Diskusi Buku Puisi “Lilin-lilin Melawan Angin”

,Lilin-lilin Melawan Angin,Sajak-sajak Slamet Riyadi Sabrawi
cover_puisi-siapcetakCatatan: Suminto A. Sayuti
1. Kesadaran bahwa dalam sajak modern, efek puitis hendaknya terbebas dari tuntutan moral atau pikiran tentang fungsionalisasi sajak bagi khalayak, agaknya telah menjadi tesis kreatif Slamet Riyadi. Menghidarkan diri dari proses abstraksi.
2. Terdapat upaya mengabadikan kenangan dan peristiwa menjadi peristiwa komunikasi puitis. Karenanya, Slamet cenderung memilih “grenengan”, gumam, atau solilokui. (SAJAK CINTA.Alangkah mudahnya menulis sajak cinta bila kata tak lagi mendera, hati riang bernyanyi/Adapun suara tak lagi bergumam ketakutan dicemburui detak jam/Alangkah ringannya menulis cinta bila tak ada awan berlindung di balik hujan menutupi bayang/Adapun hujan membanjiri kata menjadi puisi menjalin hari.) Pembaca tidak dilibatkan dalam pikiran-pikiran tertentu, abstraksi tertentu, tetapi lebih dilibatkan pada suasana hati yang khas, dengan perasaan tertentu.suyuti-resize
3. Pilihan kata lebih diupayakan sebagai sugesti. (KUTULIS INI SEBAGAI DURI. Kutulis ini sebagai pengingat yang abai pada nilai dalam kebarengan yang diredam di ruang tempat gumam berloncatan geram. Siapa mendekam dalam dirimu, duri atau sekam?/Kutulis ini sebagai penanda kebangkrutan melanda ringkasan kiriman dari ratusan kota yang kau redam dengan igauan kelam. Siapa bunyikan dentam menghatamku, kata atau suara?/Kutulis ini sebagai genggam melumat batasan kepantasan dan kepatutan dipajang di dinding diam yang menyimpan selaksa tanda. Siapa dirimu berani memberangusku, dewi atau dewa?) Karenanya, sajak-sajak pun hadir tanpa beban makna. Pembaca diberi kemerdekaan untuk mengkonstruksi makna itu, misalnya dengan melakukan kontekstualisasi, dengan mengkomparasikannya dengan situasi lain (yang pernah ada atau teralami), termasuk situasi kedirian pembaca yang bersangkutan. Akibatnya, makna sajak pun suatu ketika menjadi luput, kemudian terpegang, dan bisa luput kembali. Terdapat peristiwa pengelakan dan penundaan makna yang terus-menerus dalam peristiwa perburuan makna.
4. Perangkat-perangkat realitas yang tersaji dalam sajak merupakan sarana untuk membangun sebuah tegur-sapa “dari hati ke hati” . Terhadap perangkat yang tersaji itu, pembaca boleh saja menerimanya sebagai kias, boleh juga menerimanya sebagi sesuatu yang akan terus berubah sesuai dengan suasana hati tatkala mengadakan persemukaan dengannya. Jadi, ekspresi verbal sajak hanyalah sebiji suasana, yang dalam dan melaluinya pembaca dipersilakan untuk melakukan abstraksi. (PEKALONGAN (3).Kota ini berisik, mampat, becak terdepak/seperti kotamu lain/Hujan tak lagi menyirami tanah/Megono tak lagi wangi. Hilang kenduri, tinggal serapah/Kali Lojimu menatap kelu, hilang rindu. Siapa berpijak/Sawah, seperti kotamu lain, hilang tak berperi/Orang-orang bergegas bawa kabar tak jelas. Sua di batas/cadas dan hiruk . Gedung, taman, kian terpuruk/Engkaukah itu meringkuk di sela mimpi buruk?) Dalam konteks semacam ini, imaji menjadi penting, dan jika pembaca bersikeras menghendakkan pengertian, melalui imaji yang membangun suasana itulah boleh jadi pengertian diderivasikan.
suasama-diskusi-puisi-lilin-lilin-melawan-angin-resize5. Jadi, untuk apa membaca sajak-sajak serupa karya Slamet ini? Jawabannya tidak bisa dipisahkan dari hakikat sajak sebagai diyakini penyairnya. Menikmati sajak sajak Lilin-lilin Melawan Angin ini dengan saksama akan kita tangkap bahwa Slamet meyakini sajak sebagai “sebuah rumah” tempat menyemayamkan pengalaman diri tatkala bersentuhan dengan dunia luar: diri liyan (the other), semesta, dan bisa jadi juga, keagungan yang muncul dari berbagai hal. Sajak, dengan demikian, bukan sebuah konstruksi keindahan kata tempat fatwa, petuah, nasehat, ajaran, dan keraifan dikapsulkan. Sajak tidak harus mengedepankan kata-kata indah sekaligus juga tidak mengedepankan isinya. Karenanya, pentingnya membaca sajak semacam karya Slamet adalah untuk meneguhkan kembali ikatan spiritual-batiniah kita dengan kehidupan. Hanya itu. Implikasinya, pembaca tetap berpeluang untuk mengarifi kehidupan usai menghayati sajak-sajak.
6. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa Slamet rupanya tetap menghayatisastrawan-yogya-menyimak-diskusi-puisi-hamdy-saladmukhotibmustofa-whheri-leowedha-asmara-depan-ki-ka-resizeungkapan Ronggowarsito dalam Sabdajati. Dalam proses penciptaan saja-sajaknya: angayomi ing tyas wening, weningin ati kang suwung, ning sayektine isi (Melindungi hati yang bening, hati bening yang kosong, tetapi sebenarnya berisi). Tradisi ini memang tradisi yang diteguhkan oleh teman-teman di Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi, yang dalam konstelasi persajakan Indonesia modern dipelopori oleh Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono.

Prof. DR. Suminto A. Sayuti adalah penyair, gurubesar sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta.
**Pokok-pokok pikiran ini disampaikan pada Diskusi Puisi “Lilin-lilin Melawan Angin”, 7 September 2009 di Pendopo LP3Y, Yogyakarta.


About this entry