DISKUSI PUISI LINTAS GENERASI

srs-baca-puisi-di-tby231009Pukul 20.00 WIB sebuah sms mendecak di hp saya. “ACRNYA DMN? SY SDH DI TBY.” Waduh! Acara Diskusi Puisi Lintas Generasi yang membahas buku puisi saya (Lilin-lilin Melawan Angin) berlangsung kemarin, Minggu (25/10). Pengirim sms tersebut adalah Prof Drs H. Jabrohim, penyair dan pengajar sastra di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Situasi bisa gawat kalau saya diamkan, karena ketika sontak saya telepon ke hpnya. “Acaranya kan kemarin malam,” saya menjelaskan. “Tapi dalam sms yang anda kirim dituli Senin/25 Oktober 2009”, jawabnya. Hah! Saya langsung cek copy sms yang terkirim ke beliau, eh ternyata memang saya tulis begitu. Jadi, soal hari saya salah, soal tanggal saya benar. Membingungkan memang. Saya langsung meminta maaf kepada sobat lama saya ini yang Rabu (28/10) akan menyampaikan orasi bertajuk “Sastra di Muhammadiyah” di Kampus UAD II.


evi-idawatiSaya langsung menghitung jumlah undangan dalam bentuk sms serupa, namun sebagian besar hadir pada Minggu malam kemarin, sebagian kecil tak hadir dan tak ada complain. Malah beberapa “Legenda” Yogya ikut serta berdiskusi meski saya lupa mengundangnya. Sorry ya, mas Untung “Legenda” Basuki, yang terus gigih sejak saya muda memusikalisasi puisi. Ketika saya masih berpacu di Persada Studi Klub, Untung sudah menjadi anggota senior Bengkel Teaternya Rendra. Ia yang jago bermain gitar kemudian menulis dan menyutradari drama musik berjudul “Di Luar Rumah” (diproduksi Sanggar Bambu) serta mementaskannya berkeliling bersama komunitas seniman muda Yogya. Di komunitas inilah saya (memainkan monolog “Kasir Kita”nya Arifin C.Noor), Emha Ainun Najib, Linus Suryadi (alm) membaca puisi, Deded L. Murad (menyanyikan puisi Umbu Landu Paranggi) dan Ebiet G. Ade (menyanyikan puisi Ainun, sebelum ia ngetop di album Camelia) dan belasan kawan lain manggung, antara lain di kampus Universitas Brawijaya, Malang.untung-lagenda-basuki-ikut-berdiskusi
Hadir juga, di luar perkiraan saya, Suharyoso SK. Beliau “legenda” Teater Gadjah Mada, mahasiswa UGM, yang kala itu (tahun 1970an) juga rajin pentas keliling (ke Institut Teknologi Bandung, terus ke Pekalongan). Anehnya peran saya di komunitas ini, selain menjadi anggota dimana saya bisa menimba ilmu teater, saya menempatkan posisi sebagai “kritikus teater” (gile banget) dan menuliskannya (mengabarkannya) di koran mahasiswa UGM “Gelora Mahasiswa” (karena saya redaktur budaya, ceilah). Bagi kami yang muda kala itu, sosok Suharyoso SK identik dengan teater itu. Ia pendiri, sutradara, pemain. Namun, aktor yang hebat di teater mahasiswa itu, dan hingga kini tetap setia kesenian adalah Landung Simatupang. Suaranya dahsyat, aktingnya ciamik. Sehingga malam itu sangat menggairahkan dan membahagiakan saya: landung-ikut-membahas-llmaLandung membacakan 6 (enam) puisi saya.
Tiga puisi saya yang lain dibaca Helga Korda. Ia adalah aktris utama drama musik “Di Luar Rumah”, seorang pemetik gitar dan penyanyi yang piawai kala itu. Ia sekarang menjadi nyonya Ashadi (Di Kampus Biru) Siregar, ibu dua orang anak laki-laki remaja. Ia bersedia dan bersemangat membaca puisi saya. Tentu saja ada beberapa pendekar perpuisian yang lain: Iman Budi Santoso (dedengkot PSK), Joni Ariadinata (penyair/cerpenis). Juga hadir wartawan senior Erwan Widiarto (Jawa Pos), dan pemberi kesaksian bagi saya dan kawan-kawan muda angkatan 1970an di Yogya, bang Fauzi Rizal. Dialah senior bagi gerakan mahasiswa dan anak-anak muda yang gigih menentang Orde Baru. “Saat itu, Slamet selain penyair adalah aktivis mahasiswa. Ketika berdemo ia juga membaca puisi,” kenang Fauzi.
Sekitar 50an orang, sebagian besar anak-anak muda (ada dari kelompok teater mahasiswa dan penggiat kesenian). 25 buku puisi saya yang saya bagikan gratis ludes sebelum acara dimulai pukul 20.30 WIB. Karena itu Untung Basuki yang datang pukul 21.00 sudah tidak kebagian. “Pokoknya saya harus dapat buku puisi ini. Kalau harus beli, berapa harganya. Kalau nggak boleh dibeli tak colong”. Gerr. Semua peserta diskusi tertawa. Begitulah gaya Untung.
srs-menjelaskan-proses-puisinyaKini nasib puisi saya di tangan Evi Idawati. Ia penyair, novelis, aktris sekaligus pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI). Ia tampil cantik. “Irama adalah salah satu unsure pembangun puisi. Puisi, kata John Dryden, adalah music yang tersusun rapi,” begitulah kata pembuka Evi dalam membuka diskusi. “Puisi yang baik menurut saya berada pada ranah keabadian. Waktu boleh berjalan dan segala hal berlaku di dunia, tetapi puisi akan tetap ada. Begitupun yang terjadi pada Slamet Riyadi Sabrawi. Jika penyair senior ini membuat kumpulan puisi, saya yakin banyak pencapaian estetis dan pemahaman hidup yang akan dituliskan dengan indahnya. Itulah yang terjadi saat saya membaca puisi-puisinya.”
Kenapa Evi Idawati saya pilih menjadi pembahas puisi-puisi saya malam itu? Saya sebenarnya “blank” dengan nama maupun aktivitas penyair muda di Yogya. Ketika buku ini diluncurkan di LP3Y (7/9) Prof.DR Suminto A. Sayuti saya anggap mewakili generasi senior. Dan ketika menjaring penyair muda, maka beberapa penyair sahabat lama saya merekomendasikan Evi. Saya kenal bahkan ketemu pun belum pernah.
“Saya belum pernah bertemu dengan penyair Slamet Riyadi selama saya di Yogyakarta. Hanya mendengar nama dari beberapa kali perbincanganiman-budi-santoso-guru-puisi-yogyadengan Iman Budhi Santosa saat bercerita tentang PSK (Persada Studi Klub). Ketika kami bertemu dan saya memagang sebuah buku sebagai hadiah yang diberikan pada saya, saya mulai membaca puisinya. Pada halaman pertama, saya terpaku. Tanpa beranjak saya membaca sampai puisi halaman terakhir. Ada kesan kuat yang menarik saya untuk tetap berkutat membaca kata-kata yang tertuliskan di dalam buku tersebut. Ada yang mendayu di hati saya. Saya diajak menari dalam imaji,” tutur Evi, penyair perempuan asal Demak ini.
“Saya mulai tertarik untuk menandai, mengapa gerangan saya terpikat,” lanjutnya. Saya cuplik puisi berikut (MIKAIL halaman 8): Kemarin kau kabari Mikail mati, aku nyaris tak peduli/Biarlah ia menuju tepi. Sendiri Kemarin kau sadari Izrail menanti, aku miris pada hari/Biarlah ia bernyanyi akhir kali. Sunyi hari ini kau kirimi Jibril hati, aku narsis nabi/Biarlah ia mendaki tinggi. Sekali
Larik-larik puisi di atas, memikat saya. Bagaimana seorang penyair memperhitungkan benar irama di dalam puisinya. Bunyi (i) pada bait pertama sampai terakhir begitu tertat rapi. Tetapi suasana yang terbangun sebagai akibat dari pilihan irama (i) di tiap akhir kalimat hadir dalam suatu kesatuan yang utuh. Hasilnya memikat. Kental. Ada pola yang terstruktur, pola tersebut membantu kita mewujudkan makna dari puisi tersebut,” bahas Evi.
Ada beberapa puisi saya yang dibahas Evi (selengkapnya akan saya pasang di blog mendatang). Kesimpulan Evi: “Sebagai kumpulan karya, menurut saya, Lilin-lilin Melawan Angin sangat memikat. Menampilkan kualitas karya. Di sana, kita tidak ahanya melihat keahlian berbahasa dengan kecermatan dan intensitas yang kuat menempatkan kata untuk mendapatkan irama dan makna, tetapi juga bagaimana seseorang mampu mengendapkan pengalaman personalnya yang kemudian dituliskan dengan bahasa yang padat dan mengena.” Kata-kata itu, kata Evi, menohok kita. Keras. Ia kemudian menutupnya dengan mengutipnya pusisi saya berjudul BOM (halaman 5): //Perang telah kau alihkan, bukan Bima yang kau lawan tapi siapa saja. Kau buta meski kau bukan Destrarata//
Pukul 22.30 diskusi yang digelar sambil duduk di atas tikar, dengan cemilan kacang godog, ubi jalar dan pisang godog juga teh dan kopi, inipun berakhir. Gerimis mulai membasahi halam luar ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta. Selamat malam.


About this entry