PAYUNG ELEKTRIK MASJID NABAWI

Masjid Nabawi pagi sesudah subuhSenin, 3 Desember 2007. Saat shalat zuhur dan ashar saya tidak ikut berjamaah di Nabawi karena sesudah mengejar shalat di Raudhah semalam saya hampir tidak tidur. Jelas, salat Arbain (salat wajib berjamaah selama 8 hari berturutan tanpa terputus di masjid Nabawi) gagal saya penuhi, juga teman seregu. Saya selalu diingatkan teman-teman yang pernah berhaji, juga para pembimbing, agar selalu fokus ke ibadah yang wajib, sedang salat Arbain sunah. Jangan sampai terforsir mengejar yang sunah, pada saat menjalankan ibadah wajib tenaganya kedodoran. Hari pertama tiba di Madinah saja saya sudah kehilangan tenaga, stamina saya merosot dihujani batuk dan sesak napas. Baru hari berikutnya, setelah stamina mulai pulih, saya berkonsentrasi penuh beribadah sambil tetap meminum obat yang disediakan tenaga medis kloter 30, dr Yuli Dwi Astuti, tidur dicukupkan, makan yang banyak ditambah melahap buah (terutama pisang dan apel, yang banyak dijual di Madinah)
Selasa, 4 Desember 2007. Pukul 7 pagi kami sudah bersiap-siap berwisata ke percetakan Al Quran terbesar di dunia (sebulannya tak kurang mencetak 12 juta Qur’an, luasnya 220.000 m2, malah pada 2006 percetakan ini mencetak 30 juta eks). Setiba di percetakan ternyata perempuan dilarang masuk ke area percetakan, hanya laki-laki saja yang diperkenankan masuk. Perempuan hanya dipersilakan berada di toko, tempat penjualan Qur’an. Tetapi karena bapak-bapak juga bersemangat membeli, tempat jadi berjubel. Saya yang berminat memiliki Qur’an besar (sekitar 40×50 cm) seharga 60 rial (di Pasar Seng dijual 100 rial) terpaksa gigit jari. Selain Al Qur’an cetak juga dijual yang dalam bentuk kaset maupun CD.


Qur’an yang siap didistribusikanRaja Fahd, disebut Pelayan dua kota suci, memilih Madinah AL Munawwarah sebagai tempat percetakan Al Qur’an ini karena Madinah adalah kota Al Qur’an, di sana Qur’an ditulis, diharkati, dan dari sana dibagi-bagikan ke seluruh penjuru dunia. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 16 Muharram 1403 atau 2 November 1982. Dan komplek ini mulai beroperasi pada bulan Safar 1405 atau Oktober 1984. Komplek seluas 1.250 m2 terletak di pinggir jalan dari Madinah ke arah Tabuk. Komplek banguan ini dilengkapi dengan kantor, perawatan, percetakan, gudang, pemasaran, tarnsportasi, asrama. Juga di samping masjid komplek ada klinik, perpustakaan dan kantin.
Untuk meyakinkan bahwa hasil cetakan sama sekali tak ada kesalahan maka cetakannya harus melalui beberapa tahapan: Para ulama ahli mengawasi teks dengan mengawi volume yg hendak dicetak, dan setiap volume harus ditandatangani untuk meyakinkan keabsahan dan izin mencetak. Ketika mulai dicetak pada jam tertentu sehingga hasil cetakan muncul dari alat yang bekerja rata-rata 5 menit, lalu para lajnah yang terdiri atas para ulama ahli mengoreksi cetakan ini sehingga tak ada kesalahan. Bila ada kesalahan alat langsung dimatikan. Setelah dicetak, volume diserahkan ke bagian pengumpulan, penjahitan dan penjilidan. Proses ini berjalan di bawah pengawasan para ahli. Mushaf yang telah dijilid diletakkan di dalam troli yang memuat 900 mushaf. Lalu diambil salah satu contoh dari setiap troli, diperiksa halaman per halaman. Bila ditemukan kesalahan lajnah divisi pengawas memberi pengumuman. Troli kemudian dibawa ke divisi pengawasan terakhir (jumlah pekerjanya 750 orang). Mereka meneliti setiap naskah, lalu bila sudah oke diberi stempel “telah diperiksa”. Lalu divisi peneliti mengambil beberapa mushaf yang sudah distempel untuk diperiksa kembali. Setelah selesai melewati rangkaian setiap cetakan lalu ditulis dalam sebuah laporan lengkap tentang naskah yang telah disahkan, dan yang dapat catatan serta yang hilang.
Saya di percetakan Al Qur’an terbesar di dunia O ya sebelum ke percetakan di atas, kami dipandu melihat Gunung Putih/Jabal Baidha. Dan medan magnit. Fenomena alam yang luar biasa ini bisa dirasakan sepanjang lima kilometer ruas jalan dari ujung aspal sampai pintu masuk ke daerah ini. Jalan ini sendiri berakhir di lima deret bukit yang mengelilingi wilayah tersebut. Jalannya turun naik. Namun kendaraan yang menuju perbukitan jalannya hanya bisa pelan, seolah ada yang menahan. Sebaliknya, dari arah perbukitan, walau jalannya tidak menurun tetapi turun naik, semua kendaraan akan berjalan dengan cepat bahkan bisa sampai 120km/jam walau persneling dibebaskan. Bahkan kendaraan dimatikan pun akan tetap melaju sekencang itu.

Sesaat kemudian, sopir bis kami berseru, “Inilah saatnya…”. Tiba-tiba bus besar yang kami tumpangi memposisikan free pada roda gigi busnya…dan bus pun berhenti. Tak sampai beberapa detik, bus yang tadinya berhenti dan masih di free roda giginya tiba-tiba bergerak perlahan. Kian lama kian kencang. Hingga ajaib, kendaraan yang Kami tumpangi melaju dengan kecepatan 90 kilometer per jam sejauh tiga kilometer! Menurut warga sekitar, kecepatan kendaraan yang bisa ditarik oleh medan magnet di wilayah ini bisa berbeda-beda. Semakin besar dan berat kendaraan yang melintas, maka akan semakin cepat magnet menariknya hingga bisa sampai 120 kilometer perjam sejauh lima kilometer! Sudah banyak yang membuktikan hal tersebut. Ada sejumlah orang yang datang dengan kendaraan berbeda dan membuktikannya. Tidak banyak tempat di seluruh dunia yang memiliki medan magnetic seperti di Madinah ini. Tempat serupa ada di Korea Selatan, Yunani, Australia, timur Amerika, dan juga di sekitar Gunung Kelud, Jawa Timur. Hanya saja, kekuatan magnet di daerah-daerah tersebut tidaklah sekuat yang ada di Madinah.
Kemudian pukul 10.30 kami para jamaah wisata kembali ke maktab. Karena waktunya yang mepet salat zuhur & ashar saya lakukan berjamaah di penginapan. Baru pada saat maghrib, isya, dan subuh kami berjamaah di Nabawi.
Masjid Nabawi diperluas oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz (1405 H-1414 H) yang disebut sebagai perluasan terbesar sepanjang sejarah, sehingga kapasitas masjid bertambah 9 kali lipat. Peletakan batu pertama perluasan tepat pada hari Jum’at (9/2/1405 H atau 2/11/1984 M). Proyek dimulai pada Muharram (1406 H/1985 M) dan selesai pada 1414 H atau 1994 M).
Suasana dalam Masjid Nabawi Pada perluasan ini didirikan 6 menara adzan yg baru. Ballroom, lantai dasar, lantai atas dipugar. Lantai dasar adalah bangunan utama seluas 82.000 m2 dilapisi batu pualam. Tinggi bangunan 12,55 meter. Jumlah tiang keseluruhan di lantai ini 2.104 buah. Jarak antara tiang 6 meter sehingga terbentuk lorong dengan luas 6×6 meter. Di areal yang atapnya ada kubah, jarak antar tiang 18 meter sehingga membentuk lorong 18×18 meter dan terdapat 27 lorong. Lorong ini ditutupi oleh kubah yang dapat digerakkan secara elektrik, agar memperoleh sirkulasi udara dan penerangan yang cukup di saat cuaca bagus.
Kubah ini berdiameter 7,35 meter dengan berat bersih 80 ton/kubah. Bagian dalamKubah seberat 80 ton mulai membuka kubah terbuat dari kayu dengan motif ukiran tangan dan pada bagian lain dilapisisi dengan kertas emas halus dan tipis. Bagian luar kubah terbuat dari keramik Jerman dengan penyangga dari batu granit.
Halaman lantai atas asjid dapat digunakan untuk salat seluas 58.250 m2 . Jadi luas keseluruhan sesudah perluasan ini 67.000 m2 . Areal ini dilapisi batu pualam dari Yunani, dipergunakan untuk salat yang terkena sinar matahari, dapat menampung 90.000 jamaah. Di lantai ini ada serambi yang diberi atap berukuran 11.000 m2 setinggi 5 meter. Lantai atas ini sengaja dirancang untuk pembuatan lantai berikutnya.
Masjid Nabawi dikelilingi dari arah selatan, utara, barat dengan halaman seluas 235.000 m2 Sebagian halaman ini dilapisi batu pualam berwarna putih yang dingin dan memantulkan energi panas, dan bagian lain dilapisi batu granit. Penerangan kawasan ini digunakan lampu khusus yang ditempatkan pada 151 tiang dilapisi batu granit dan batu buatan. Halaman ini dapat menampung sekitar 430.000 jamaah. Di halaman ini terdapat pintu masuk ke toilet, tempat wudhu’ dan tempat peristirahatan bagi para peziarah, yang berhubungan langsung dengan tempat parkiran mobil, dua lantai di bawah tanah. Sesudah perluasan masjid ini mampu menampung lebih dari 698.000 jamaah.
Pada 1393 H atau 1973 H, sebelum perluasan, Raja Faishal memerintahkan untuk menyediakan tempat salat di sebelah barat masjid. Bangunan di kawasan ini dibongkar dan para pemiliknya mendapat ganti lebih dari 50 juta rial, kemudian dibuatkan payung yang bisa menaungi 35.000 m2 . Payung yang secara elektrik bisa dibuka-tutup ini ditiru dan diterapkan di Masjid Agung Semarang (“Ini memang disupervisori langsung dari Masjid Nabawi, cuma yang di masjid ini dibuat di Bekasi,” kata Agus, salah seorang panitia pengelola Masjid Agung. Untuk membuka 6 payung ini sekali, biasanya hari Jum’at, biayanya Rp 1 juta karena daya catu listriknya sendiri 6.000 watt) yang diarsiteki Ir. H. Ahmad Fanani dkk (Atelier 6). Saya secara kebetulan melihat langsung bagaimana payung di Nabawi ini menutup, juga bagaimana salah satu kubah seberat 80 ton di atap masjid Nabawi (jumlahnya 27 buah) bergeser membuka, tanpa suara, yang diatur bergiliran.
Jum’at 7 Des 2007: Sesudah Jum’atan di Nabawi bakda Ashar kami bersiap menuju Mekah. Salat Jum’atan di Nabawi mempunyai nuansa yang khusus. Khotbahnya pendek, tapi menyentuh (meski saya tak sepenuhnya faham), intinya mendoakan jemaah, calon haji, menjadi haji mabrur. Doanya diucapkan dengan menggetarkan hati para jamaah.
Jum’atan di Masjid NabawiSehabis Jum’atan kami mempersiapkan barang bawaan. Selamat tinggal masjid Nabiku tercinta. Selamat tinggal kota yg tercatat dalam sejarah sebagai tempat lahirnya Piagam Madina, awal dicetuskan Masyarakat Madani/Sipil (Civil Society). Banyak hal menarik di Masjid Nabawi, antara lain manajemen. Masjid yang setiap salat 5 waktu selalu diikuti ratusan ribu jemaah ini sepertinya tak pernah menolak tamu. Meski selalu didatangi jemaah bak gelombang pasang tetapi di dalamnya selalu ada saja saf yang kosong. Petugasnya selalu melayani jemaahnya dengan baik, mengambil minuman zam-zam, juga Qur’an selalu ditata dengan rapi. Mereka ini petugas cleaning service dari perusahaan Saudi bin Ladin, perusahaan raksasa milik keluarga besar Osama bin Ladin. Meski di dalam masih bisa terisi, di luar masih pula diminati jemaah untuk bersalat meski tak boleh melewati batas imam, yang pengumumannya ditulis dengan bahasa Indonesia, selain Arab dan Inggris.
Bis-bis penjemput datang pkl 15.30 tapi baru pukul 17.30 berangkat itupun masih berputar-putar di sekitar Madinah. Bis-bis inipun kemudian baru sampai di masjid Bir Ali, tempat miqat kami, pukul 22.00. Keterlambatan ini dipicu juga oleh ketidak beresan bis rombongan kami (3) yang sesudah diperiksa di Pusat Kontrol Jemaah Haji menjelang masuk Mekah bis harus diganti. Terpaksa tas-tas besar juga diturunkan dan dipindahkan ke bis yg baru. Akhirnya kami sampai di maktab 714 Aziziyah pukul 05.00, dan memperoleh kamar pukul 06.15 padahal pukul 7 sudah harus siap ke Masjidil Haram untuk Umroh.




About this entry