6 SAJAK SLAMET RIYADI SABRAWI (Kedaulatan Rakyat, 24/1/2010)
DI ATAS KETINGGIAN 20.000 KAKI TANGAN SEPI
Menunggu waktuku di ruang makanmu, memandang lalu-lalang pesawat dibebat jadwal ketat jam berkarat. Perhatian! Perjalanan ke kota tujuan ditunda, sekian nama tertinggal di beranda. Ratusan gumam meruntuhkan geram.
Penumpang gelap harap bertiarap, sebentar lagi gerombolan awan pekat lewat. Sabuk pengaman biarkan sibuk bersitegang, jangan lupa hitung detak jantung lalu jadikan nada sambung.
Telepon harap digenggam, biarkan ia diam sampai tanda mendarat berkeringat dan ruang kedatangan berdesakan dilempari kopor tak bertuan. Siapa lapor hilang badan?
Yogya Desember 2009
JALAN KRAMAT VII DI DUA KANTOR REDAKSI
Sejumlah putik jiwa terjaga di sepanjang jalan sempit sembari mengunyah waktu di antara jam tenggat para tetua kebanjiran umpat. Tak ada tempat bagi pikiran mampat. Lalu para perapat beringsut cepat
Gedung tua yang berderak lantainya itu tak menyisakan detak buat orang yang menggelegak mencatat segala gerak. Penggila harta kau endus lalu kau catat dan letakkan dalam peringkat kau suka. Itukah bualan ataukah jualan yang kau jadikan penutup pekan?
“Tugas kita hanya mencatat dengan angka,bukan kata yang bersendawa,” kata Duryudana dari ruang muka, tempat sidang para Kurawa. Lewat jendela tua murka kadang merajalela tanpa jeda. Adakah dahan patah karena amarah?
Di jalan itu dua pasukan selalu siaga mengendus angin berhembus siapa duluan menuju Kurusetra. Padahal padang itu lengang tak ada lagi pedagang menyisakan perang. Bahkan genderang hilang menyisakan petang.
Jakarta 2009
MENUJU SENYAP
Kabar itupun menyergap saat pagi mengendap: seorang sahabat menuju senyap. Ia belum genap tiga dasa usia
Dalam sunyi ia melaju sendiri, tak ada nyanyi mengiringi
Kabut asa yang ia genggam ia titipkan pada malam. Ketika Izrail menyapa pelan ia hanya bergumam menitip salam, “Lawanlah terus virus yang memberangus!”
Pada jam yang terus terpejam ia berpamitan
Yogya 2009
PRAMEKS I
Dalam kereta tanpa kepala itu kepala-kepala saling terantuk kantuk, siku saling bertemu. Celoteh anak-anak bertegur seru melebur deru. Seorang ibu bergayut cemberut di wajahnya kusut
Di luar pohon-pohon jati meranggas saling bergegas mendahului lipatan daun yang lepas. Akankah kereta berhenti di stasiun sunyi? Barangkali, bila api hilang tanpa seri dan hari bergeming tanpa nyali.
Wates 2009
SAJAK PERAGU
Berikan aku sepotong hujan dalam basahmu semalam. Potongan itu akan kubingkai dengan ritmik nyanyian jangkrik. Lalu kulayangkan pada penjaga siang yang sedang memainkan layang-layang bersama halilintar
Berikan aku seikat petir dalam lembab soremu getir. Ikatan itu akan kurajut dengan suara sayup orang laut
Kepingan siang dan potongan hujan sudah kutautkan tetapi kau masih menunggu desir api membakar tepi
Kenapa kau selalu terpaku pada bayangmu itu?
Yogya 2009
SAPI, KUDA DAN SEEKOR PUISI
Kutulis seekor puisi reinkarnasi dari sebuah sapi yang disembelih berulang kali di rumah potong pinggir kali. Kutahu kau tak mati meski uratmu dikerat ribuan kali. Ia memasukkanmu ke dalam nadi menuju jantung dan otakmu yang berdetak. Sapimu menghentak tapi puisiku tak.
Kulukis seekor politisi yang kepalanya sering mengangguk-angguk di televisi. Kutulis di tandukmu kata buruk yang kuringkas dari spandukmu dulu. Kutulis di ekormu ucapan kotor yangg kau sebar sebagai teror. Di kaca benggala itu para penanya suka membuatmu ketawa seperti kuda.
Sapi, kuda dan seekor puisi semakin menjadi.
Yogya 2010
About this entry
You’re currently reading “6 SAJAK SLAMET RIYADI SABRAWI (Kedaulatan Rakyat, 24/1/2010),” an entry on slametriyadi.com
- Published:
- 01.30.10 / 12pm
- Category:
- puisi












1 Comment
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]