GUBUKe DARWIS in’ SEWON

“Ayo, ke gubukku,” ajak sahabatku yang sudah lama tinggal di jantung mode dunia, Paris. Gubuk itu, yang diperlihatkannya padaku suatu sore sehari menjelang tahun 2009, tidak terletak di luar kota Paris. Tapi di dusun Pelem sewu, Desa Karangnongko, Kecamatan Sewon, Bantul, di atas tanah seluas 725 meter persegi, sebelah kirinya dibatasi sungai dan pohon beringin tua. “Tapi air sungai itu sudah dikotori limbah,” paparnya menjawab pertanyaanku kenapa aliran air sungai itu tidak disalurkan ke kolam yang ada di depan gubuknya.

foto:srs

foto:srs

Darwis Khudori, sobat kentalku ketika sama-sama menulis puisi di era 1970an, sudah lama memimpikan sebuah gubuk yang ramah lingkungan (alam maupun social). Gubuk yang selalu terbuka untuk siapa saja, orang-orang yang selalu ingin saling bertukar gagasan, adu kreatif, bahkan mereka yang sekedar singgah menukar lelah. Gagasan itu sempat dituangkannya di era 1980an di sebuah tanah di pinggir jalan ring road utara Yogya seluas 400 meter persegi. Gubuk yang didesain unik dan estetik itu akhirnya digusur untuk kepentingan pembangunan sebuah universitas swasta. Ia mengalah. Dan diberi ganti rugi yang kemudian dibelikan sebidang tanah sawah di Bantul itu. “Kala itu harganya masih Rp 20 ribu/meter persegi,” kenang Direktur Program Magister Hubungan Internasional tentang Perdagangan Asia di Universitas Le Havre, Paris itu.

Dok: DK

Dok: DK

Gubuknya kali inipun unik. Ia memakai keramik putih sebagai atap. Warna putih dipilih agar tidak menyerap panas. Usuk dan reng pun besi bukan kayu. Mengapa? Silakan buka www.worldchanging. com/archives/000587.html “Saya sengaja memilih besi, dan meniadakan kayu. Karena meski lebih mahal tetapi lebih tahan lama, tidak mudah lapuk,” tutur arsitek lulusan UGM (1984) dan doktor lulusan Universitas Sorbonne Paris (1999) yang sejak 1995 mengajar di Universitas Le Havre. “Juga penggunaan kayu hanya akan menghabiskan hutan.” Keramik-keramik putih ditautkan masing-masing dengan sebuat mur dengan besi yang berfungsi sebagai reng. Dinding rumahnya separuh dibuat dari precast (cor-coran semen setebal 3 cm) dan sebagain lain memakai gerabah dan dipadukan dengan jendela kaca. Gerabahnya dibuat di Kasongan, pusat pembuatan gerabah di Bantul, yang bersebelah desa dengan lokasi gubuknya. Yang disebut gubuk adalah bangunan 3 lantai, masing-masing lantai seluas 3×6 meter. Lantai di bawah akan dimanfaatkan untuk kegiatan berkesenian, antara lain tempat para Sepi (Seniman Pinggiran yang terdiri dari petani, buruh, anak jalanan) berkarya. Di area sayap kanan untuk tempat pameran senirupa, di sayap kiri bakal digunakan untuk para sahabat, tetamu, yang akan mengasah ketrampilan berkuliner-ria. Sedang di halaman depan, kolam yang semula akan dimanfaatkan untuk kolam ikan diganti jadi kolam renang. “Karena ternyata air tanah yang menjadi mata air kecil di kolam ini tak cocok untuk budidaya ikan,” tutur inisiator dan koordinator jaringan Semangat Bandung yang memopromosikan gerakan masyarakat sipil berdasar semangat Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Lantai tengah direncanakan untuk kantor dan lantai atas untuk kamar, kamar mandi dan dapur. Dari kamarnya pemandangan ke arah belakang adalah hamparan sawah yang ditengahnya ada semacam gubuk terbuka tempat petani istirah.

Dok:DK

Dok:DK

Lalu ada orang-orangan yang bila ditarik melalui tali dari gubuk terbuka itu bergerak-gerak mengusir burung yang mengganggu padi. Beberapa teman yang ikut diajak menyambangi gubuknya itu sempat menaksir biaya yang sudah dikeluarkan Darwis, “Menurut perhitungan saya biayanya sudah di atas 1 milyar rupiah, karena besi kan sekarang mahal,” ujar Yosi, mantan aktivis Yayasan Pondok Rakyat (yang didirikan oleh Darwis dkk, para arsitek muda yang pernah belajar bersama Romo Mangun). “Sudah habis berapa mas Darwis?,” tanya Endah Setyawati, salah satu pendiri YPR pula. “Sekitar seratus lima puluh juta rupiah, sudah termasuk tukang dan bahan,” papar Darwis, pria kelahiran Kotagede, Yogyakarta, yang bersama Romo Mangunwijaya berhasil membangun Kampung Ledok Gondolayu (lebih popular sebagai Kali Code). Darwis berencana pada 6 Mei 2009, pas di hari ulang tahun Romo Mangunwijaya ke 80, ia akan menggelar berbagai acara di gubuknya. Juga menandai awal kegiatan peringatan ke 55 Konferensi Asia Afrika (55 Bandung 55) di Yogyakarta. “Wah, gubuk ini pantasnya kita namai Ndalem Khudoran,” cetus Endah. Ini mengacu kepada kebiasaan warga keraton Yogya berumah., misal nDalem Tejokusuman artinya rumah mili Tejokusumo. Lo, kang Darwis bukan kerabat kraton. “Ya, tapi kan berasal dari nenek moyang dinasti Mataram., Panembahan Senopati,” celetuk saya. Siapa tahu Darwis juga berdarah Mataram. Beruntung malamnya ia berhasil saya bujuk untuk menginap barang semalam di gubuk saya nun jauh di desa yang sepi. Sekitar 4 tahun lalu ketika mudik ke Yogya, ia juga sempat menginap di salah satu kamar gubuk saya. Cuma, ada sedikit perubahan, di setiap dinding kamar itu saya saya gantungi beberapa foto cucuku. Semoga berkah yang melumurinya juga menyiprati cucuku. Amin.


About this entry