LANGKAH JENGAH

Kusiapkan seribu langkah seribu engah seratus keluh dan sepuluh buluh. Saling rebut dan tindih menyusuri kali di kakimu ke barak-barak yang porak. “Bisakah kau rebah sejenak?” tanyamu sambil membekap matahatimu. Mataair yang meruah dari mata jawabnya. Apakah pelantang itu tak bisa bedakan teriakan atau isakan? Hanya gemuruh, langit keruh dan muka-muka duka berlimbah luka saling berdesak. Barak berderak.

Lindu rindu mengayau tanah rekah. Tak ada tanah merah. Darah jadi abu. Hati kering berkeping-keping

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry