HARI DUKA

gus-dur-by-mazagungwordpressHari kedua di tahun barumu tak ada lagi asap menggeliat dari percikan api di malam ketika bulan berbagi. Orang-orang pulang dari ziarah panjang: “Kita kehilangan guru dan waktu”, katamu. Jarak Jombang dan gelombang menyulut keseimbangan menguatkan perebedaan.

Kau bawa kabar yang merintih diselimuti nyanyian pedih. Sholawat yang kaupanjatkan menghentak langit pada dinding-dinding bergerak, awan telah angin serakkan merunduk pada doa khusuk. “Aku yakin pada keberagaman untuk mengantarku pulang”.

Siapa percaya pada ladzuni, padahal ia memang terpilih untuk menapaki jejak orang-orang tersisih. Ia risih pada orang yang menyebut bersih tapi tidak memiliki kasih. Ia tidur tapi pikirannya terus menelusur sumbat yang dibuat memilah manusia dari asalnya.

Ia pulang atau sekedar menyampaikan kabar petang?
Yogya, awal 2010


About this entry