Bergelut dengan cucu

 

Foto:Yangkung

Foto:Yangkung

Tak mudah memotretnya untuk bergaya. Apalagi untuk beraksi dalam tempo lama agar bisa berpose bak model. Ia selalu aktif bergerak, kecuali tidur tentunya. Bahkan berjalan pun sembari lari. Usianya 20 bulan, beratnya 13 kg. Siapa sangka tatkala lahir beratnya di bawah standar 2,3 kg. Itulah Ataya Naveen Izzan.


Ia selalu mengisi hari-hari akhir pekanku. Datang Sabtu sore pulang Minggu malam. Ia tinggal bersama ayah-ibunya di Klaten, sekitar 50 km dari tempatku tinggal, Wates. Kata istriku, menjadi Yangti (sebutan untuk Eyang Putri) adalah kebahagian yang tak terperi. Ia memanggilku Yangtung (dari kata Eyang Kakung) bila mau mengajakku bermain game (MotoGP, balap mobil atawa Spiderman). Di depan komputer ia tak mau duduk dipangku. Ia harus duduk sendiri, dan saya duduk di sisinya, sekalian menjaga agar jari-jarinya tetap di joystick. Kalau lengah jari-jari kecilnya itu langsung memencet-mencet berbagai tombol di keyboard, dan komputer pun hang. Nah.

Setiap saban akhir pekan itu saya mencatat berapa ia menambah perbendaharaan katanya. Suatu hari ia mengarahkan pistol mainannya sembari berucap,”Dop degan, dop degan.” Beberapa saat saya menebak apa yang ia katakan. Barulah saya ngeh ketika ibunya bilang, itu maksudnya Drop the gun. Ia menirukan kata-kata robotnya. Oalah!

 

Foto: Yangkung

Foto: Yangkung

Kami, saya dan istri, mencatat hal-hal penting yang dialami cucuku. Pertama, ia mudah merespon suara musik melalui gesture tubuh kecilnya. Padahal ibunya dulu seusianya bahkan sampai kini tak bisa menyanyi. Kedua, penciuman dan daya ingatnya tajam. Setiap ada aroma yang menganggu penciumannya ia langsung berucap: bau! Sekaligus tangannya menutup kedua lubang hidungnya. Lokasi tertentu yang ia sukai, pasti diingat arah jalannya (meski masih berjarak 100-200 meter).

 

Puji syukur. Saya belajar banyak darinya. Persis kayak kuliah S2 yang dipadatkan pada dua hari akhir pekan, Sabtu dan Minggu.


About this entry