SEHARUSNYA PUISI DIBACA DI SINI

Dari ki-ka: Cak Nun, saya, Mustofa W.Hasyim, Cak Madi

Dari ki-ka: Cak Nun, saya, Mustofa W.Hasyim, Cak Madi

Sudah lama saya tidak bertemu Cak Nun. Paling sering ketemu dia, di sela menunggu keberangkatan atau kepulangan, di bandara Yogya atau Cengkareng. Beberapa kali saya telepon ke hpnya, nadanya sibuk. Saya maklum beliau super sibuk. Jadi ketika minggu lalu ia menerima telepon saya, meski aia berada di Singapura, saya lega. Langsung saja kuutarakan maksud saya menghubungi dia. “Saya mengundang cak Nun dalam diskusi puisi lintas generasi di TBY, Senin malam (25/10), bisa hadir?”, tanya saya. “Insyaallah kalau saya tak ada acara. Nanti saya cek kegiatan saya,”jawabnya. Saya lega. Saya bersemangat mengundang dia, meski bukan sebagai pembahas utama (karena ini jatahnya kaum muda), karena dalam buku kumpulan puisi saya “Lilin-lilin Melawan Angin” nama cak Nun disebut sebagai seorang yang menjadi salah-satu penyemangat saya membuat sajak. Sama-sama seangkatan di Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi.

Ketika kabar ini saya sampaikan ke Mustofa W.Hasyim, penyair dan sahabatku yang menawari saya berdiskusi puisi di TBY, ia malah mengusulkan kalau kita datang ke acara mocopatan di rumah cak Nun di Kasihan Bantul. “Biasanya tanggal 17 malam, tapi ini diundur 22 malam,”ajaknya. Saya langsung setuju. Semula saya gamang karena di komunitas itu saya nyaris tak banyak yang kenal. “Lo kan ada Muzaki, adik cak Nun dan Helmi, panitia yg istrinya dulu di LP3Y,” jelas Mustofa. Oke. “Tapi ini acaranya sampai jam berapa?” tanya saya. “Biasanya sampai pukul 3 pagi,” jawab penyair yg juga redaktur Suara Muhammadiya ini. Hah!

Sesudah saya menyampaikan kabar ini, sekaligus menawari istri saya kalau

Cak Nun berkomentar, menyentil, mengkritisi dengan cara mocopatan

Cak Nun berkomentar, menyentil, mengkritisi dengan cara mocopatan

berkenan mau hadir juga, dan ternyata istri saya tak bersedia karena lagi sibuk menyelesaikan disertasinya, ya dari kantor saya langsung tancap ke Kasihan, Bantul. Tempat acara di TK Alhamdulillah saya tahu. Pukul 8 malam tepat saya sudah sampai di pelataran rumah cak Nun. Baru satu dua yang datang, tapi angkringan, pedagang kaki lima (buku, kaos dan CD Kiai Kanjeng) sudah digelar. Karena saya baru kali ini datang, ya masih tengok sana tengok sini. Saya telepon Mustofa, sudah sampai di posisi mana ia menuju Kasihan. Ketika tak lama ia datang, ia langsung mengajakku lewat pintu belakang rumah cak Nun. (Kalau sendiri mana saya tahu, jangan-jangan nyasar ke rumah orang). Ternyata di samping rumah itu ada ruang seluas 3×3 meter disediakan buat orang-orang yg kebagian tempat karena di situ ada layar yang disorot LCD tentang kegiatan di panggung saat itu.

Tetapi Mustofa mengajak saya ke sebuah pintu dan masuk ke sebuah ruang, ternyata di dalam ada cak Nun dan Novia, istrinya, bersama keluarga besar cak Nun (termasuk Adil Amrullah, sobat lama saya juga yg sekarang tinggal di Malang) berlesehan. “Ayo, makan dulu, Met,” ajak cak Nun. Dalam ruang itu memang sudah disediakan makan malam (mihun goreng, tempe mendoan, kuah daging dan krupuk). “Kalau ke sini harus makan dulu,” ujar Mustofa. Padahal sebelum ke sini saya sudah makan. (Tahu kayak gini tadi gak usah makan dulu ya).

Sambil lesehan dan ngobrol dengan cak Nun, ia minta maaf karena tak bisa datang di TBY berkaitan acara pentas kiai Kanjeng di Hongkong (24/10) lalu di Semarang (25/10). Ia lalu meminta saya membacakan puisi-puisi saya yang akan dibahas di TBY di komunitas Mocopat Syafaat malam ini. “Kebetulan malam ini saya juga kedatangan tamu dari Surabaya, cak Madi, penyair yang sehari-harinya adalah sopir becak,” ujar Cak Nun. Tak lama cak Madi datang bersama rombongan Bangbang Wetan (komunitas yg dibentuk Mocopat Syafaat di Surabaya). Puisi cak Madi ditulis dalam sebuah buku tulis bergaris dengan ballpoint

srs-baca-puisi-mustofa-dan-cak-madiPukul 09.30 WIB Cak Nun menuju panggung yang tingginya sekitar 30 cm. Di panggung itu para keluarga Kiai Kanjeng (KK) beserta perangkat musiknya siap beraksi. Cak Nun duduk bersila di panggung itu di depan pemusik KK. Cak Madi, Mustofa W. Hasyim dan saya juga duduk bersila di sebelah cak Nun. Ia memanaskan acara dengan doa dan nyanyian, baru kemudian mempersilakan saya lebih dulu untuk memperkenalkan diri dan membaca puisi. Baru kemudian giliran cak Madi dan Mustofa (yang sudah dikenal komunitas ini karena sudah sering hadir di sini).

Semula ketika ditawarin cak Nun untuk baca puisi di panggung saya grogi. Karena kedatangan saya semula memang hanya untuk silaturahmi dan ikut bermocopat, e la kok disuruh baca puisi. Padahal buku puisi saya itu tertinggal di mobil yang saya parkir sekitar 100 meter dari rumah cak Nun. Jadi terpaksalah saya berlarian mengambil buku tersebut.

Alhamdulillah, adrenalin saya pada track yang benar. “Seharusnya puisi-puisi dibaca di sini, di hadapan rakyat. Bukan di gedung kesenian megah yang dihadiri para seniman elite atau mereka yang mengaku intelektual,” seruku dalam hati. Puisiku dan puisi cak Madi dinikmati dengan sahaja, diperlakukan sama. Padahal puisi cak Madi, yang lahir deras dari waktu menunggu penumpang becak yang kalah bersaing dengan tukang ojek, terasa lebih egaliter. Dengan gaya Soroboyoan ia membaca puisi, yang kadang di tengah membaca ia berhenti lalu menjelaskan apa yang ia maksudkan radio berbatere 2 yang diikat kain. “Karena saya, istri dan 4 anak saya hidup berdesakan di ruang 4×4, tak punya tv cuma punya radio yang baterenya dua buah dan sering lepas. Karena itu istri saya mengikatnya dengan kain,” tutur cak Madi. Tetapi saya bersyukur istri dan anak-anak saya menerima kehidupan ini, ungkapnya. Ketika cak Nun bertanya: “Kalau misalnya sekarang cak Madi diberi pilihan mengulang kehidupan, apakah akan memilih kehidupan yang seperti ini atau yang lain?” “Saya pilih yang sekarang,” tegas cak Madi. “Kalau memilih mengulang tapi sekarang dilimpahi harta bagimana?”lanjut cak Nun. “Tetap saya memilih begini,” jawab penyair Surabaya ini. Hadirin dan hadirat pun gemuruh lalu cak Nun memandunya dengan doa.

Saya semula menebak di malam itu akan banyak tauziyah disampaikan cak Nun. Ternyata salah. Cak Nun lebih banyak mengajak berdoa, berzikir, dengan bacaan yang indah kadang diiringi musik KK. “Acara yang diselenggarakan tiap tanggal 17 masehi ini lebih banyak dipakai cak Nun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari jamaah atau merundingkan masalah apa saja dengan keadilan berpikir dan kejernihan hati, sehingga ia tidak perlu berceramah sebagaimana di acara yang lain. Cak Nun memuncaki acara ini dengan mengajak bersama-sama untuk sholat, wiridan, sholawatan dan do’a”, munurut sohibul bait. “Sehingga yang ditawarkan acara ini adalah spiritualitas, estetika dan kemesraan kemanusiaan”.

Dari ki-ka: Cak Nun, saya, Mustofa W. Hasyim, Cak Madi

Dari ki-ka: Cak Nun, saya, Mustofa W. Hasyim, Cak Madi

Setidaknya malam itu saya memperoleh pemahaman bagaimana puisi dibaca di hadapan orang-orang yang merdeka. Ternyata sentilan, kritikan cak Nun pada keadaan yang sedang actual, selalu memperoleh respon hangat di komunitas ini. Apalagi disampaikan dengan cara nJombang (ada Gusdur dan Asmuni) ala Ngayojokarto (ini yang tak dimiki Gusdur dan Asmuni). Barangkali ini kelebihan cak Nun atawa Emha Ainun Najib. Jam mendekati pukul 3 dini hari ketika kami serentak berdiri dan khusyuk mengucap solawat Nabi. Seakan Nabi menuju ke komunitas ini. Amin.


About this entry