KETEMU GUSTI RATU

 

Diajeng terbata mengungkapkan kata hatinya. Gusti Ratu menggeser maju sedikit posisi duduknya. “Sebagai rakyat kecil saya bahagia bertemu langsung Gusti Ratu. Sebagai single parent yang tertular HIV dari suami, saya ingin, melalui Gusti, mengingatkan para ibu rumah tangga bahwa mereka juga rawan tertular HIV”. Gusti Ratu langsung menjawab: “Saya minta kamu ketemu dengan ibu-ibu PKK, saya akan mendampingimu. Kamu bersedia?” Diajeng mengangguk dan menjawab: Ya. Selain Diajeng, dalam forum audiensi dengan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Selasa sore (9/12), di Kraton Kilen, juga dihadiri sekitar 35 orang pegiat peduli AIDS se DIY.

Acara yg berasal dari aspirasi kelompok dukungan sebaya yang terinfeksi HIV ini difasilitasi oleh Komisi Penanggulangan AIDS Prov.DIY, berlangsung mulai pukul 15.45 hingga berakhir 16.40 WIB. Istri Sultan HB X, yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah ini menanggapi dengan antusias semua unek-unek para pegiat. Ia berharap, untuk menghapus stigma, orang yang terinfeksi HIV harus tampil di masyarakat. Ia menceritakan. sebagai contoh, kalau orang terkena kanker bila ditanya sakit apa, akan menjawab bersuara keras. Beda bila terkena TB orang akan menjawab berbisik. Takut kalau banyak orang dengar. Dan malu kalau orang-orang tahu bahwa temannya, saudara atau keluarganya terkena penyakit itu. Padahal seharusnya tak perlu malu. Itu juga yang terjadi bila ada orang terinfeksi HIV, kata Hemas. Ini sesuai slogan yang dikemas KPA DIY di Hari AIDS 2008: AIDS Bukan AIB!

 

Foto-foto: Victory Plus

Foto-foto: Victory Plus

Nah, tatkala GKR Hemas menyatakan bahwa Dinas Kesehatan hanya mendata saja, maka dr.Akhmad, mewakili Dinkes Prov.DIY, pun menjelaskan secara rinci apa yg sudah dilakukan dinkes dalam menanggulangi AIDS. Intinya, selama ini sebagian besar dana yang digunakan untuk pencegahan HIV dan AIDS di DIY berasal dair dinas kesehatan. Padahal dalam Komisi Penanggulangan AIDS ada berbagai dinas yang terlibat. “Selama ini dana utk penanggulangan (pemeriksaan & tes sukarela/VCT, dukungan perawatan & pengobatan/CST) dibantu Global Fund. Padahal bantuan dana ini hanya sampai tahun 2010. Bagaimana sesudah tahun itu? Apakah PAD (pendapatan asli daerah) Prov.DIY yang kecil bisa mendanai upaya penanggulangan AIDS ini? Tercatat dana GF yang sudah digulirkan ke DIY selama ini sebesar Rp 4,5 miliar. Bahkan untuk melakukan surveilans sentinel (survei untuk mengetahui kasus pada populasi tertentu dalam masa tertentu, biasanya dilakukan setahun sekali) untuk tahun 2008 dana dari APBN/APBD tak ada dan terpaksa meminjam dana GF.

 

Berbagai permasalahan di lapangan disampikan para pegiat. Mulai dari stock obat ARV (anti retro viral), obat yang harus diminum orang terinfeksi HIV selama hidup,  yang kritis sampai kepada pengalaman ibu yang terinfeksi HIV dalam melahirkan bayinya di rumah sakit namun sang anak tak tertolong jiwanya. “Mohon program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayinya diperkuat di rumah sakit, agar kasus saya tak terulang lagi,” ujar Citra.

Di penghujung pertemuan GKR Hemas meminta, “Jangan segan ajaklah saya untuk membahas masalah ini bersama kalian. Masak penanganan AIDS di Papua saja saya dilibatkan, kok di daerah yang saya wakili malah saya tak tahu banyak.”


About this entry