RAP NGAYOJOKARTO

Kabar suka itu kuterima berselang jam dg kabar luka: pernyataan SBY tentang monarki yg menyulut api warga Yogya (belum habis berduka Merapi). Melalui sms: (negara) Yogyakarta meraih juara I lomba Rap KB-AIDS se (negara) Indonesia. Berkali-kali tim Yogya (berkali-kali saya jurii) kandas di kancah nasional. Nah, kali ini sukses (saya juri juga) rebut nomor satu, ya kok pas dibilangin monarki. Lalu apa hubungannya rap dg monarki? Keduanya punya sejarah. Dan seperti kata Bung Karno (yg selalu terngiang sejak saya SD) “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” JASMERAH!
Kali ini aku akan menulis rap saja (monarki lain kali, bukan karena hal itu tak monarik tapi juga tak kumongarti).
Rap dipilih oleh Badan Keluarga Berencana Nasional sejak 2005 sebagai cara untuk menggaet anak muda mudah menerima infomasi tentang KB dan AIDS. Belakangan anti narkotika dan bahan aditif (Narkoba) dimasukkan dalam materi lirik.
Sejak rap dilombakan dan diikuti Yogya dg antusias (karena banyak kalangan muda yg kreatif) pesertanya selalu di atas 20 individu/grup (maksimal 3 orang). Aku senang menjadi juri karena suka melihat mereka (anak-anak muda) bersemangat, dan aku khusus mencermati materi AIDS.
Sejarah
Kita kenal musik hip-hop yakni genre musik yang dikembangkan sebagai bagian dari budaya hip-hop. Istilah ini muncul dari seorang anggota Angkatan Darat Amerika yg karena hujan deras menyanyikan kata-kata “hip/hop/hip/ hop” dengan cara menirukan irama ritmis tentara berbaris. Hip-hop didefinisikan oleh empat unsur gaya: rap, DJing/menggaruk, sampling (atau sintesis), dan beatboxing. Hip-hop mulai muncul di Bronx Selatan, kota New York pada tahun 1970-an. Dan istilah rap ini sering digunakan secara sinonim dengan hip-hop. Meski hip-hop juga menunjukkan praktek-praktek dari seluruh subkultur. Sedang rap juga disebut sebagai MCing atau emceeing, adalah gaya vokal di mana artis berbicara dg lirik, dalam sajak dan ayat, umumnya mengalahkan suara instrumental (disintesis). Beats, hampir selalu di ketukan 4/4. Mereka juga memasukkan synthesizer, drum mesin, dan live band. Rapper dapat menulis, menghafal, atau berimprovisasi dg lirik mereka dan melakukan karya-karya mereka yang acappela (musik mulut).
The best of lyric
Lalu apa hubungan rap dg monarki? Huh! Apa-apa kok dihubungkan dg monarki. Wong rakyat Yogya siap kok referendum (bukan survey lo,kata petinggi LSI @BurhanMuhtadi). Simak saja judul lirik duo-wong Yogya ini (Bungkus Gunung Marhaenis dan Tyno Isbat Elsa Wibawa): Raihlah (*Monaiki*) Kebahagian.“KB bagi setiap keluarga/2 anak mungkin akan lebih bahagia….Jangan kau lakukan seks sampai pernikahan/21 tahun itu yg dianjurkan…No problem kawan, ketika HIV&AIDS menyerangmu/tetaplah genggam tanganku, percaya padaku..”. Yeaah!
Selain the best of lyric, juga diperebutkan the best of performance. Yogya pilih lirik terbaik saja, nanti kalau kedua-duanya direbut malah disebut monarkus (monarki kok rakus), ya pak beye ya. Plak!

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry