Melongok ke Pesta Blogger Jogja 2009

pestabloggerjogja2009Pesta itu kopi. Kopi memang disuguhkan, gratis nian. Dan karena se-cup –mo bilang cangkir tapi itu bukan cangkir ya cup—gratis, maka ngantri. Selain cupnya disediakan banyak, kopinya juga ada neragam: Gayo, Lintong (bukan Sintong, meski sama-sama dari Toba), Toraja, Mandehling (d/h Mandailing), Java, Wamena. Yang jelas ini bukan pesan sponsor, meski yg nggratisin kopi ini salah satu sponsor pesta ini.
“Pesta blogger ini berarti kopi darat,” kata Momon, panitia pelaksana Pesta Blogger 2009 Jogja, mengawali acara itu pada Kamis (15/10) di Art National Museum. Karena saya baru nyahok kalau ada pesta ini Kamis pagi ketika baca “Kedaulatan Rakyat”, padahal pendaftaran peserta sudah ditutup, maka berusahalah saya sekuat tenaga agar bisa nyusup di pesta kopi darat itu. Dan orang yang saya kontak pertama ya Momon atawa Suherman ini, sesudah meminta “orang pusat” nomor hp beliau, namun karena sudah 200 orang blogger yang mendaftar maka sayapun dimaksudkan dalam daftar tunggu. “Tolong datangnya lebih awal ya?” pintanya. “Lebih awal itu jam berapa?” tanya saya. “Acara dimulai pukul 18.30 WIB, jadi ya sebelum itu. Nanti ketemu saya dulu”. Dan saya pukul 18.00 pas sudah berada di tempat acara, menunggu Momon yang belum datang.
Beruntunglah saya, sesudah alam menunggu, bos Rumahweb datang. Kebetulan ia dan istrinya lupa bawa undangan (karena sponsor maka diundang), jadi dengan alasan lupa itu saya bisa nunut. Dan ia pasti segan menolak karena saya adalah pamannya. KKN nih ye.
Saya memang penasaran pengin tahu kayak apa seh kopi darat itu? Apa ada hubungannya dengan buaya darat yang lagi bermusuhan dengan cicak darat? Kopdar, begitu para blogger menyebut, adalah acara temu muka di darat, setelah sekian lama (bisa seminggu dua minggu) mereka ketemu di dunia maya. (Jadi sebenarnya pertemuan para blogger ini bukan di udara, sehingga kemudian diperlukan pertemuan di darat. Menurut saya yang lebih tepat ya kopi fana, karena pasti aka nada lanjutannya: kopi baka). Saya curiga para blogger ini sangat kesemsem slogan RRI: Sekali diudara tetap di udara!
Menurut sahibul bait, acara ini digelar (oleh komunitas CahAndong Yogya) sebagai rangkaian kopdar setahun sekali yang dilakukan blogger se Indonesia. Ntar, puncaknya di Jakarta (14 Oktober 2009). Nah, acara di Yogya ini selain pemanasan (bukan manas-manasin, apalagi malu-maluin) untuk acara puncak tersebut (yang ternyata juga di gelar di Surabaya, Bandung, Bogor, Palembang dsb). Juga bagi yang gak sempat datang ke Jakarta (untuk orang Yogya dan sekitarnya) yah bisa datang dan kopdar juga di Art Museum Nasional (yang ternyata bekas sekolahan teman-teman saya dulu, ASRI. Gampingan bro). Yang kata Ashadi Siregar, novelis Cintaku Di Kampus Biru yang dulu kondang itu, Gampingan adalah salah satu “mandala” Yogya, kedua adalah Tugu dan Malioboro (dimuat dalam Pengantar buku puisi saya bertajuk “Lilin-lilin Menantang Angin”. Sudahkah dikau punya buku penting itu? Penting menurut saya he..he..).
La, lalu apa yang saya dapat dari acara itu? Kopi Lintong gratis, pasti. Maunya, sebagai kopi-mania, semua kopi itu mau saya cicip, tapi kok –bukan malu— cuma ntar kalau jantung saya keras berdetak lantas mengakibatkan dinding museum retak, lantai retak, terus para blogger itu berteriak histeris dikira gempa bagaimana. Wong Padang saja belum rampung. Selain kopi, jajan pasar dan gudeg suwir ayam + telur ayam separuh, saya juga cicip. Sejujurnya bukan lagi cicip wong saya belum makan malam. Jadi sepincukpun oke. Maunya menang segala hasil budaya Yogya (tapi ada tari Bali dan Papua juga lo) dituang di situ: ada tari gejok lesung dari ibu-ibu Nitiprayan (ini anatara lain besutan seniman grafis Harry “Ong” Wahyu, yg memang warga Nitiprayan), ada batik tulis dan praktek menyanting (menggambar batik dengan canting yang diisi malam). Ternyata para blogger banyak meminati seni membatik ini, terbukti ada yang menonton praktik nyanting itu dengan serius, ada pula yang ikut mennyoba nyanting. Mumpung gratis pula he..he..
Wuah kalau cerita Batik pasti banyak. Konon, Batik Kraton Yogya yang sering dikenakan sebagai “jarik” (ojo sok serik atau jangan sering benci) sudah mengalami berbagai modifikasi: Ada motif Karaton, Larangan dan Sudagaran. Tapi yang menarik adalah Batik Pasca Gempa. Ini tentu imbas dari gempa yang menimpa Bantul 27 Mei 2006. Karena bahan baku susah maka kain pun dipilih yang sederhana (jenis mori) bukan yang bermutu prima. Sederhana tapi warnanya beragam: ungu, baby blue, coklat muda dsb. Seronok kayak batik Pekalongan? Sayang tak ikut digelar di situ
Jadi, saya mendapat suasana yang cair, mengalir, dari luapan jiwa anak-anak muda yang bersemangat, sampai pada: O ini to yang namanya Enda Nasution, presiden blogger Indonesia (bukan versi KPU tentu saja tapi versi KPI/Komunitas Perblogeran Indonesia), Ndoro Kakung (nama maya Wicaksono/wartawan Koran Tempo), Iman Brotoseno (nama KTP) dan sebagainya. Senang to? Hepi to? Kalau tak hepi, tidur lagi.


About this entry