DI HILTON, PEREMPUAN DIPINGGIRKAN

Terpinggirkan di HiltonKamis (14/12). Kami berlima (Hoddin&istri, Hanifah, saya&istri) sengaja mencoba tempat shalat di Hotel Hilton, kata pak Fatur longgar tidak berdesakan. Kami berangkat dari maktab pukul 4 -bila untuk bersubuhan di Masjid Haram ini sudah termasuk kesiangan-sampai di Hilton menjelang 4.30. Tetapi ternyata lokasi sholat baru akan
dibuka pukul 5 pagi, shalat subuh dimulai pukul 5.25. Itupun hanya tempat shalat laki-laki. Dan tempat shalat perempuan di lantai 3, tetapi ketika kami kesana tempat memang tertutup, tetapi nampak tidak layak, terkesan kusam. Apakah memberi tempat shalat yang layak bagi perempuan Hilton tak sanggup? Waktu itu ada beberapa ibu dari negara lain yang komplain kepada orang Hilton, agar tempat tersebut dibersihkan dan ditata untuk shalat. Namun, sampai pukul 5 tak ada reaksi dari Hilton, beberapa kursi yang diletakkan asal-asalan masih nongkrong di tempat itu. Sesudah lokasi shalat pria dibuka, terpaksa ibu-ibu shalat di luar ruangan pria (lantai 4) di dekat pintu. Sedih juga saya melihat perempuan terpinggirkan semacam itu.

Sesudah subuhan baru kami turun ke bawah melihat-lihat Super Store, toko jam dan tokoJamaah haji berada di Hiltonbuku yang berada di lantai 1 Hilton. Saya membeli 4 gambar dinding (Masjid Haram, Hajar Aswad, Raudhah dan Kiswah) masing-masing 5 rial dan tempat gulungannya 5 rial. Kami juga sarapan donat seharga 4 rial dan kopi-susu 3 rial, cukup mahal. Padahal kalau kami keluar saja dari hotel lalu belok ke kanan, di sepanjang luar hotel itu banyak tersaji
jajanan murah-meriah. (Hari berikutnya saya coba makanan ala roti cane tapi diisi telur goreng 1 rial, isi tuna 2 rial plus teh tarik @ 1 rial. Dengan 5 rial saya & istri cukup kenyang).

Nah, ketika saya ke toilet pria di Hilton saya dapati hal yang menarik. Saat itu di kamar mandi sudah banyak yang antri. Tiba-tiba nyelonong 2 orang, 1 berseragam security Hilton dan 1 berpakaian petugas cleaning service , langsung ke toilet melewati baris antrian. Seorang arab lain yang berbaju gamis dan bersorban, masih muda, yang masih dalam antrian protes: “Tingkah laku anda itu tak sesuai dengan adab Islam”, teriaknya. Lantas terjadi perdebatan dan kayaknya orang arab muda ini lebih intelektual, ia terus mengkuliahi mereka, akhirnya petugas cleaning service itu pun sembari malu mengurungkan niatnya. Dan sang security? Ternyata tetap cuek, masuk ke toilet. Dasar badak! Astagfirullah.

Sepulang dari Hilton kami mampir ke Pasar Seng berniat beli kacamata baca (plus 2)Situasi Pasar Seng karena kacamata yang saya bawa dari tanah air hilang ketika berwisata. Saya beli kacamata baca di pasar ini seharga 5 rial (beberapa hari kemudian di depan maktab saya, di kaki lima, kacamata serupa dijual 10 rial 4 buah). Saya dan istri sempatkan juga mampir ke toko-toko buku mencari map Mekah dan Madinah yang diminta Ahmad Luqman, sahabat saya yang membuat komik haji itu, tapi tak saya dapatkan juga. Selain map saya juga mencari kamus elektronik Arab-Inggris yang diingini kakak saya di Jakarta. Di sebuah toko elektronik beberapa kamus saya temukan, tapi tak satu pun mereknya sama dengan yang dikehendaki kakak. Saya coba telepon ke hpnya di Jakarta tapi tak dijawab. Ya sudah. Daripada nanti salah beli kami balik ke maktab.

Sesampai di maktab, teman-teman seregu sudah menunggu mengajak makan siangMakan siang bersama di maktab bermenu oseng-oseng kangkung ala Indonesia. Mengasyikkan juga. Makanan olahan ibu-ibu ini hasil dari iuran 50 rial per keluarga. Iuran ini bila habis ya iuran lagi dan ternyata uang tersebut cukup untuk memasak selama kami di Mekkah. Tentu saja
selain itu masing-masing kami bawa beras 2kg, abon atau makanan kering lainnya, yang dimakan bersama setiap saat. Tak terasa dari hal makanan ini memperkuat silaturahmi kami. Pisang cavendish seharga 5 rial per kg itu saban hari kami beli dan kami makan bersama.

Sesudah zuhur Hoddin dan Sugeng berangkat ke Haram untuk berjamaah asyar dan magrib. Saya dan Pujo -yang kecapaian– di maktab. Baru setelah usai mencuci pakaian bersama istri, kami berdua (istri) menyusul bermaghrib dan isya di Haram. Pukul 16.15 sampai di Haram ternyata sudah penuh. Akhirnya kami shalat di luar masjid di bawah jalan yang menghubungkan Haram dengan Jiad. Itupun hanya shalat maghrib, karena menjelang isya kami diusir askar masjid: “Tarik! Tarik! (Maksudnya: Jalan! Jalan!) Itulah kalimat askar yang paling dihafal jamaah di Masjid Haram. Begitu diusir ternyata susahTarik! Tarik! menemukan tempat ganti. Jamaah melimpah sampai halaman Hilton. Akhirnya dengan
susah payah, pasang sikut (masyaAllah, ampuni hamba), utk melindungi istri sampai juga kami di Hilton lantai 4 (tempat tadi subuh kami shalat). Tempat shalat perempuan tetap masih gelap dan suram. Meski ada tulisan di dinding petunjuk Women Mosque, tapi tak sesuai kenyataan. Masjid Haram memberi kebebasan tempat salat bagi perempuan tapi Hilton tidak. Padahal Hilton sudah menempatkan diri menjadi bagian Haram, karena halaman Hilton dan Haram menyatu. Lagi-lagi istri saya terusir, shalat di luar. Beruntung ada jamaah perempuan dari negara lain yang bernasib sama.

Agenda kami sesudah shalat isya adalah bertemu besan, mertua anak saya. Kebetulan kami berhaji bersamaan pada 1428 ini walau tidak direncanakan bersama. Besan (Sumbarjo&istri) berangkat bersama kloter 18 SOC (Klaten) pada 22 Nopember
2008. Sekalian kami ingin juga reriungan bertemu dengan kakak istri saya, Abdulrahman & istri, yang berangkat bersama kloter 45 SOC (Salatiga). Kami bertiga alhamdulillah sudah punya nomor lokal (Mobily) di hp masing-masing. Tetapi membuat janji untuk bertemu tidaklah mudah. Tatkala di Madinah beberapa kali saya janjian dengan besan untuk bertemu di Nabawi, selalu meleset. Ternyata saya & istri selalu masuk-keluar Nabawi dari belakang karena maktab kami di dekat itu, sedang besan keluar masuk Nabawi dari depan. Nah, kali ini, di Masjid Haram, kami janjian ketemu berdasarkan
ancar-ancar nomor pintu masuk. Saya biasanya masuk-keluar dari pintu no 10 (Babus Ismail) sedangkan besan berada di depan pintu no. 79. Janjian kali ini pun gagal karena sesudah isya besan, melalui hp memberi tahu, kalau mendadak ada acara di maktabnya.

Pintu no.10 Babus IsmailAkhirnya kami hanya janjian ketemu kakak di pintu no.1 (Babus Malik). Alhamdulillah, ketemu, sesudah ratusan jemaah sembari mencermati seragam oranye yang dipakai kakak. Ternyata, keunikan dan kekhasan warna kerudung atau slayer jamaah penting sebagai penanda. Tanpa itu wow pasti susah banget bak ibarat menarik sebatang jerami dari timbunannya.

Sehabis ketemu kakak, sebelum pulang ke maktab, kami makan malam kebab dan teh tarik, kawatir kalau sampai maktab teman-teman sudah makan semua. Namun, sampai di terminal, masyaallah, saya menyaksikan perilaku jamaah Indonesia yang saling berebut, tak peduli perempuan atau tua, pokoknya asal bisa masuk bis Indonesia jurusan Aziziyah. Saya teringat kata-kata orang muda arab tadi pagi di toilet Hilton. Ternyata saudaraku-saudaraku ini belum pula memahami adab Islam. Kami bersabar dan berusaha ikut numpang bis India & Diyanet tapi diusir. Sementara kepulan asap knalpot bis memborbardir semakin menyesakkan dada, malam juga semakin beringsut, sekaligus kami diterpa udara dingin. Syukurlah, sesudah satu jam memburu bis bis Indonesia UAG (ulang-alik gratisan) akhirnya kami terangkut juga. Begitu masuk bis sudah penuh jamaah, saya hanya bisa berdiri, sementara tiupan ACnya amat dingin pas menerpa wajah saya. Ini yang membuat saya keesokan harinya sakit, batuk-batuk, demam dan sesak napas karena saya alergi udara kotor dan dingin. Padahal berhaji tinggal beberapa hari lagi.

Malam sekitar pukul 22.30 ketua regu kami (4) memberi info hasil rapat dengan ketua rombongan 3 bahwa: KBIH ‘Aisyiyah kloter 30 SOC akan berangkat tarwiyah Ahad bakda isya (sudah berpakaian ihram, membawa tas tenteng, sementara tas besar ditinggal di maktab). Informasi yang kami terima: selama tarwiyah tempatnya berada di atas bukit dan harus melalui 70 tangga yang menanjak. Jadi, disarankan bagi yang masih sakit dan tua tidak ikut tarwiyah di Mina tidak apa-apa. Nanti menyusul langsung ke Arafah. Nah, di sini ada disinformasi terkait dengan kepetingan yang berbeda. Bagi jamaah KBIH ‘Aisyiyah tarwiyah di Mina meski sunah tetapi sangat dianjurkan karena hal itu juga dilakukan Nabi SAW. Sedang tarwiyah di Mina bagi pemerintah itu tidak harus alias tak ada acara ke sana. Hal ini pula yang ditulis oleh Dr Ali Syari’ati: “Setelah pakaian ihram engkau kenakan, tinggalkanlah Kota Mekah, berjalanlah ke arah timur menuju Padang Arafah dan berhentilah di sana hingga matahari terbenam di hari yang kesembilan.” (dalam bukunya “Menuju Manusia Haji: Panduan Memahami Filosofi dan Makna Sosial di Balik Ritual-ritual Haji). Maka bagi jamaah yang tidak ikut tarwiyah akan bersama petugas dari pemerintah (ketua dan wakil kloter serta petugas kesehatan). Jadi, jamaah yang ikut tarwiyah tidak didampingi petugas kesehatan dan wakil pemerintah RI. Sejumlah 60 jamaah yang semula tidak akan ikut tarwiyah jadi ragu. Saya termasuk. Istri saya pun bertanya kepada ketua rombongan 3, bagaimana kondisi sebenarnya di Mina itu, di tempat terbuka atau di dalam tenda? Apakah di tempat itu hanya semalam untuk tarwiyah saja kemudian esok pindah ke tenda? Tetapi tak memperoleh kejelasan.Dokter Dwi dan istri Alasannya, karena ketua rombongan juga belum melihat kondisi di sana sebenarnya. Bertarwiyah di Mina itu sunah, tetapi mendampingi istri atawa suami itu wajib, kata ustadz Fatur. Istri saya pun akhirnya tak ke Mina bertarwiyah karena mendampingi saya (sesuai advis dokter kloter 30 SOC, dokter Dwi Yuli Astuti, agar tidak ikut mengingat kondisi kesehatan saya).

Jumat-Sabtu (14-15 Desember) Badan saya mulai demam (sehingga saya memutuskan tidak menulis kisah ini dulu dalam PDA/personal digital assistant saya, istirahat). Hingga jamaah Jum’at pun saya di rumah, sendiri. karena 3 teman sekamar saya akan berjamaah ke Haram. Ternyata ketiga teman tersebut gagal menuju Haram karena jumlah bis UAG sudah banyak dikurangi sehingga setiap bis amat sangat padat penumpang. Mereka, katanya, hanya bisa berjamaah di mesjid seberang hotel. Di depan maktab sebenarnya ada semacam mesjid kecil (mushala) untuk solat berjamah penghuni maupun pekerja hotel atau pemilik dan penjaga toko di sekitar maktab, tetapi ternyata tidak digunakan untuk shalat Jum’at. “Kalau adzan sudah dikumandangkan pasti mushala sudah penuh,”kata Abdul Ghofar, jamaah asal Kulon Progo, tetangga kamar saya se maktab. Ia menyatakan ini ketika sudah di depan lift mau turun akan tetapi kemudian balik ke kamar ketika adzan sudah diperdengarkan.


About this entry