEJA PINGPONG

Di aula tua meja rapuh itu terus mengaduh. Ia rebah bersama meja makan yg gelisah. Suatu siang ketika lapar tak juga datang dan bola menghilang di pelataran

Kau pukul bola rindu genggam dengan pelintiran. Ia meloncat memukul papan menuju arah bertingkah. Membuatmu gerah mati langkah. Dan angka pun pecah

Sudah berapakah bola patah yang singgah mengawali desah. Kecepatanmu melesat bergantung arah angin sesat. Aliran keringat dari tubuhmu menghangati ruang menyulut riang

Dinding ruang yang dipenuhi bercak kelam tak mampu menyalakan api. Membakar bola yang kau tepuk setengah hati: Esok bola, jaring, bat, berpamitan pada papan kenangan.

Angka melupakan digit.

Yogya, Desember 2010

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry