PUISI 2009 II

KUTULIS INI SEBAGAI DURI

duriKutulis ini sebagai pengingat yang abai pada nilai dalam kebarengan yang diredam di ruang tempat gumam berloncatan geram. Siapa mendekam
dalam dirimu, duri atau sekam?

Kutulis ini sebagai penanda kebangkrutan melanda ringkasan kiriman
dari ratusan kota yang kau redam dengan igauan kelam. Siapa bunyikan dentam menghatamku, kata atau suara?

Kutulis ini sebagai genggam melumat batasan kepantasan dan kepatutan
dipajang di dinding diam yang menyimpan selaksa tanda. Siapa dirimu berani memberangusku, dewi atau dewa?

Bogor – Yogya 2009

MANAKU

manakuSeorang anak muda menyorongkan dahinya dari tumpukan kata-kata yang berserakan di meja panjang sebenua. Masih adakah kalimat yang tercecer sesudah dikerubut dari segala penjuru dengan seru?
Kau temukan dirimu ketika mereka lelah mengusung berbagai cerita dan memasungnya di dinding dalam ruang mengurung siang. Masih adakah suka cita kau rangkai dari rangkuman kalimatmu yg menyodok mereka menuju sia-sia tanpa suara?

Ah, tak bisa kutemukan kata pas kalau suatu saat kau harus meramu dunia tapi hanya mau kau punya abai kata malu. Santun tertegun

Manaku? Lalu kau tancapkan dirimu di dinding itu dengan sembilumu mengiris maumu agar geliatmu menoreh dunia semu.

Bogor 2009

PERLUKAH PUISI

perlu-puisiPerlukah puisi dibaca dengan amarah tumpah menerjang saudaraku yang diterpa air bah dari gelegak serapah menendang jendela basah. Dukamu kian terbelah

Perlukah puisi dibaca berteriak memecah luka yang terhenyak berserak di antara kakimu dan lumpur tersedu padahal tangis sirna ketika kamu terbata mengeja nama

Perlukah puisi dibaca tengadah saat mendung berlindung di balik wajahmu berserah pasrah di antara tanganmu mendekap lelah

Perlukah puisi dibaca dengan mantra kehilangan makna dan mengusir kata-kata dari beranda

Perlukah puisi

Yogya 2009

 

GUMAM PENCONTRENG

pemiluSeseorang tergopoh menyodorkan kartu nama agar kucontreng mukanya yang lebam dalam bilik sempit di sebuah kebun yang melibas daun ditindih senyum beruntun para aktor kampung. Sebuah jendral yang kehilangan naga mengoceh riuh seperti perahu kehilangan sauh. Padahal ia berlabuh di sawah bukan laut

Seorang yang mengaku teman menautkan namanya pada sebuah bintang yang tak bisa kuraih apalagi kukuliti dengan pena di sebuah lembar jenaka yang memuat banyak kepala yang tak kutahu isinya apa

Yogya 2009

BULAN DAN BELATUNG

belatungKusunting bulan yang berjalan tertatih melindungi malam, angin mengatasi dingin ia bagikan selimut dan secuil mimpi untuk mengatasi sepi

Cahaya kecil melompati bebatuan dan kerontang dedaunan menitipkan pesan: hari semakin lambat melangkah melewati detik menuju jam yang membuka siang

Bulan tinggal sepotong. Orang-orang berlarian memperebutkan kepingan lain yang kosong
Padahal potongan dan kepingan saling sibuk menghitung kapan ia mulai mabuk jadi belatung

Yogya 2009

SAJAK CINTA

puisiAlangkah mudahnya menulis sajak cinta bila kata tak lagi mendera, hati riang bernyanyi
Adapun suara tak lagi bergumam ketakutan dicemburui detak jam

Alangkah ringannya menulis cinta bila tak ada awan berlindung di balik hujan menutupi bayang
Adapun hujan membanjiri kata menjadi puisi menjalin hari

Yogya 2009

 

DEBU

Sekumpulan riang bercanda di beranda tua dari kayu yang urat-uratnya melintasi celah luka debu

Sekumpulan gurau terus meracau di kebun yang pohon-pohonnya merambati hati sepi

Sekumpulan bunga sepatu tumbuh kacau di pagarku sengaja kaucumbu

Sekumpulan kata tiba-tiba raib dari kamarku menyisakan debu air matamu

Yogya 2009

 

WAJAH-WAJAH KAKU

wajah-kakuWajah-wajah kaku dipaku di pepohonan sepanjang perjalananku menatapku kelu. Adakah ia bakal menambah sampah sejarah?

Senyum-senyum itu mengulum dentum: merobek kalbu atau jadi abu. Adakah ia siap kalah dan jadi tanah?

Orang-orang bergegas abai pada harapan baru penuh sembilu. Itukah maumu?

Yogya 2009


About this entry