MATAHARIMU DI ANTARA MATAKU DAN MATAMU

Mataharimu menyorotkan matanya ke terik mataku, cahayanya pelik, di sebalik hujan rintik, hari kedua yang sama kau ulang bila aku pulang. Mataharimu yang sama selalu bergegas di hari sore yang malas.

Bukankah engkau kemarin beringsut di balik bukit yang semakin keriput? Tanah, pasir dan kerikil meninggalkanmu sejak orang-orang kota itu bersanding dengan mimpiku.

Di antara sorot matamu dan gegas jalanmu kau lemparkan batu-batu itu di aspalku.

Yogya 2010


About this entry