REUNI: SESAMA ALI DILARANG MENDAHULUI

Pertemuan kembali teman-teman yg dulu disatukan dlm kancah kegiatan sekolah (istilah utk mahasiswa: kuliah yg artinya jadi kuli bagi sebuah cita-cita/asal kata “kuli” dpt akhiran “ah”.*halah*) selalu melekatkan istilah prank, guyonan yg muncul karena seseorang “ngerjain” teman lain, terencana atau tidak, sehingga menimbulkan kenangan tersendiri.
Suatu pagi, misalnya, ketika kami (mahasiswa kedokteran hewan UGM) sedang melakukan perploncoan pd hari keempat), panitia pada apel pagi mengumumkan kabar duka bahwa teman kami yg sedang diplonco, Umi Purwanti, meninggal dunia pagi itu. Kami diminta utk mengenang dan mendoakan sahabat baru itu. Banyak juga yg menitikkan airmata dan khusuk berdoa. Suasana apel pagi murung. Hingga ketika apel sore tiba, padahal saat jeda siang kami bertukar info bagaimana kondisi sebenarnya teman tsb, apa penyakitnya dsb, tapi tak seorang pun teman tahu. Ternyata ketika apel menjelang bubar, tak ada juga kabar kejelasan tentang kondIsi teman yg meninggal tsb. Esoknya, ketika apel pagi akan dimulai, eh teman tsb nongol dalam kondisi bugar. Kami semua terkejut, bahkan saling menyalami dg hembira melihat kondisi teman tsb, tapi tetap diselimuti kabut: kok tega-teganya orang yg menyebarkan kabar bohong tsb. Ternyata itulah yg disebut April mop (kemarin tgl 1 April). Saya yg orang dusun masih culun: Apa pula April mop itu. Prankkah itu? Sampai sekarang, setelah sekian puluh tahun berlalu, saya tak pernah bertanya kepada teman ybs itu bagaimana menyusun skenario kejadian itu? Benarkah ia tak tahu kalau dijadikan bahan April mop. Biarlah ia tetap menjadi rahasia di antara kita.
Selain prank ada juga yg perlu dikenang dan diluruskan dalam acara temu kangen. Yakni bullying yg dulu istilah sama sekali tak kami ketahui. Tapi akibatnya bisa rruarrr-biasa. Seorang teman, Ali Usman, sekarang jadi bos/pemilik sebuah perusahan produk kedokteran, masih menyimpan akibat buruk itu bertahun-tahun. Saya baru tahu kedahsyatan efek buruk ketika dlm sebuah acara temu kangen tahun lalu, secara tak terencana (karena saya tak tahu kejadian sebenarnya beberapa tahun itu) saya mempertemukan Ali dg mantan dosen pengajar fisiologi, kami memanggilnya pak Pretty, nampak Ali grogi. Baru setelah menyalami dan berbasa-basi dg pak mantan dosen, ia saya tarik ke pojok. Dan di saat itulah ia curhat. Ketika masa kuliah dulu ia pernah menerima perlakuan yg membuat ia stres berkepanjangan,”Sering dalam tidur malam saya kaget terbangun sampai anak saya menanyakan ada apa,”tuturnya kepada saya. Bayangkan puluhan tahun peristiwa itu tetap membekas. “Dan saya berjuang dalam sepuluh tahun terakhir ini utk bangkit dan mengalahkan trauma itu.” Buahnya, bisnisnya berhasil. Dan kesuksesan itu ia ejawantahkan dg mendanai pembuatan fasilitas laboratorium fakultas kami.

Tetapi perlakuan apakah sebenarnya yg menimpa teman kami berbau bullying itu? Nilai ujian. Untuk pelajaran fisiologi ia diberi nilai D, karena itu ia harus ngulang, dan ngulangnya harus berkali-kali. Itu yg menyebabkan tertekan. Bayangkan ketika sebagian teman melaju, ia tersendat sendiri. Nampaknya ia mampu menyembunyikan luka itu bertahun. Saya tercekat ketika ia cerita malam itu dan bersyukur ia berhasil mengalahkannyua. Tapi yg tetap mengganjal di hati saya: Apakah pak dosen itu juga tahu akibat dari perbuatannya itu? Sudah seharusnya kami, teman-teman seangkatan Ali (1973) membantu melakukan rekonsiliasi. Meski Ali Usman sudah memaafkan tapi bisa jadi pak Pretty belum tahu kejadian itu. Maklum, meski agak unik dan dikenal agak “killer” tapi ketika menjelaskan proses fisiologi menggunakan bahasa yg mudah dicerna. Ali tersandung batu Ali (iya nama sebenarnya pak Pretty: Ali Pratomo). Sama-sama Ali, seharusnya dilarang saling melukai, eh mendahului. Saya malah dapat nilai B, he..he..

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry