MAKELAR JABATAN

Pagi saya buka, seperti biasa, sowan simbah, mbah Google maksudnya. Dengan keluhan yang sama, apakah sahabat saya yang barusan naik pangkat jadi eselon atas itu juga kenal simbah. Ini salah satu kejelekan saya, apa-apa musti ditimbang melalui Google. Kayaknya kalau tak dikenal simbah ini tak sah hidupnya. Dasar mata gogelan!
Saya pernah beberapa kali coba cari di Facebook tapi nihil. Itu waktu sahabatku masih non-Job (sesudah jadi wakil inspektur jendral), tak punya jabatan, dilemhanaskan (tapi ia merasa dibuang *aneh menurut saya*). Biasa kalau masa seperti itu keluhan tumbuh subur. Tapi kalau jabatan sudah digenggam bisa lupa sudah semua yang dikeluhkan. Tak percaya? Kita simak saja kehidupan sahabat saya ini di masa mendatang.
Senin 4 Nop 2010 ia dilantik sebagai Direktur Jendral sebuah kementerian. Saya mengirim sms ucapan selamat, karena malam sebelum dilantik (3/11) ia memberitahuku via sms perihal rencana pelantikannya besok. Pesan pendek saya: Jaga amanah, karena jabatan adalah amanah. Namun, karena barangkali kesibukannya meningkat ia tak membalas sms saya. Saya anggap jawabannya kalau pun ada pastilah sudah tak penting lagi.
Tiba-tiba, Selasa 9 Nopember 2010 pukul 10.30 hp isteri saya berdering. Pertama penelpon mengenalkan namanya, Wawan, staf direktorat yg sahabat saya barusaja pimpin. Wawan (081210471058) lalu bilang bahwa pak Sekretaris Direktorat ingin bicara, mohon isteri saya menelpon beliau (pak SB/hp 085262807645). Tentu isteri saya yg sedang mempersiapkan ujian disertasi pekan depan terkejut. Ia bergegas menelpon pak SB. Ternyata beliau menyampaikan bahwa isteri saya akan dipromosikan dengan memilih satu dari dua pilihan: Jadi kepala balai di luar Jawa atau tetap balai Wates tapi dipromosikan sebagai kepala bidang. Tentu istri saya tak segera merespon karena harus terlebih dulu berdiskusi dengan saya, sebagai mitra, suami neh. Lalu beliau meminta untuk segera memberi keputusan karena pukul 14 akan diputuskan dalam rapat oleh pak Dirjen. Pak Sekretaris mendesak agar segera diputuskan, namun kemudian pembicaraan kok melantur ke soal biaya pelantikan.”Berapa biayanya, pak?” tanya istri saya agak keras agar saya yang kebetulan berada di dekatnya mendengar. “Rp 23 juta,”jawabnya. Isteri saya terperangah. Ia menyatakan keberatan karena untuk persiapan ujian disertasi dan judisium juga butuh biaya banyak. Pak Sek terus mendesak lalu kok tiba permintaannya melorot jadi Rp 5 juta. Lo? Saya mencium hal-hal yang mencurigakan. Secepatnya saya langsung telepon ke sahabat saya, meski sedikit kawatir kalau tak diangkat, ternyata ia menjawab. Begitu saya sampaikan masalah tsb ia langsung menjawab:”Nggak benar itu. Kok pakai membayar segala. Gak ada perintah saya begitu. Hati-hati kalau penipuan. Tolong kirim no hp orang yang mengaku Sekretaris itu!” Nampaknya sahabat saya geram. Sesudah saya kirim no hp orang yg mengaku Wawan dan SB, ia langsung merespon bahwa tak ada nama Wawan di kantornya. Dan nama pak SB dicatut karena no hpnya bukan punyanya.
Alhamdulillah sang penipu pun gigit jari. Yang aneh kedua orang penipu tsb tahu posisi istri saya, juga tahu mana saja pos-pos yang kosong sesuai kepangkatan isteri saya. Itukah makelar jabatan yang nyata ada di sebuah kementerian? (Yang tahu betul seluk beluk organisasi kementerian tsb.)
Tidak beruntunglah kedua penipu itu, karena barangkali di luar perhitungan mereka bahwa bos di direktorat kementerian itu sahabat saya. Sahabat yang tetap hangat, yang mau menerima sapaan saya yang bukan siapa-siapa. Sahabat lama yang nomor mahasiswanya berurutan dengan nim saya. Nomor saya 1793 beliau 1794.


About this entry