Lilin-lilin Melawan Angin: MENATA IRAMA MENCAPAI MAKNA

Oleh: Evi Idawati

evi-idawatiIrama adalah salah satu unsur pembangun puisi. Banyak pendapat melekatkan pengertian tersebut. Salah satunya, John Dryden mengatakan Poetry is articulate music. Puisi adalah musik yg tersusun rapi. Isaac Newton mendefinisikan puisi adalah nada yg penuh keaslian dan keselarasan (poetry is ingenius fiddle-faddle). Bahkan Roman Ingarden, salah seorang filsuf Polandia memakai metode fenomologi Hussert untuk menganalisa norma puisi. Dia membagi puisi dengan beberapa lapis, dia mengatakan bahwa lapis bunyi (sound stratum) akan menimbulkan lapis selanjutnya, yakni lapis arti (units of meaning). Dari pijakan itulah saya mencoba masuk ke dalam puisi-puisi Slamet Riyadi Sabrawi, yang terangkum dalam kumpulan puisi “Lilin-lilin Melawan Angin”. Ada 55 puisi yang dituliskan dari kurun waktu 1990-2009. 19 tahun bukan waktu yang pendek. Apalagi jika melihat ke belakang, Slamet Riyadi Sabrawi, sudah melalui proses yang panjang. Kepenyairannya dimulai sejak 1970an, bukan hanya menulis puisi tetapi juga menyutradari teater. Menjadi aktor dengan bermonolog. Lulus sebagai dokter hewan dari UGM, berparkatek hingga 1988, kemudian menjadi wartawan di Jakarta. Lalu tahun 1992 kembali ke Yogyakarta. Puisi-puisi yang terangkum dalam buku “Lilin-lilin Melawan Angin” berada pada kurun, hendak dan kembali ke Yogyakarta.

cover-puisiKita tahu, dalam sejarah sastra Indonesia, bunyi, irama pernahmenempati unsur yang dominan dalam puisi. Karena budaya lisan kita yg sangat kental, maka karya-karya sastrapun lebih mengutamakan karya lisan yg mementingkan irama atau bunyi. Contohnya, mantra, pantun dll. Tahun 1970an Sutardji Calzoum Bachri memperkenalkan puisi mantra. Meski pada t1980an unsur irama atau bunyi tersebut tidak menjadi fokus perhatian lagi, bahkan sampai sekarang. Masih tetap pada kecenderungan puisi prosaik baik dalam pengucapanan maupun tipografinya. Tetapi bukan berarti bahwa tidak ada penyair yg tetap mempertahankan irama dalam penciptaan karya. Saya melihat Slamet Riyadi Sabrawi (SRS) salah satunya. Dihitung berdasarkan waktu dan pengalaman SRS, berada jauh di atas saya dalam mengenali puisi. Saya belum lahir, SRS sudah menulis puisi. Tetapi puisi yang baik menurut saya, dia berada pada ranah keabadian. Waktu boleh berjalan dan segala hal berlaku di dunia, tetapi puisi akan tetap ada. Begitupun yg terjadi pada SRS, jika sekarang penyair senior ini membuat kumpulan puisi, saya yakin banyak pencapaian estetis dan pemahaman hidup yg akan dituliskan dengan indahnya. Itulah yg terjadi saat saya membaca puisi-pusinya.

Saya belum pernah bertemu dengan penyair SRS selama saya di Yogyakarta, hanya mendengar nama dari beberapa kali perbincangan dengan Iman Budhi Santosa saat bercerita tentang PSK (Persada Studi Klub).  Ketika kami bertemu dan saya memegang sebuah buku sebagai hadiah yg diberikan pada saya, saya mulai membaca puisinya. Pada halaman pertama, saya terpaku. Tanpa beranjak saya membaca kata-kata yang tertuliskan di dalam buku tersebut. Ada yg mendayu di hati saya. Saya diajak menari dalam imaji. lalu saya membaca dari halaman pertama lagi sampai akhir. Dan lagi. Tentu, pada pembacaan yg kedua dan ketiga berbeda kesannya dengan pembacaan pertama. Saya mulai tertarik untuk menandai, mengapa gerangan saya terpikat. Saya menandai beberapa puisi yg saya cuplik berikut ini. Yang pertama adalah puisi Mikail:

Kemarin kau kabari Mikail mati, aku nyaris tak peduli/Biarlah ia menuju tepi. Sendiri

Kemarin kau sadari Izrail menanti, aku miris pada hari/Biarlah ia menyanyi akhir kali. Sunyi

Hari ini kau kirimi Jibril hati, aku narsis pada nabi/Biarlah ia mendaki tinggi. Sekali

Yogya Juli 2009

Larik-larik puisi di atas, memikat saya. bagaimana seorang penyair memperhitungkan benar irama di dalam puisinya. Bunyi (i) pada bait pertama sampai terakhir begitu tertata rapi. Tetapi suasana yg terbangun sebagai akibat dari pilihan irama (i) di tiap akhir kalimat hadir dalam satu kesatuan yg utuh. Hasilnya memikat. Kental. Ada pola irama yg terstruktur, pola tsb membantu kita mewujudkan makna dari puisi itu. Puisi Bulan Dan Belatung, contohnya:

//Bulan tinggal sepotong. Orang-orang berlarian memperebutkan kepingan lain yang kosong/

//Padahal potongan dan kepingan saling sibuk menghitung/Kapan ia mulai mabuk jadi belatung/

Huruf (o) pada sepot(o)ng, juga huruf (u) pada menghit(u)ng dan belat(u)ng di akhir kalimat bukan tidak disengaja menurutt saya. Penyair berusaha benar menata bunyi, irama di dalam puisi, dengan memilih kata-kata yg tepat untuk menngartikulasikan pikiran dan perasaan penyairnya. Contoh lainnya, Peron. Saya akan menampilkan keseluruhan puisi tersebut:

Tak ada lagi kereta lewat atau berangkat.Hanya ada/rel tua yang menggeliat dan jadwal yang meringkuk/dikerubut rengat

Kenapa kau masih menunggu suara sinyal menjerit?/Padahal peluit itu kau lempar ke langit

Di petamu peron itu jadi noktah yang pasrah. Digilas/sejarah negri berantah

Di matamu peron itu basah.Tak ada desah dan kabar dari negri yang resah

Wates 2009

Tak ada yang meleset. Tepat pada sasarannya. Benar-benar diperhitungkan. Pada bait pertama berangk(a)t, menggeli(a)t, renga(a)t. Kemudian bait kedua, menjer(i)t, pelu(i)t, lang(i). lalu bait ketiga, nikt(ah), pasr(ah), berant(ah) dan bait terakhir, (bas(ah), des(ah), res(ah). Dari bait-bait puisi tersebut di atas, bisa kita liohat bagaimana penyair menata dan teliti dengan b unyi. Irama pada puisinya hadir dari kesadaran berbeda dengan mantra-mantra, bunyi-bunyian yg lahir dari ketaksadaran karena perasaan transedentel penyair saat melantunkan mantra-mantra tsb. Proses penataan itu memberi konsekwensi logis penyair akan menyeleksi ketat kosa kata yg menggunakannya jika tidak merusak irama yg dibangunnya. Maka kata-kata yg tidak perlu disingkirkan. Karena itu pulam puisi-puisinya menjadi pendek dan padat. Semuanya ditata dengan pilihan tepat. Bukan asal pilih saja. Potensi tersebut nyaris hadir dalam semua puisinya yg terangkum di kumpulan puisi “Lilin-lilin Melawan Angin”: Malam Kelam, Sekutuku, Mimpi, Embun, Ruang, Samodir Getir, Debu, Dogma (1-2), dan lainnya. Saya melihat intensitas penyairnya menggarap irama dengan cermat.

Sepertinya SRS sengaja memakai pola itu untuk menghadirkan efek nada bagi pembacanya. Kita tentu tahu, bagaimana irama mampu menjadi kekuatan yg menghipnotis siapapun yg mendengarnya. Maka tak heran saya tidak beranjak saat membaca buku tersebut sampai selesai. bahkan irama yang “ditata” tersebut membuat saya bisa mengembangkan imaji untuk menangkap idiom-idiom yg dipilih oleh penyair. Kenyataan itu menegaskan pada saya bahwa pilihan SRS meneta irama lebih diperuntukkan sebagai salah satu cara mancapai makna. Apakah benar itu yg dimaksudkan oleh penyairnya?

Ya atau bukan, tidak menjadi persoalan, saya hanya mencoba menarik satu kesimpulan berdasarkan fakta yg saya alami dan yg terlihat sebagai struktur pola di dalam puisi-puisinya. Tetapi, seklai lagi, apa yg saya ceritakan di atas menambahkeyakinan saya bahwa pola penataan irama yg tepat bisa mengantarkan kita pada pencapaian makna. Tentu, irama yg akan menjadi kekuatannya. Saat membaca puisi Pekalongan, misalnya, yg berjudul Rumah Tua. Saya miris. Ada yg menyayat hati. Seakan penyair dengan sengaja menyodorkan rindu, getir, dan perjalanan panjang masa silam menjadi segumpal batu. Begitu kuat. Dalam puisi pendeknya tsb, irama dan pilihan kata-katanya mampu menghadirkan “suasana” dengan makna yg begitu padat dan rekat.

srs-menjelaskan-proses-puisinyaSebagai sebuah kumpulan karya, menurut saya, “Lilin-lilin Mlewan Angin” sangat memikat. Menampilkan kualitas karya. Di sana, kita tidak hanya melihat keahlian berbahasa dengan kecermatan dan intensitas yg kuat dalam menempatkan kata untuk mendapatkan irama dan makna, tetapi juga begaimana seseorang mampu mengendapkan pengalaman personalnya yg kemudian dituliskan dengan bahasa yg padat dan mengena. Jika kita berada pada situasi yg sama saat membacanya, akan terasa sekali, bagaimana kata-kata itu menohok kita. Keras.

Kepiawian SRS memilih kata-kata yg tepat dalam puisi-puisinya mengokohkan pernyataan bahwa menghamburkan kata-kata yg tidak perlu, tidak akan memberi arti apa-apa. Tetapi dengan ungkapan yg tepat maka akan memberi kesan yg mendalam. Jangan sampai seperti dalam bait terakhir puisi Bom berikut ini:

//Perang telah kau alihkan, bukan Bima yang kau lawan tapi siapa saja. kau buta meski kau bukan Destrarata//

Salam.

*Evi Idawati, penyair muda Yogya yg juga novelis, pemain teater, sinetron dan pengajar seni di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarata.

**Tulisan ini dimuat di koran Minggu Pagi, Minggu I  Desember 2009, halaman 8.


About this entry