SOLO-JEDAH-MADINAH

(I) MADINAH
Mengapa bagi seorang muslim, hajiditempatkan dalam salah satu rangkaian peribadatan terpenting? Menurut Dr Ali Syari’ati, dari perspektif praksis dan konseptual, ada 3 rukun Islam (tauhid, jihad, haji) yg terpenting yg menimbulkan daya dorong kepada umat muslim, dan yg membuat warganya sadar, merdeka, terhormat, serta memiliki tanggung jawab sosial. Pada haji dipertunjukkan drama simbolik dalam alur gerak yg simultan: penciptaan, sejarah, keesaan, ideologi dan ummat. Dan Allah SWT bertindak sebagai Sutradara.
Membaca buku-buku tentang haji adalah salah satu persiapan saya & istri berhaji. Selain ikut manasik di Kelompok Bimbingan Haji Aisyiyah Kab. Kulon Progo DIY, saya tak sempat mempersiapkan fisik agar prima, misalnya, latihan jalan sejauh 3-5 km sehari seperti yang dilakukan teman-teman seregu. Saya hanya membawa sangu 1 rialan 100 eks untuk pengemis musiman yang katanya banyak di Madinah dan Mekah, serta Rp 500.000 yang sudah dijadikan rial (waktu itu kurs 1 rial Rp 2700an). Itu saja, karena nanti di Donohudan setiap jamaah akan memperoleh living cost 1500 rial.
Catatan perjalanan saya tulis perhari dengan maksud agar bisa diposting pula hari itu, tetapi di luar perhitungan, saya tak bisa mengakses internet. Saya menggunakan kartu Halo dan Mobily (untuk telepon lokal) dan keduanya tak bisa digunakan untuk internet dan 3G. Saya sudah berusah mengontak petugas Halo di Mekah, tetapi mereka ternyata tak bisa pula mengakses ke internet, ”Saya juga tak bisa mengakses internet melalui Halo, karena nampaknya harus dengan password,” kata seorang petugas Halo yang saya hubungi via telepon. Jadi terpaksa saya posting sesudah saya sampai di rumah. Alhamdulillah.

Regu 4 Rombongan 3 Kloter 30 berpose di Donohudan28 Nop 2007, Rabu pkl 11.45 kami, Kloter 30 sejumlah 402 orang, terbang dari bandara Adismumarmo, Solo,menuju Jeddah. Sesudah sekitar 1.40 menit terbang pesawat yang kami tumpangi, GA 6110, mampir di bandar Hang Nadim, Batam, untuk mengisi avtur. Banyak penumpang antri di toilet. Padahal selama mengisi Avtur dilarang ke toilet, karena sistim elektronik di pesawat dimatikan maka toilet bisa mampet. Sebenarnya ini kesempatan untuk istirahat, sesudah di asrama haji Donohudan sulit beristirahat karena banyak orang saling berceloteh.
Ketika kami berangkat dari masjid Agung, Wates, pukul 07.00 sudah diberitahu kemungkinan kami tak dapat jatah makan siang. Ternyata meski kami datang siang tetap memperoleh jatah 3x makan (siang, malam, pagi). Menunya memang sederhana (tempe, perkedel, sepotong ikan ayam kecil dan sop wortel) tetapi tetap kami lahap. Ibarat pemanasan, karena kata pembimbing, pokoknya apapun menunya dan bagaimanapun rasanya, makan harus banyak untuk menjaga kesehatan tubuh. Kami menginap semalam di Donohudan.
Makan siang di DonohudanSesudah sarapan pagi kami menuju Adisumarmo. Banyak bawaan para jemaah, seperti: kecap, madu, sambal, dan bahan kosmetika cair yg melebihi 100 ml terpaksa harus ditinggal. Ada satu regu dari anggota Kelompok Terbang (Kloter) 30 SOC ini karena madu milik seorang anggotanya harus ditinggal, maka mereka mengambil inisiatif meminum madu tersebut di ruang tunggu dibagi kepada seluruh anggota regu. Konon, ada beberapa dari mereka mulas perutnya ketika sudah di pesawat. Karena siang memang perut masih kosong.
Sekitar pkl 16.00 WIB GA 6110 baru menyediakan makan siang. Lauknya ikan, sayurnya sawi, kering kentang plus jeruk & krupuk. Untuk standar penerbangan internasional saya kira menu ini belum optimal (Atau karena penumpangnya kebanyakan orang desa seperti saya?). Hidangan jusnya cuma jeruk dan apel. “Banyak yg mabuk udara,”kata pak Hoddin Hasbullah, ketua regu (karu) kami (regu 4 rombongan 3) sesudah “setor” di toilet belakang. Kali ini tak banyak hal-hal yang mustahil ditemukan dibalik cerita tentang toilet.
Alhamdulillah, GA 6110 mendarat mulus di bandara King Abd Aziz pada pukul 24.30 wib (20.30 waktu Jeddah). Pemeriksaan paspor dan pengumpulan tas-tas besar yang bakal dibawa ke Madinah cukup melelahkan. Apalagi ketika saya yang berada di akhir barisan pemeriksaan paspor, saya merasa disuudzoni para askar yang adalah aparat pemerintah Saudi Arabia. Saya difoto (di bagian pemeriksaan paspor itu terdapat 2 tustel di atas kepala orang pembawa paspor) dari depan, belakang samping kanan dan kiri. Terus mereka memelototi komputernya, kemudian berkonsultasi dengan supervisornya yang nampak bersitegang. Wah, ini artinya saya dicurigai, atau wajah saya mirip teroris dari Indonesia? Saya mengingat-ingat apakah benar wajah saya mirip buron teroris yang dipasang di kantor-kantor polisi kita? Tapi saya merasa ini sudah keterlaluan, mosok saya datang ke Arab Saudi atas panggilan Allah SWT kok dicurigai. Pemeriksaan paspor saya paling lama, butuh waktu sekitar 30an menit. Usai pemeriksaan para petugas imigrasi itupun tidak berusaha memberi penjelasan kepada saya atau meminta maaf (karena sudah mengganggu saya baik fisik maupun psikis), senyum pun tidak.
29 Nop 2007, Kamis. Seusai proses yang melelahkan itu, tengah malam kami langsung ke Madinah dengan bis yang di atasnya dipenuhi koper kami (45 orang/rombongan 3). Pada pukul 6 pagi waktu setempat (atau pkl 10 pagi WIB) sampai di penginapan Ali Naser AlMaleh. Kalau ditanya tepatnya di jalan apa, kami bingung. Karena penginapan ini terletak di tengah (kayak) perkampungan, sebelahnya ada masjid kecil tapi selama di sana saya belum tahu kapan masjid itu digunakan (suara azan pun tak kami dengar). Pokoknya, jalan besar yang kami lintasi bila ke masjid Nabawi berjalan kaki adalah King Abdul Aziz Road.
Ornamen dalam masjid NabawiMadinah adalah kota hijrahnya Nabi Muhammad SAW, kediaman, dan pusat dakwah beliau. Kota ini disebut juga Thabha’ dan thayyibah berarti yang memiliki kebaikan. Madinah memiliki masjid Nabawi di mana di dalamnya terdapat makam Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Shalat satu kali di masjid ini, senilai seribu solat di tempat lain, kecuali masjidil Haram. (Solat di Masjidil Haram nilainya seratus kali dari Masjid Nabawi atau seratus ribu kali). Al Bazzar dan Tabrani meriwayatkan dari Abu Darda r.a. Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Satu shalat di masjidil Haram sama dengan 100.000 shalat di tempat lain, dan satu shalat di masjidku ini sama dengan 1.000 shalat, dan satu shalat di Baitul Maqdis sama dengan 500 shalat”. Kalau Nabi Ibrahim menjadikan Mekah sebagai tanah haram, maka Nabi Muhammad menjadikan Madinah sebagai tanah haram juga. Keduanya disebut Al Haramain, tanah haram. Namun, hanya di Madinah bahasa Indonesia dijadikan bahasa ketiga (setelah Arab dan Inggris) di setiap papan pengumuman baik di Nabawi maupun tempat-tempat ziarah di Madinah.
Kami seregu (laki2) alhamdulillah bisa sekamar berada di lantai 4, sedang ibu-ibu regu kami (6 orang) bergabung dengan regu lain karena 1 kamar kapasitas tempat tidurnya 12. Di Madinah ini kami mendapat jatah makan sehari 2 kali (siang dan malam). Makan paginya? Biasanya kami beli kebab seusai salat subuh di masjid Nabawi. Kebab isi ayam 2 rial, isi daging 3 rial atau ibu-ibu lebih suka beli roti semacam mavin seharga 1 rial, terus dibawa ke penginapan (maktab) dimakan bersama-sama. Minum hangatnya buat sendiri, mau pakai susu, kopi atawa teh yg dibawa dari tanah air. Baru pada hari ketiga di Madinah, kami menemukan orang-orang Indonesia (terutama dari Madura) yang berjualan nasi goreng/kuning ala Indonesia yang dijual 2 rial. Juga jual bakwan 1 rialan.
30 Nop 2007, Jum’at. Kami mulai beribadah ke mesjid Nabawi pada saat salat maghrib & isya, juga Subuh yang sudah masuk hari Jum’at. Namun, karena kelelahan dan kelambanan adaptasi lingkungan yang dilakukan tubuh saya, saya pun mulai batuk dan sesak napas. Oleh dokter di tim kesehatan kloter 30 saya disarankan untuk istirahat, tak usah Jum’atan dulu di Nabawi. Oke, saya pun hanya shalat zuhur dan ashar di penginapan. Tapi shalat maghrib & isya, alhamdulillah, saya mulai berjamaah di Nabawi, juga shalat subuh. Untuk menuju ke Nabawi kami berjalan kaki sekitar 1,5 km atau 30 menit (karena satu anggota kami, pak Pujo, dalam kondisi pemulihan pasca stroke jalan kami pun harus pelan).
Makam pamanda Nabi SAW, Hamzah1 Des 2007, Sabtu. Selain kami beribadah di Nabawi, KBIH Aisyiyah juga menggelar acara ziarah Wisata. Hari ini tujuan wisata ke Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Gunung Uhud (di kaki bukit ini terdapat makam paman Rasul, Hamsah. Konon, ketika makam ini pernah dilanda banjir, darah segar mengalir dari makamnya, dianggap sebagai darah Hamzah yg terbunuh di medan perang Uhud), serta Perniagaan Kurma.
Menurut sejarah, ketika Nabi SAW bersama sahabat-sahabatnya sampai di Quba beliau mampir di rumah Kultsum bin al Hadim dari bani Amru bin ’Auf, lalu beliau menambatkan untanya, kemudian mendirikan sebuah masjid. Beliau berpartisipasi aktif dalam pembangunannya, lalu beliau shalat di dalamnya. Ini adalah masjid pertama yg dibangun Rasulullah SAW di Madinah dan merupakan tempat pertama kali Rasulullah SAW dan para sahabatnya shalat berjama’ah dengan terang-terangan. Masjid ini juga disebut oleh Allah SWT dalam Qur’an surat At Taubah ayat 108. Ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah, Maghrib & Isya berjamaah di Nabawi. Diriwayatkan dari Sahal bin Hunaif r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Siapa keluar dari rumahnya kemudian mendatangi masjid ini (masjid Quba) lalu shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti ia umrah”. Masjid ini memiliki 56 kubah kecil dan 6 kubah besar serta 4 menara adzan, serta dapat menampung sekitar 20.000 jamaah. Bagian tengahnya yang terbuka ditutup dengan terpal yang dapat bergerak secara elektrik. Alhamdulillah, saya sempat shalat 2 rakaat di masjid ini. Tetapi rombongan ibu-ibu regu kami tak bisa masuk ke masjid karena penuh dan saling berdesakan dengan orang-orang bertubuh besar yg berjalan melawan arus (jalan masuk lelaki dan perempuan dipisah).
Masjid Qiblatain dinamakan juga masjid bani Salimah karena terletak di perkampungan bani Salimah. Disebut Qiblatain (berarti dua kiblat) karena di masjid ini pernah didirikan satu shalat menghadap dua kiblat: Baitul Maqdis dan Masjidil Haram. Masjid ini terdiri atas dua lantai, memiliki 2 menara dan 2 kubah. Luas keseluruhannya 3.920 m2 . Masjid ini terakhir dipugar oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz menelan biaya 39,7 juta rial.
Uhud adalah sebuah gunung besar yg terletak di sebelah utara Madinah, berjarak sekitar 5,5 km dari masjid Nabawi. Uhud masih termasuk dalam kawasan tanah haram Madinah. Batas tanah haram dari arah utara yaitu bukit Tsaur yg berada di belakang gunung Uhud. Panjang Uhud dari arah timur hingga ujungnya di barat sekitar 6 km dan warnanya kemerah-merahan. Di kawasan ini pernah terjdi peristiwa mengenaskan, yaitu terbunuhnya Hamzah r.a., paman Nabi SAW, dan 70 orang kaum muslimin. Nabi SAW sendiri patah giginya. Peristiwa ini terjadi pada 2 tahun lebih 9 bulan 7 hari setelah Rasulullah hijrah. Saya sempat sejenak ziarah di makam paman Nabi SAW tersebut yang di papan pengumumannya ada yang ditulis dengan bahasa Indonesia. Intinya, ziarah kubur boleh hanya dilarang memohon sesuatu kepada yang sudah meninggal. Apakah karena jamaah haji asal Indonesia yang jumlahnya paling banyak dan sering pula ditemui memohon sesuatu kepada ahli kubur, bukan langsung kepada Allah, karenanya itu dianggap musrik? Wallahu’alam.
2 Desember 2007, Ahad. Pukul 3 pagi berencana ke Raudhah tapi gagal karena penuh, lalu saya salat tahajud dan berjamaah subuh. Raudhah, seperti diriwayatkan Abu Hurairah r.a. nabi bersabda: ”Di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman surga, dan mimbarku ini ada di atas telagaku.” Raudhah oleh para jamaah ditandai dengan area seluas 10×7 m2 yang berkarpet abu-abu atau hijau, karena karpet di masjid Nabawi berwarna merah (kecuali Raudhah). Dianjurkan untuk salat 2 rakaat di tempat ini. Tetapi untuk mencapai tempat ini tak mudah, sebab harus berebut dengan sekian puluh ribu jamaah. Bahkan di hari-hari awal musim haji 1428 H ini, saya memperoleh berita bahwa seorang jamaah, umurnya sekitar 44an tahun, asal Jawa Timur, meninggal karena berdesakan menuju Raudhah.
Pada mulanya atas masjid Rasulullah SAW dipasang pada batang kurma (batang tersebut menjadi tiang penyangga), maka nabi SAW bila berkhutbah beliau berdiri dekat batang tersebut, terkadang beliau berdiri cukup lama. Lalu seorang wanita Anshar berkata: ”Wahai rasulullah, bolehkah kami membuatkan mimbar untukmu?”. Rasulullah SAW menyetujuinya. Maka para sahabat membuat mimbar untuk beliau. Tiga anak tangga terbuat dari pohon thurfa’. Pada Jum’at berikutnya, beliau berkhutbah di atas mimbar, maka batang kurma tersebut menangis. Beliau bersabda: ”Pohon ini menangis karena tidak lagi mendengar dzikir yang biasa didengarnya.”
Mimbar dibuat pada tahun ke-8 Hijriyah, dengan 3 anak tangga. Nabi SAW duduk di tangga terakhir dan meletakkan kakinya pada anak tangga ke2. Ketika Abu Bakar r.a. menjadi khalifah, ia duduk pada anak tangga ke2 dan meletakkan kakinya pad anak tangga 1, demi menghormati Rasulullah SAW. Tatkala Umar r.a. menjadi khalifah, ia duduk di anak tangga 1 dan meletakkan kakinya di lantai. Dan ketika Utsman r.a. menjadi khalifah, ia melakukan seperti Umar r.a. selama 6 tahun, kemudin ia naik dan duduk di tempat Nabi SAW dulu duduk. Ketika Mu’awiyah r.a. menjadi khalifah dan saat ia melaksanakan haji, ia menambah anak tangga ke arah bawah hingga mimbar ini mempunyai 9 anak tangga. Para khalifah berikutnya berkhutbah dan duduk pada anak tangga ke7 yang merupakan anak tangga pertama mimbar Nabi SAW.
Mimbar ini terus dipertahankan hingga masjid Nabawi terbakar pada 654 H/1256 M, lalu diganti dengan mimbar yang dibuat oleh Raja Yaman Al-Muzhaffar, kemudian mimbar ini mengalami pergantian beberapa kali. Terakhir mimbar hadiah khalifah Utsmi, yang dikirim oleh Sulthan Murad III pada 998 H. Mimbar ini sangat indah dan dibuat dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan sampai sekarang masih ada.
Senin, 3 Des 2007, alhamdulillah sekitar pkl 02.45 kami satu regu bapak-bapak ber4 (Hoddin, Sugeng, Pujo, saya) mencapai Raudhah. Meski sudah ada beberapa jamaah yang antri tetapi tidak begitu penuh dan berjubel. Kami pun sempat salat 2 rakaat dengan khusuk tanpa diganggu jemaah lain yg biasanya tidak sabar menunggu. Sebelah kiri Raudhah adalah makam Rasulullah SAW, di sebelahnya makam Abu Bakar r.a., kemudian makam Umar r.a.
Makam Nabi SAWTatkala Nabi SAW wafat, para sahabat berbeda pendapt mengenai tempat dimana beliau akan dikebumikan. Para sahabat tidak tahu di mana Nabi SAW akan dimakamkan hingga Abu Bakar r.a. berkata: ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:”Seorang Nabi dikubur di tempat ia wafat”. Lalu para sahabatnya menggeser tempat tidur beliau dan mereka menggali kuburan di bawah tempat tidur beliau. Berarti Rasulullah SAW dikebumikan di kamar ’Aisyah r.a. tepatnya di bagian selatan kamar ’Aisyah r.a. Dan ’Aisyah r.a. tetap tinggal di bagian utara kamar tersebut dan tidak ada pembatas dengan kuburan Nabi SAW. Tatkala Abu Bakar Ash Shidiq r.a. wafat, ’Aisyah r.a. mengizinkannya untuk dimakamkan bersama Nabi SAW. Maka igali kubur di belakang Nabi SAW berjarak satu hasta, kepalanya berhadapan dengan bahu Rasululluh SAW. ’Aisyah r.a. tidak membuat tirai penutup dengan dua kubur tersebut. ’Aisyah r.a. berkta: ”Mereka adalah suami dan ayahku”.
Setelah Umar bin Khattab r.a. wafat‚ ’Aisyah r.a. mengizinkn Umar dimakamkan bersama dua orang sahabatnya, Nabi SAW dan Abu Bakar. Maka digalilah kubur sehasta di belakang kubur Ash Shidiq dan kepala Umar sejajar dengan bahu Ash Shidiq. Karena Umar r.a. bertubuh tinggi, kakinya menyentuh dinding kamar. Pada saat itu ’Aisyah r.a. membuat tirai penutup antar tempat tidurnya dengan kuburan tersebut, karena Umar r.a. bukan mahramnya.
Berziarah ke kubur Nabi SAW tidak termasuk wajib atau syarat sahnya haji seperti yg dipahami oleh sebagian orang. Tetapi hukumnya sunah bagi orang yang mengunjungi masjid Nabawi. Jadi, prosesi ziarah kubur merupakan rentetan dari berziarah ke masjid Nabawi. Dan siapa yang ingin berziarah ke kubur Nabi SAW hendaklah ia berdiri di dekat kubur beliau dengan penuh adab dan merendahkan suara kemudian mengucapkan salam kepada beliau SAW seraya mengucapkan:”Salam sejahtera, rahmat Allah dan keberkahanNya untukmu ya Rasulullah”. Kemudian setiba di makam Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. mengucapkan salam dan berdoa kepada Allah SWT memintakan keridhaan kepada kedua sahabat Nabi SAW itu. Kami berempat alhamdulillah juga melakukannya dengan khikmad meski tidak bisa mendekat di makamnya yang dibatasi pagar berteralis tembaga. Banyak jamaah yg menempelkan tubuhnya di pagar tersebut sambil meratap berlama-lama padahal masih banyak jamaah lain yg menunggu. Oleh para ulama salafus shalih itu dianggap sebagai bid’ah yang buruk. Tidak dibenarkan bagi siapapun meminta kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan hajatnya, melapangkan kesulitannya, menyembuhkan keluarganya yang sakit dan sebagainya. Karena hal yang demikian hanya dimohonkan kepada Allah SWT. Juga meminta hal-hal tersebut kepada orang yang telah meninggal berarti telah menyekutukan Allah SWT.
Perbuatan yg dilakukan oleh sebagian penziarah dengan mengeraskan suara di dekat kuburan Nabi SAW dan berdiri berlama-lama di sana, menyalahi syari’at. Sebab berdiri berlama-lama dan berulang mengucapkan salam menyebabkan terjadinya kerumunan, suara gaduh, saling desak yang menyakitkan jamaah lain. Juga tidak dibenarkan penziarah mengucapkan salam kepada Nabi SAW dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan menempelkannya ke dada seperti orang sedang salat.
Etika memasuki ke tempat tersebut sebenarnya urutannya adalah:Menguluk salam ke makam Rasulullah SAW, kemudian baru ke Raudhah. Tetapi karena suasana yang berjejalan tidak memungkinkan kami melakukan itu. Jadi, kami ke Raudhah dulu. Mungkin karena saking penuh rasa syukur, sesudah 3 malam berturut-turut kami gagal mencapai Raudhah, kami terlupa urutan itu.

 


About this entry