THOWAF DAN KARET GELANG

Pintu awal kami masuk berumrohSabtu 8 Desember 2007. Pak Sutarjo (Karom 3) mengumumkan akan ada pembekalan sebelum berangkat Umroh, tapi kami menunggu tak ada pembekalan itu, sehingga regu kami harus bertanya ke berbagai pihak bagaimana caranya menuju ke Masjidil Haram. Ini adalah saat saat pertama kami menginjakkan kaki di Mekah. Akhirnya, dengan menumpang bis berstiker Merah Putih sambil berdesakan sampai pula kami di Masjidil Haram. Di halaman masjid ternyata rombongan KBIH Aisyiyah sudah berkumpul. Ada penjelasan dari pembimbing sedikit. Tak lama kemudian kami beringsut menuju Baitullah melalui pintu Ismail (No.10).

Ketika melihat Ka’bah pertama kali, hati saya bergetar. Sekian puluh tahun kami shalat berkiblat kepada Ka’bah, tetapi baru kali inilah saya melihat langsung Ka’bah, doa pun meluncur. ”Maha Suci Allah, Allah Maha Agung”, begitu ucap saya sambil tercekat ketika melihat Hajar Aswad dari pada saat memulai thowaf yang ditandai lampu hijau yang berada di atas menempel di bangunan masjid. Saya pun sudah menyiapkan karet gelang untuk menghitung hingga ke tujuh kali putaran melawan arah jarum jam (Ka’bah berada di sebelah kiri saya).

Suasana thowaf yg selalu padatSuasana barisan manusia memang padat. Ada yang berpakaian umroh seperti kami, tubuh hanya dibalut dua lembar pakaian putih yang tak berjahit. Ada pula yang berpakaian biasa. Ada yang berdoa dengan suara keras, kemudian ditirukan anggota rombongannya. Ada pula yang berdoa dalam gumaman sambil menyimak buku kecil atau lembaran-lembaran doa yang diberi tali digantungkan di leher. Orang-orang besar, tinggi, hitam maupun putih (dari Afrika dan Eropa), mendesak orang-orang kecil seperti kami (dari Asia). Di tengah kekhusukan berdoa terjadi saling desak, bahkan kadang-kadang ada yang tiba-tiba memotong jalan, jalan berzig-zag, bahkan sambil menyikut. MasyaAllah.
Beberapa orang (dari negara lain) bahkan nekat salat di belakang dekat Maqam Ibrahim, padahal arus putaran manusia padat. Itu yang membuat regua kami, antara lain, terkaget-kaget karena terpaksa tiba-tiba harus menghindar agar tidak menabrak orang-orang yang salat itu. Padahal dorongan arus manusia dari belakang untuk terus berjalan ke depan kuat. Kalau kami dalam barisan regu tidak saling menjaga diri bisa jadi ikut goyah dan jatuh.
Setiap saya berada di multazam, daerah antara hajar Aswad dan pintu Ka’bah (tempat berdoa yang paling mustajab), saya curahkan semua doa, untuk saya, keluarga dan doa titipan dari kerabat dan teman-teman di tanah air. Semoga doa-doa saya didengar dan dikabulkan Allah SWT. Amin. Mungkin karena saking khusuknya, salah satu anggota regu kami tiba-tiba mengomando: ”Ini sudah putaran ketujuh (terakhir)”. Lo, karet gelang saya di tangan kiri masih satu, jadi masih enam putaran belum tujuh. Di tengah saling keraguan akhirnya dicapai kata sepakat, lebih baik digenapkan ke atas daripada ke bawah. Artinya, mengikuti sekali lagi putaran.
Sehabis thowaf, kami shalat 2 rakaat di belakang maqam Ibrahim, terus mundur ke deretan kran air zam-zam yang berjejer dan selalu dipenuhi jemaah. Sambil minum air zam-zam yang dingin (di sini tak ada yg not cold, kecuali di dalam Masjidil Haram), yang didahului berdoa memohon kepada Allah SWT (sambil menghadap Ka’bah) diberi ilmu yg bermanfaat, rezeki yang banyak dan kesembuhan dari segala penyakit. Amin. Lalu menuju bukit Sofa dan Marwa untuk sa’i. Suasana memang saling berdesakan karena kami mengambil tempat bersa’i di lantai 1. Lantai 2 memang agak longgar, lantai 3 sedang dibangun.
Sambil berjalan pelan sekhusuk mungkin, kadang berlari-lari kecil ketika melewati batas antar dua lampu neon hijau yang memanjang di atas (ini adalah tempat ceruk (dulu) yg harus dilewati Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, ketika mencari air untuk putranya, Ismail AS). Namun, adab Islam yang harus menghormati sesama jamaah sering diabaikan, termasuk menyerobot hak kaum difabel (different abilities people) yang sudah disediakan jalan khusus untuk kursi roda. Di jalur ini banyak orang yg bukan difabel ikut menyusurinya padahal bukan sanak difabel yang berada di kursi roda.
Askar Masjid Haram sesudah shalatTak pernah terbayangkan oleh saya, bagaimana keadaan jalur Sofa dan Marwa yg membentang sekitar 450 meter dengan sebelas pintu gerbang di sisi-sisinya, ketika pada 1400 H, Juhaiman Al-Utaibi, seorang Wahhabi ortodok dari kalangan suku konservatif Najd, bersama kelompoknya mengambil alih Masjidil Haram dengan cara kekerasan sehingga banyak jamaah tersandera –termasuk dari Indonesia ada juga yang terbunuh, banyak pula yang kemudian dibebaskan. Banyak pasukan Juhaiman bersenjatakan Kalasnikov dan tentara Kerajaan bersimbah darah dan terbunuh (baca “Kudeta Mekkah, Sejarah Yang Tak Terkuak” karya Yaroslav Trofimov, 2007 , koresponden The Wall Street Journal, 2007). Padahal sabda Nabi Muhammad SAW: ”Diharamkan bagimu membawa senjata ke Mekah”. Serta hadis yg lain: ”Tidaklah dibolehkan melakukan perang di Mekah bagi orang-orang sebelum saya, dan tetap terlarang untuk orang-orang setelah saya”.


About this entry