APRIL MOVE, BUKAN MOP

penutuoan-miKamis sore, 1 April 2010, tumben hujan tak datang. Biasanya mereka bila butir-butir air itu tiba memberisiki atap pendopo itu. Pendopo yg sempat terhempas ditiup angin keras Merapi, dan kemudian tiangnya dicereweti rayap akhirnya harus diganti, jadi saksi kembali. Saksi para jurnalis muda MI bersitegang dan beradu pandangan merumuskan kembali arah dan panduan peliputan.

ade-alawi-dkkjurnalis-mimenganalisis-kritis-proses-peliputan-newsDua puluh jurnalis itu, eit, satu mengundurkan diri karena ayahnya wafat di hari pertama acara (22 Maret 2010) dan harus balik ke Jakarta. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiiun, kami semua turut berduka mas Sidik.

Mereka datang, mereka menang. Menang merumuskan kembali cita-cita jurnalisme: Publik berhak tahu, publik harus tahu. Adakah yg mereka liput, tulis dan kabarkan selama ini menyentuh dan memberi kemanfatan kepada publik? Ataukah hanya asyik sendiri sekedar menerapkan teknik jurnalisitik yg sudah dipelajari? (Instrospeksi! Ini disodorkan di hari pertama sebagai bedah kasus karya mereka, sesudah Saur Hutabarat/Direktur Pemberitaan Media Indonesia dan Ashadi Siregar/Direktur LP3Y membuka acara pelatihan jurnalisme di LP3Y).

penutupan-pelatihan-miKabar baik, sesudah dicecar dengan tugas dan diskusi yang merangsang-gagas selama 80 jam (atawa 10 hari), mereka di penutupan tetap semangat dan sehat. Lalu apa kata mereka? “Kami lebih tahu tentang kepublikan (hasrat publik) sehingga bisa menyusun disain peliputan lebih baik, lebih fokus.” Dan yg paling penting, “Hasil dari pelatihan ini akan diterapkan dalam newsroom management MI,” kata Gaudensius Suhardi/Kepala Divisi Content Enrichment MI ketika menutup acara ini.

Selamat merentang gagasan-gagasan segar dan menerapkannya sehingga publik pun merasa bugar. Ayolah!


About this entry