Sastra bukan di menara gading saja

srs-baca-puisi-di-tbjt-11des2009Sastra seharusnya tumbuh dan berkembang di areal publik, bukan hanya di menara gading seperti gedung-gedung mewah atau mimbar-mimbar megah. “Di tempat-tempat seperti itulah seharusnya puisi dibaca,”tutur Slamet Riyadi Sabrawi, penyair tahun 1970-an yang pernah malang melintang di dunia sastra Indonesia bersama Umbu Landu Paranggi di perkumpulan Persada Studi Klub, pada Jumat (11/12) malam, di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Solo (TBS).

Malam itu menjadi perayaan bagi Slamet yang telah kurang lebih 30 tahun tenggelam dalam “moratorium” berpuisi, pada akhir 2009 ini menghasilkan karya baru berupa buku kumpulan puisi terbarunya berjudul Lilin-lilin Melawan Angin. Sebanyak 57 puisi yang terangkum dalam buku ini adalah puisi-puisi baru karya Slamet sepanjang tahun 2009.

Kehadiran kembali Slamet di dunia sastra Indonesia, terutama puisi, mengingatkan kejayaan puisi di tahun 1970-an yang mampu membaur dengan kehidupan masyarakat, terutama di Yogyakarta, melalui aktivitas para penyair saat itu bersama Umbu Landu Paranggi. “Tempa-tempat seperti itu “ bagi puisi yang dimaksud Slamet ketika bertutur di Pendapa Wisma Seni TBJT Solo adalah tempat-tempat biasa yang menjadi tempat berkumpulnya warga masyarakat kebanyakan.

Halim HD, salah seorang kawan lama Slamet, yang malam itu menjadi pembahas tunggal atas buku Lilin-lilin Melawan Angin, mengatakan, di tahun 1970-an, di Yogyakarta banyak penyair yang biasa membacakan puisi karyanya ataupun karya penyair lain di warung makan, di taman kota, di pinggir jalan, di rumah pribadi, di teteg sepur (palang kereta api) dan tempat-tempat publik lainnya.

“Semangat itulah yang saya tangkap dari kehadiran kembali Slamet di dunia puisi sastra Indonesia. Sastra memang harus menjadi milik masyarakat secara keseluruhan, milik semua golongan. Sastra tidak akan langgeng jika hanya bertempat di gedung-gedung megah atau di mimbar-mimbar yang mewah,” tutur Halim.

Pribadi Slamet sebagai penyair memang tergolong unik. Golongan Penyair Angkatan ’45 (jika memang penggolongan berdasarkan periodisasi tahun ini masih diterima-red) punya Asrul Sani, dokter hewan yang penyair. Penyair angkatan ’66 punya Taufik Ismail, dokter hewan yang penyair pula. Dan Slamet layak ditabalkan sebagai dokter hewan penyair bagi kalangan penyair setelah tahun ’70-an. (pra)

(Dimuat di Solopos, Minggu 13 Desember 2009, halaman 12)


About this entry