KAYU BAKAR PAGI DI PUNGGUNG TUA

Kayu bakarmu kian menyundul langit
Pagi yang kamu tanjaki bernapas rapi
Adakah pasarmu menguatkan hari?
Orang-orang meninggalkan gas
Memantik kayu api

Usiamu menggapai 80, jutaan peluhmu luluh. Punggungmu menahan ruh
Di antara langkah kaki sepeninggal subuh. Jalanan setapak hilang riuh
Pulang siang bukan uang di gendongan

Keringat menitik dari kulitmu lisut
Peluh tak pernah jadi keluh

Wates, 2010


About this entry