Rangkul ODHA dengan Puisi

baca-puisi-di-tbjt-solo-11des2009-resize11

Tak mudah menyulut api/Di tepi daun yang tepinya bertaut tepi../Dan angin menggoyang kencang meniti/Jemarimu yang ringkih menggenggam lilin-lilin seirama hati..

Petikan bait puisi bertajuk Lilin-lilin Melawan Angin tersebut melantun syahdu di keheningan malam, pada acara pembacaan dan diskusi puisi di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Jumat (11/12)  malam.


Puisi yang dilantunkan langsung penciptanya, yaitu Slamet Riyadi Sabrawi, seolah menyihir para penonton yang hadir untuk terhanyut dalam bait demi bait. Dengan intonasi suara yang pelan namun tegas, penyair yang juga kawan dekat Emha Ainun Nadjib itu tampil total demi menyuarakan suara hati sejumlah Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang selama ini masih dianggap sebagai sampah masyarakat, dan seolah kehilangan haknya sebagai manusia.
Meski jumlah penonton tidaklah sebanyak yang diharapkan, namun dirinya tetap terlihat sangat bersemangat dalam membacakan puisinya. Ditemui sebelum pementasan, Slamet yang juga jebolan Persada Studi Club angkatan 70-an itu mengatakan, dia merasa sangat prihatin, dengan perlakuan masyarakat yang dirasanya kadangkala cenderung melanggar HAM terkait dengan para ODHA.
”Saat ini kita masih sering mendengar perlakuan kurang manusiawi terhadap ODHA di sebagian daerah, seperti adanya pemasungan, bahkan pembakaran terhadap mereka. Untuk itulah dalam pentas malam ini, saya sengaja mengusung tema kemanusiaan untuk menggugah nurani masyarakat terhadap ODHA,” jelasnya.
Dalam pementasan malam itu, turut pula dibawakan beberapa puisi karya Slamet lainnya seperti Peron, dan Bali. Tema yang diusung pun masih berkutat pada masalah kemanusiaan. ”Saya berharap dengan pementasan pada malam hari bisa cukup menggugah nurani kita bersama, atas segala bentuk permasalahan kemanusiaan yang ada. Jadi sebenarnya bukan hanya terbatas pada masalah ODHA saja,” tegasnya.
Sementara itu dalam diskusi yang dipandu Halim HD usai pembacaan puisi, banyak dikupas juga permasalahan minimnya jumlah sastrawan muda saat saat ini, yang mengangkat karya mengenai kemanusiaan. Padahal menurut Slamet, sebenarnya karya sastra seperti puisi juga bisa turut memengaruhi corak perubahan sosial yang terjadi.(Deniawan Tommy Chandra Wijaya)

(Note: Berita ini dimuat di Harian Joglosemar, Minggu, 13/12/2009)

About this entry