RAGU. PASRAH. MENYATU?

percaya-naurielsKini kuhafal liku-liku jalanmu, datar atau terjal, tempat kau sembunyi atau bernyanyi, kapan kau tulis nomor teleponku tanpa bosan berulangkali, lalu di kelokan mana karcisku merah jambu itu kau campakkan. Bahkan dalam tidur ribuan wajahmu menguntit mimpiku. Hanya igauan yang mampu hentikan itu, barangkali.


Bingung datang berjibun langsung menyesaki ubun-ubun. “Pilihanmu warna-warni datang bertubi atau tak berwarna sama sekali?”candamu. Padahal kau tahu aku bukan buta warna, hanya tak suka warna yang suka beralih rupa.

Kau memang peka ketika datang goda. Ia bisa muncul kapan dan dari mana saja, ramah atau marah. Ia pasti menaikkan gejolak darahmu, merahmu dan debarmu. Uratmu kian lebar, sabarmu hilang pijar.

Serahkan saja dirimu pada aliran air, tiupan angin dan suara hening,”katamu. “Tubuhku atau pikiranku?,”tanyaku. Padahal kutahu keduanya menyatu. Dan pusat segala aliran, tiupan dan suara, hanyalah kamu. Masihkah aku ragu?

Yogya 2010


About this entry