Radio Swara Desa Indonesia

Baru kali ini acara EDP radio komunitas dibuka dg Jatilan dan Dandang Gulo. Pemain Jatilan lalu menutup aksinya dg mengenakan topeng Marconi (penemu radio). Penyuara Dandang Gulo memakai beskap+blangkong (pakaian Jawa), termasuk Hendro Plered (penggagas Radio Swadesi/Swara Desa Indonesia). Acara yg digelar di Aula Komisi Penyiaran Indonesia DIY, Jl.Brigjen Katamso, Yogyakarta ini semacam “fit & proper” bagi radio komunitas.
Radio komunitas memang harus menjalani prosedur ini. Sesudah mengumpulkan bukti dukungan komunitas dg minimal 250 copy Kartu Tanda Penduduk. (Hendro Swadesi malah menyertakan 600 copy KTP,”Dan itu benar-benar warga desa Jambidan (Kecamatan Banguntapan, Bantul),” ujar Hendro.
Radio yang beroperasi di 107,9 FM ini punya slogan: Konco Prihatin Lahir Batin! (Konco/Jawa=teman). Dipancarkan dari rumah Hendro Plered, dusun Demangan, desa Jambidan.
Hendro yang “tukang MC/Master of Ceremony)” ini memang nyeni (karena sarjana seni) dan Jawani (muatan lokal).
Acara yg dibuka pukul 10.30 dipandu Dr Surach Winarni M.Hum/anggota KPI-DIY, yg suka berpantun, dievaluasi oleh Rahmat M.Arifin/Ketua KPID, Ki Gunawan dan Tri Suparyanto (keduanya anggota KPID). Kesimpulan sidang: radio Swadesi layak melanjutkan proses berikutnya ke Jakarta (meraih Ijin Siaran Radio) yg dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan dan Kementerian Komunikasi dan Informasi. Tunggu saja, Jakarta.

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry