KOPI PAHIT YANG TAK HABIS BERIBU TEGUK

kopi-flikr
Ini tegukanku keseribu dari cangkir dan thermos gumpil, sesudah seratus satu sorga kafein merongga di urat nadi menghela napasku tak berbagi.

Kopimu dalam gelas retakku dan rasa pahitmu kau sajikan untuk redup bola mataku. Tapi tetap saja kelopak mataku berat mengatup. Dan pahitmu terus menggerus butirnya sehingga ampasnya mengaliri darahmu dan mengetuk-ngetuk jantungku.

Yogya Awal 2010


About this entry