JALAN KRAMAT TUJUH

kramat-viiPutik-putik jiwa yang selalu terjaga di sepanjang jalan sempit itu mengunyah waktu di antara jam tenggat para tetua yang kebanjiran umpat. Tak ada tempat bagi pikiran mampat. Lalu para perapat beringsut cepat

Gedung tua yang berderak lantainya itu tak menyisakan detak buat orang yang menggelegak mencatat segala gerak. Berapa harta yang sudah kau kelola lalu kau letakkan dalam peringkat yang kau suka. Itukah bualan ataukah jualan yang kau jadikan penutup pekan?

“Tugas kita hanya mencatat dengan angka,bukan kata yang bersendawa,” kata Duryudana dari ruang muka, tempat sidang para Kurawa. Lewat jendela tua murka kadang merajalela tanpa jeda. Adakah dahan patah karena amarah?

Di jalan itu dua pasukan selalu siaga mengendus angin berhembus siapa duluan menuju Kurusetra. Padahal padang itu lengang tak ada lagi pedagang menyisakan perang. Bahkan genderang hilang menyisakan petang

Jakarta 2009


About this entry