SAJAK JAKARTA

jakarta-commons-wikipedia

Jakarta selalu terjaga matanya dari api yg melahapi bulu mata dan membakar kelopaknya, membanjiri kabar yg samar dr mana airnya keluar. Biarkan air menyambar sungai yg lapar.

Di ujung Ciliwung kutemukan kembali kedai kopimu yg hilang puluhan tahun. Kau masih juga manyun sambil menubrukkan kopimu dengan cangkir dan sendok itu. Sesudah kau seduh bergalon air di negeri tetanggamu yg riuh, kau kembali bersauh dinegerimu rapuh. Di ujung kau tercenung, kenapa kaliku semakin murung?

Halo, aku terjebak di puluhan eskalator yg berderak menuju langitmu. Toko yg beranak-pinak itu menyesatkanku dengan label sesak angka, tak terhitung hanya suara dengung. Halo, engkaukah harga yg tak beranjak di puncak?

Jakarta 2010


About this entry