AWAS, BILA NAIK UNTA

Ustadz Faturohman Kamal(Selain pengetahuan & praktek keagamaan harus kompetent, seorang pembimbing haruslah bersikap sebagai fasilitator. Komunikatip dan punya empati. Komunikatif artinya harus banyak mendengar & berbicara dg banyak orang, secara efektif. Empati berarti harus bisa menempatkan diri pada berbagai kondisi orang yang difasilitasi. Apakah pembimbing haji sudah memiliki kriteria ini? Barangkali, dalam bimbingan haji kali ini, pak Faturohman adalah salah satu rujukan KBIH Aisyiyah).


Suasana thowaf di sekeliling Ka’bahSelasa,11 Des 2007: Sehabis subuhan dari masjid Haram kami beli sayur ala Indonesia, onde2 & tempe, juga sayur pare (1 rial) di area terminal bis ulang-aling Aziziyah-Masjid Haram, depan maktab kami. Di maktab para ibu yang tidak ke Haram sudah masak bakmi godog dengan sayur sawi. Lumayan buat tambah stamina. (Sementara roti ala Arab seharga 1 rialan masih 2 tangkup di lemari es). Dhuhur & Asyar kami berjamaah di maktab, Mahgrib & Isya di Haram. Meski kami berenam (Sugeng & istri, saya & istri, Pujo & Hoddin) berangkat ke Haram pukul 4 sore, padahal maghrib baru pukul 17.35, masjid sudah penuh. Kami, akhirnya dapat tempat di lantai 3 sementara, ibu2 di lt.2. Beruntung saya bersebelahan dengan Mehmet Emerca, jemaah asal Istanbul, Turki, yang ramah. Ia bercerita bahwa ongkos haji standar bagi jemaahnya adalah 2200 dolar Eropa (atau sekitar Rp 13.500 x 2200 = Rp 29,7 juta) ya masih murahan kita sedikit.


Bersama istri naik unta di depan Jabal RahmahRabu (12/12) pukul 8 waktu setempat. Kami berangkat ke Arafah, bukan untuk wukuf tetapi berwisata sekalian melihat-lihat kayak apa to Arafah itu. Sebelum berangkat ada sebuah pengumuman yang ditempel di lift bahwa seluruh jamaah yang nginap di maktab 714 memperoleh pengembalian sewa penginapan 300 rial. (Dulu di Madinah dikembalikan 100 rial, alhamdulillah, buat tambahan sangu). Di Arah ternyata kami hanya melintas, kemudian menuju Jabal Rahmah. Meski restoran masih pada tutup tetapi jamaah lain (baik dari Indonesia maupun negara lain) cukup banyak. Di pelataran sebelum menuju Jabal rahmah banyak terdapat pedagang kaki lima yang menjual oleh-oleh (sajadah maupun kerajinan lain). Banyak pula unta yang dihias kemudian disewakan untuk dinaiki atau sekedar berfoto-ria. Saya dan istri tertarik untuk naik salah satu unta tersebut. Kami tidak tahu persis bagaimana kondisi “persewaan” unta ini. Hanya kata pak Tarjo (ketua rombongan 3) sewanya 10 rial. Kami berdua pikir dengan uang sejumlah itu bila bisa naik unta dan berkeliling di sekitar itu lumayanlah. Eh, ternyata naik untanya gratis, tapi jepretan foto polaroidnya (oleh pembawa unta) itu yang bisa jadi “senjata pemerasan”. Begitu kami naik langsung saja jeprat-jepret polaroid beraksi. Semakin banyak dijepretkan semakin banyak pula si pembawa unta itu menangguk untung. Harga 1 jepretannya pun ia paksa 20 rial. La kalau 10 jepretan, padahal posisi yang difoto asal-asalan bisa-bisa kami harus bayar 200 rial. MasyaAllah. Karena itu begitu ia menjepret kami 5 kali langsung saya minta berhenti, langsung saya bayar 50 rial. Karena deal pertama hanya 10 rial sekali jepret. Meski ia terus memaksa kami bayar 100 rial. Ini pelajaran pertama ditipu orang Arab di Arafah. “Makanya lain kali harus jelas dulu dealnya,” kata istri saya. Namun, saya tak yakin apakah orang-orang semacam itu benar-benar pegang janji. Akhirnya niat mau naik ke Jabal Rahmah (konon tempat bertemunya Adam & Hawa) urung. Gara-gara naik unta.


Makan siang bersama dg menu IndonesiaSebenarnya wisata ini sekaligus melihat poisi tempat melempar jumrah dan sebagainya. Tetapi karena pembimbing kami ketiduran di bis, ya akhirnya lewat. Lewat, atau melalui tempat yang diagendakan, tetapi karena tak ada yang berhalo-halo memberi tahu ya blabas saja. Sampai kemudian kami tiba di suatu tempat kayak pelataran dimana kami bisa melihat dari kejauhan orang-orang mendakit Bukit Hira. Berfoto bersama sebentar, lalu balik ke maktab pukul 11.30. kami seregu berharap bisa makan siang di maktab dari jatah yang dibagi panitia tadi pagi (karena kami sudah sarapan dari maktab). Ternyata begitu akan dimakan bersama-sama ternyata sudah basi. Jadi, jatah makan di sini memang tak bisa disimpan lebih dari 2 jam. Cuma, jatah makan kali ini diberikan dalam kotak alufoil yang polos. Tak seperti jatah makan di Madinah, misalnya, yang selalu dalam kotak alufoilnya ada peringatan dari jasa boganya kalau makanan tersebut tak boleh disimpan lebih dari 2 jam. Syukurlah, masih ada abon yang dibawa dari tanah air. Sore harinya kami bertiga (saya, Pujo, Sugeng) ke Haram berjamaah maghrib & isya. Pak Hoddin dan istri ke Haram juga tetapi berangkat lebih dulu karena ada janji ketemu dengan keluarga. Sedang ibu-ibu regu kami yang lain kecapaian. Bertiga kami menuju lantai 2, suasan sudah padat jamaah. Tetapi kami nekat saja cari celah. Pokoknya, tekad kami, tak perlu harus kumpul bertiga untuk mendapatkan saf. Tetapi saling mengingat posisi masing-masing sehingga ketika mau pulang bisa bersama lagi. Oleh karena itu pak Pujo dapat tempat di sebelahnya orang Pakistan, pokoknya asal bisa omong dengan bahasa “tarzan” cukuplah. Begitu juga pak Sugeng bersebelahan dengan orang India. Saya sendiri malah bersebelahan dengan orang Gorontalo. Ketika pulang karena saking bersemangatnya bercerita tentang komunikasi dengan bahasa “tarzan” itu kami nyaris nyasar ke jurusan Misfalah. Akhirnya, sesudah sadar kami nyasar cukup jauh, kami balik lagi ke masjid, kemudian kami mengingat-ngingat lagi pintu masuk dan nomor eskalator yg kami lalui ketika masuk tadi. Eskalator Aijad no.8 pun ketemu, dan kami alhamdulillah bisa balik lagi ke maktab.

Orang Turki yang taat antri(Terminal bis Masjid Haram yang menampung bis dr Aziziah didominasi oleh 3 bendera: Merah Putih (Indonesia), Merah Putih Hitam plus panah Hijau (India), dan Diyanet (ini semacam Event Organizernya grup Turki) serta Iran. Diyanet bisnya berwarna oranye merek nya Mercides Bens, India dan Iran bisnya berwarna biru muda merek Hyuandai, sdg Indonesia berwarna hijau bisnya bermerek Yutong (China) masih baru. (Orang Indonesia & India sama-sama suka nerobos pagar antrean yang dibatasi rantai. Sementara orang Turki lebih tertib, antre. Di Aziziyah 3-4 komunitas ini memang dominan, tetapi yang paling banyak orang Istanbul. Bahkan restoran Istanbul marak di sini. Ayam panggang 14 real/ekor. Beli 1/2 ekor 7 rial. Roti buaya (bentuknya kayak buaya),rasanya tawar gurih,1 real sebiji. Roti arab yang gepeng bundar (besar/kecil), yang biasa dimakan orang Arab beramai-ramai, sebiji 1 real juga. Roti itu dimakan dengan diolesi susu keju (3rial) terasa nikmat. (Bersambung ke posting berikutnya).


About this entry