MELAWAN KANTUK NAVEEN

Tiba-tiba pagi menjeratmu. Baju baru seragammu dan tas yang memberati bahumu berceloteh lucu. Sekolah? Para ustadzah coba mengasah: hari-harimu lelah. Atau mengajarimu berseluncur dan cara bertutur.

Dinding, meja dan bangku kecil mencatat tangismu hilang bunda di balik jendela. Lalu lantai tertawa suka pada caramu berdoa, makan bersama siang. Kadang sepotong kau sisipkan pulang adik tersayang. “Sepotong lagu untuk bundaku”,tuturmu.

Harimu ditulis dalam sebuah buku. Dibaca bunda terharu, “Itulah dunia, anakku, selompatan kaki kecilmu.”

Meski sudah dipasang, tidur berjamaah siang jarang lelap datang. “Kantukku kubawa pulang untuk oleh-oleh adikku.”

Wates, Juli 2010

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry