BERDEPA LANGKAH NAURA

Senangnya siang diinjaki langkah kaki. Kuhitung satu ia menerabas sepuluh. Lari berjinjit menyiratkan suka membara. Pada pembatas, itu pagar, tapi padamu tempat tanganmu mencekal sesekali ambil nafas. Lalu tertawa lepas.

Ini bukan hari pertama kau mengajari kakimu lari. Kaki yang masih suka menelikung agar tangis terjerembab. Tangan yang bergoyang menepis pegangan. Karena jatuhmu memacu kakimu melompati bayang kecilmu. Siapa ia, menjaga atau menggoda?

Kemarin kau masih bergandeng pada tangan yang mendekatkatmu. Kemarin sesekali kau lupa, bertumpu di kedua kaki melangkah sekian kaki. “Aku bisa sendiri”, ujar raut mukamu. “Ah cuma di sini, coba di sana”, bundamu pinta. Kau terkekeh. Kau merangkaki lagi, lagi.

Itu duniabarumu. Langkahi berdepa-depa. Limpahi dengan kaki-kaki, boleh berjinjit, lalu lepas tawamu di pembatas. “Apakah duniamu tanpa batas?” sorot matamu bertanya. Aku bergegas kikuk

Wates, 2010


About this entry